Gotong Royong Ciri Budaya Bangsa itu Masih Ada

Gotong Royong

Gotong royong sebagai salah satu ciri khas sekaligus budaya bangsa Indonesia,  sejak duduk di bangku SD mengenai hal ini terasa sangat  akrab karena seringnya dibahas dalam mata pelajaran PMP atau IPS.

Masih kenal mata pelajaran PMP? Pendidikan Moral Pancasila. Yang seiring waktu mengalami perubahan dan berganti menjadi PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), kemudian berubah lagi menjadi PKN (Pendidikan Kewarganegaraan).

Gotong Royong Bagian dari Nilai Pancasila

Pada pelajaran PMP para siswa diajak untuk mengenal dan memahami butir-butir Pancasila untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pun dengan PPKN, masih memuat tentang nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, kerukunan antar umat beragama, toleransi serta tenggang rasa, dan sebagainya.

Belakangan mencuat topik tentang rencana Kemendikbud untuk mengembalikan mapel PMP dalam kurikulum, dengan tujuan untuk kembali menanamkan dan menguatkan nilai-nilai Pancasila yang dirasa semakin luntur.

hamparan-sawah-hijau-di sukoharjo
Kilau senja di atas hamparan sawah hijau

Namun tulisan saya kali ini bukan untuk membahas tentang perubahan mapel ini. Saya sekedar ingin berbagi tentang pengalaman tahun lalu saat kembali ke berkunjung ke Kabupaten Sukoharjo yang sudah sangat lama saya rindukan.

Suasana desa dengan pemandangan hijaunya hamparan sawah di tepi-tepi jalan serta keramahan warganya selalu berkesan dan meninggalkan kenangan yang indah.

Gotong Royong yang Mulai Luntur

Gotong royong sebagai salah satu ciri khas bangsa, saat saya masih duduk di bangku SD tepatnya tahun 80an, materi ini saya amini. Masa ketika kehidupan bertetangga masih sangat erat, dan bukti nyata gotong royong sebagai ciri khas bangsa nyata sebagai realita yang ada di depan mata terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari kegiatan saat salah satu tetangga ada yang memiliki hajatan, maka keluarga dan tetangga sekitarnya akan hadir membantu acara persiapan, begitupun ketika ada yang berduka.

Kegiatan kerja bakti pun kerap dilakukan, saat dimana kaum bapak berkumpul dan bekerjasama dalam membersihkan ataupun memperbaiki salah satu fasilitas umum, sedangkan kaum ibu akan menyediakan minuman dan makanan kecil, atau setelah selesai kerja bakti diakhiri dengan acara makan bersama.

Saat malam hari, kaum bapak secara bergiliran mendapat tugas ronda, untuk menjaga keamanan kampung. Dari kegiatan-kegiatan semacam itu, otomatis rasa persatuan terpupuk sehingga kerukunan antar tetangga terjalin harmonis.

Namun seiring waktu, terutama di wilayah perkotaan kita melihat bahwa budaya gotong royong dan kebersamaan ini kian luntur.

Sifat individualisme semakin berkembang dan dianut oleh orang-orang. Kebebasan dan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Perkembangan teknologi dan kesejahteraan ekonomi yang masih sulit dijangkau dituding berperan sebagai penyebab semakin suburnya sifat individu, selain budaya kepraktisan yang makin dicintai.

Gotong Royong Masih Sangat Kental di Blimbing, Gatak, Sukoharjo

Namun pemandangan yang saya dapati saat jelang pernikahan adik sepupu di desa Blimbing, kecamatan Gatak, Sukoharjo tempat Bulik saya tinggal, sungguh sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan. Budaya dan ciri khas bangsa Indonesia itu masih sangat kental di sana.

Suasana gotong royong di halaman belakang

Saya yang tiba dini hari pada hari Sabtu, baru kemudian istirahat tidur setelah menunaikan shalat subuh. Pagi-pagi saya terbangun oleh suara ramai dari luar kamar. Saya pun bergegas untuk bangkit, dan saat ke luar kamar di sekeliling rumah saya mendapati ada sangat banyak orang yang belum saya kenal tengah sibuk bekerja.

Para lelaki nampak di teras dan halaman depan rumah sedang memasang tenda, menghias, dan berbagai persiapan lainnya yang lebih membutuhkan tenaga. Sedangkan di belakang rumah kaum wanita sedang sibuk memasak. Di dalam rumah sebagian ibu dan para gadis sedang menyiapkan wadah-wadah dan menata kue-kue.

Si Mbah yang Tidak Terkontaminasi Virus Selfie

Saya segera bergabung dengan para ibu di halaman belakang, ikut melarutkan diri dalam suasana keakraban mereka meskipun saat berkomunikasi dengan yang sepuh agak terkendala bahasa. Setiap orang khusyuk melakukan tugasnya dengan sangat cekatan. Koordinasi terjalin harmonis, dalam suasana keakraban yang terasa hangat.

Upaya menebar virus swafoto. Hihihi…

Banyak dari mereka datang dengan membawa berbagai bahan makanan baik membeli maupun dari hasil tani sendiri sebagai bentuk partisipasi, selain tenaga. Maka stok bahan makanan pun menumpuk di dapur. Dan saya takjub kembali menyaksikan adegan seperti ini secara nyata. Bahagia sekali, ternyata gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa kita masih terpelihara di sebagian wilayah.

Yang membuat saya terharu, saat melihat seorang kakek berusia lebih dari  80 tahun tak mau ketinggalan turut membantu dengan beberapa kali membawakan kayu bakar di bahunya yang sudah renta dengan wajah sumringah.

Luar biasa, apa yang dilakukannya saat itu menggambarkan semangat gotong royong yang sudah tertanam begitu kuat di dalam dirinya. Sayang saya tidak sempat mengambil foto beliau karena tengah sibuk menggoreng ikan saat itu.

Kebahagiaan Mewarnai Suasana Pernikahan

Sehari sebelum akad nikah berlangsung, calon mempelai wanita berziarah bersama orang tua ke makam para leluhur. Dan pada malam harinya rombongan pihak keluarga calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai wanita. Silaturahim antar keluarga ini juga melibatkan aparat dari masing-masing desa calon mempelai, dan dihadiri oleh para tetangga. Kemudian acara pun ditutup dengan hiburan. Pemandangan kembali dihiasi suasana penuh keakraban dan kebahagiaan.

Keesokan harinya, tentu menjadi hari yang paling dinanti-nanti oleh sepasang anak manusia yang akan segera membuka lembaran baru dalam hidupnya. Sejak subuh keluarga sudah bersiap. Tim perias tiba untuk melakukan tugasnya.

Setelah semua keluarga inti dan pagar ayu selesai make over, dan memakai busana yang telah dipersiapkan, kami pun berangkat menuju gedung tempat pesta berlangsung, untuk mengikuti prosesi pernikahan adik sepupu yang berlangsung dengan khidmat.

Senyum bahagia menghiasi wajah pengantin dan seluruh keluarga. Alhamdulillah sejak hari itu adik sepupu dan tambatan hatinya yang sudah bertahun-tahun menjalin LDR Indonesia – Jepang akhirnya resmi berstatus pasangan halal. Sayangnya foto pengantin pun sudah raib dari hape saya sehingga tidak bisa terposting. Huhuhu…

 

Bersama Pakle, Bule, para teteh, dan para ponakan.
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
54 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Yuni siti nuraeni
11 Feb 2019 14:20

Gotong royong di lingkungan rumah sy msh ditaraf sedang lah, klo ad kerja bakti, bpk2 msh ttp ikut, biarpun jumlah gak bgtu byk,dan emak2 nya pun semngat menyiapkan maknnn.

Steffi Budi Fauziah
11 Feb 2019 15:44

di rumah mah kebanyakan lingkungan orang jawa, jadi gotong royong begini masih kental walaupun di jakarta hehe. Alhamdulillah, tetangganya juga dari saya kecil imut-imut sampai skrg juga masih imut2 wkwk. Jadi, enggak ilang2 banget sih, semoga anak2nya kek saya bisa melanjutnya, hehe. Aamiin

Lithaetr
Lithaetr
11 Feb 2019 15:49

Di tempat saya karena masih kebanyakan orang Betawi dan kental kekerabatannya jadinya masih terasa gotong royong nya. Cuma kalau udah nutup jalan buat panggungnya duh agak seenaknya 😅

weedee
11 Feb 2019 20:59

kalau di daerah masih kental adat rewang… tapi kalau dikota…tetap rewang tapi dibayar…

Siti Nur Maftuhah
11 Feb 2019 22:22

Sayang di kota budaya ini.sudah tidak.berlaku. padahal suanana kekeluargaan terasa jika ada gotong royiong.

sari effendi
11 Feb 2019 23:41

sekarang rewang di tempatku sebagian sudah tak gotong royong lagi tapi sudah berbayar..

Damar Aisyah
12 Feb 2019 11:09

Kalau di kampung umumnya sih masih jalan gotong royong kayak gini. Kalau di Jakarta mah,bisa setahun sekali saja sudah top abis. Orang sini mah yg penting punya duit buat bayar jasa orang lain. Hadeh.

Dian Restu Agustina
12 Feb 2019 13:37

Kalau di kampungku, Kediri masih jalan tapi enggak seramai ini. Cuma kerabat dan tetangga dekat saja. Lainnya tenaga yang dibayar.
Lain saat tahun lalu datang ke Lumajang, rumah Paklikku yang hajatan. Mayoritas dari suku Madura. Dan mereka, se RT tumplek blek bantu hajatannya..Sampai kagum akutuuu

Bety Kristianto
12 Feb 2019 14:00

Di trmpatku kadang juga masih guyub kayak gini mba.tapi kadang juga ada yang prefer pake jasa katering untuk acara hajatan.

Tatiek Purwanti
12 Feb 2019 15:12

Wah, jadi kangen Sukoharjo. Soalnya rumah mertua di Kecamatan Mojolaban, Mbak. Kurang tau sih jauh apa gak dari Gatak ini.
Iyes, suasana gotong royong di sana masih kental banget. Pas lebaran kemarin ada reuni keluarga besar di rumah Bumer. Biyuh, suasananya seperti hajatan nikah :)
Masakan ya buanyak plus persiapan ini itu. Ga pake bayar orang karena tetanggaan sekitarnya ikut bantuin juga.
Emang beda sih dg tempat saya yg walopun bukan kota banget tapi suasana gotong royong udah mulai pudar. Hiks

dewi apriliana
12 Feb 2019 15:23

Seneng ya mbak kalau lihat kebersamaan seperti itu. Sayang di tempat saya acara semacam nikahan sudah sering pakai EO atau katering

Qoty Intan Zulnida
12 Feb 2019 16:42

Betul banget, mbak. Disini udah jarang banget kayak gitu, udah mulai terkikis. Beberapa bulan lalu tetangga yang tinggal di komplek sebelah sewaktu hajatan agak kesulitan mmengumpulkan tenaga untuk membantu, yg datang membantu ‘rewang’ hanya 2-3 orang, Sehingga yang punya hajat kecapekan abis insya malamnya udah tepar. Masya Allah. Kalo di demak sih masih asri tradisi rewang begini. Alhamdulillah

Sunarti kacaribu
12 Feb 2019 17:26

Di tempat saya tinggalpun masih jalan bun gotong rouong, sebulan sekali kerja bakti, kalo ronda malam udah bayar satpam aja 😊😊

Juli Dwi Susanti
12 Feb 2019 18:16

Seharusnya gotong royong saat ini lebih enak ya teeeh lebih terhubung tapi kenapa semakin jauh di sini terasa ya mbak

Erin
Erin
12 Feb 2019 19:29

Dkampungku masih berjalan mba gotong royong saat hajatan. Walau zaman semakin maju, saat ada hajatan berbondong2 membantu. Waktu nikahan aku saja yang datang membantu 100 orang lebih. Seru dan momen yang tidak akan pernah terlupakan. Budaya tersebut juga terus diturunkan ke anak-cucu.

Diah
12 Feb 2019 20:10

Alhamdulillah ya Mbak, masih bisa lihat suasana gotong royong seperti ini. Disini juga sih biasanya masih ada gotong royong kalau pas ada hajatan besar seperti ini, yg pastinya suasananya tidak seramai jaman puluhan tahun lalu. Tapi setidaknya masih adalah rasa kebersamaan itu.

Eni Rahayu
12 Feb 2019 20:56

Salut deh ya kalau di desa itu gotong royongnya masih kuat banget, di desa saya juga gitu. nah kalau di kota mah sudah harus bayar tetangga kalau mau dibantuin hehe

Alia Arifin
Alia Arifin
13 Feb 2019 07:20

Klo ditempat saya,, klo ada acara apapun pasti pada bantu semua,, kerja bakti juga masih biasa dilakukan 😁

Ica Nafisah
13 Feb 2019 11:07

Hidup di perumahan gotong royongnya kurang huhuhu

Erny Kusumawaty
13 Feb 2019 13:33

Ditempat tinggalku msh kental gotong royong dan guyup mb. Klu ada yg punya hajat yg saling membantu. Gitu deh…

Nanik Kristiyaningsih
13 Feb 2019 13:47

Iya mbak, eman banget kalau budaya gotong royong jadi hilang.
Apalagi diganti dengan event2 organising acara.
Apa2 berbayar, ehh

Nila sarvani
Nila sarvani
13 Feb 2019 15:17

Di tempat saya juga masih ada kegatan gotong royong mbak, mudah-mudahan terus di pertahankan

innaistantina
13 Feb 2019 15:25

ekspresi si Mbah yang diajak foto ituuuu malah bikin gemesss, xixiiiii

Muthmainnah nasaru
Muthmainnah nasaru
13 Feb 2019 19:15

Di tempat saya Alhamdulillah masih kental juga gotong royongnya…
Mau hajatan kecil aja udah kayak mau pesta saking banyaknya orang yg mau membantu tuan rumah. Alhamdulillah

Nadella
13 Feb 2019 20:07

Sekarang gotong royongnya beripindah dari sesama tetangga ke sesama orang yg kerja di katering ya mbak he he

Dyah
Dyah
13 Feb 2019 20:34

Kalo di daerah masih ada kegotongroyongan. Sejak tinggal di Malang masih terasa. Tetapi di kota besar Jakarta sy lihat nggk ada huhu

Hastin Pratiwi
13 Feb 2019 21:13

Di Yogya juga masih ada yg beginian mbak, saling bantu saat hajatan

You May Also Like