Membaca, Menulis, dan Bertutur

membaca, menulis, dan bertutur
‘Verba volant, scipta manent’ kurang lebih bermakna seperti ini, ‘Apa yang diucapkan akan lenyap. Apa yang tertulis akan abadi.

Membaca dapat melahirkan masyarakat yang cerdas, namun disayangkan kegiatan membaca belum menjadi budaya dalam masyarakat kita. Mengenai rendahnya minat baca di negara kita kerap menjadi topik diskusi dalam beberapa grup kepenulisan yang saya ikuti.

Terlebih setelah data study ‘Most Littered Nation in the World’ yang dirilis Central Connecticut State University tahun lalu menunjukkan Indonesia hanya menempati posisi ke dua, sayangnya bukan ke dua dari atas, namun sebaliknya. Dari 61 negara Indonesia berada di urutan ke 60 saja.

literacy rankings

Dalam sharing di salah satu grup menulis, ODOP, Aa Gilang (begitu kami memanggilnya) penulis buku ‘Menuntaskan Rindu’ yang saat itu menjadi pemateri, menyampaikan bahwa salah satu penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia adalah budaya tutur yang sudah mengakar sejak ratusan tahun.

membaca menuntaskan rindu

Warisan budaya Indonesia, memang lebih mengenalkan budaya tutur, atau bercerita, daripada membaca dalam penyampaian informasi. Ditambah lagi dengan derasnya serbuan teknologi yang menyuguhkan hiburan maupun berita secara audio visual yang semakin memudahkan sekaligus menjauhkan masyarakat kita dari budaya membaca.

Salah satu contoh kasus malasnya masyarakat membaca informasi dengan lengkap, sering  kita temui dalam postingan berupa tautan artikel atau berita di media sosial, sehingga yang akan muncul hanyalah judul dan sedikit petikan dari keseluruhan isi artikel atau berita tersebut. Tentu saja biasanya judul maupun petikan tersebut dibuat bombastis demi menarik perhatian pembaca, sehingga tidak jarang antara judul dan isi artikel atau berita menjadi tidak nyambung.

Maka pada bagian komentar akan tampak dua tipe komentator. Tipe yang pertama adalah komentator yang membaca berita atau artikelnya terlebih dahulu pada tautan sebelum memberikan komentar atau tanggapan.

Tipe yang ke dua adalah mereka yang berkomentar atau memberikan tanggapan hanya berdasarkan judul dan petikan singkatnya saja, maka tak heran jika respon yang diberikan oleh tipe ke dua ini menjadi tidak nyambung atau tak kalah provokatif dengan judulnya. Tentu saja karena tanggapan yang diberikan hanya berdasarkan informasi minim yang didapat dari judul dan petikan beritanya saja. Mereka senang turut memberikan komentar tanpa merasa perlu untuk menyimak terlebih dahulu keselurahan informasinya, dan hal seperti ini sangat sering kita temui, bukan?

Minat baca memang tidak akan tumbuh begitu saja, hal ini berawal dari suatu kebiasaan. Keluarga adalah lingkungan terkecil dan pertama yang akan memberikan pengaruh besar pada pembentukan kebiasaan seseorang, termasuk dalam hal budaya membaca. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita sebagai orang tua memberikan teladan dan mulai mengenalkan budaya baca pada anak-anak sejak dini.

membaca sejak dini

Dengan membaca seseorang akan bertambah wawasannya, aktifitas ini juga mampu merangsang kemampuan berpikir dan berimajinasi, meningkatkan kreatifitas, menambah kosa kata baru sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara.

Budaya tutur yang sudah melekat di masyarakat kita perlu diimbangi dengan budaya membaca dan menulis. Budaya tutur itu bagus karena dapat mempererat silaturahmi selain memungkinkan terbukanya diskusi atau komunikasi dua arah. Namun sayangnya, penyebaran informasi jika hanya melalui budaya tutur mudah menjadi bias, bahkan berubah atau menyimpang sama sekali dari yang sebenarnya, karena budaya tutur sangat rentan dipengaruhi oleh subjektifitas sang penutur.

Seperti sebuah ungkapan peribahasa latin kuno yang sudah cukup akrab didengar dalam dunia kepenulisan yaitu, ‘Verba volant, scipta manent’ kurang lebih bermakna seperti ini, ‘Apa yang diucapkan akan lenyap. Apa yang tertulis akan abadi.’ 

Dalam membaca diperlukan juga kemampuan untuk memahami, menyaring dan menggunakan informasi secara bijak. Membaca juga dapat diartikan lebih luas, bukan hanya sekedar membaca lambang aksara, tapi juga mampu membaca keadaan di sekitar kita, tentang apa yang terjadi.

Membaca dan menulis adalah bagian dari literasi, namun literasi tak cukup hanya menggunakan mata, tangan, serta kepala untuk berpikir. Ada hati yang perlu dilibatkan, ada nurani yang harus diikutsertakan. Literasi membutuhkan kepekaan hati dan seluruh indera untuk membaca, kemudian menuangkannya dalam rangkaian aksara sebagai cara menyampaikan pesannya kepada dunia.

“Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik
#BloggerMuslimahIndonesia

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
60 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Novarina DW
19 Sep 2017 08:45

Budaya membaca memang seharusnya dibiasakan sejak dini ya mbak Ane :)

Muhamad Septian Wijaya
19 Sep 2017 10:02

keren nih hehehe

Novia Syahidah Rais
19 Sep 2017 12:06

Nah tipe pembaca judul ini cukup terlihat ya Mbak Ane, saat memberikan komentar. Saya juga beberapa kali menemukan komentar yang ketauan gak baca isinya, cuma baca judul doang. Asal cepat aja hehehe

Iput
Iput
19 Sep 2017 13:34

Semoga bisa naekin minat baca *selfreminder sih ahahahah

denik
denik
19 Sep 2017 16:50

Setuju Mba…apa yang ditulis akan abadi. Yuuk…semangat menulis.

dianravi82
dianravi82
19 Sep 2017 18:11

Paling sedih ketika sekarang lebih senang membaca judul saja seolah sudah bisa menyimpulkan isi tulisan. Padahal judul-judul sekarang ini penuh dengan click bait yang terkadang jauh dari isi tulisannya.
Semoga semakin banyak masyarakat kita yang sadar pentingnya untuk membaca secara menyeluruh sebelum menjudge isi tulisan tersebut.

Dian Restu Agustina
19 Sep 2017 20:06

Baca informasi aja malas, apalagi baca buku ya, Mbak…Sampai geli sendiri, kalau ada info di iklan olshop, sudah dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi…eh di kolom komentar masih nanya lagi..hadehh.
Btw, saya suka kesimpulan terakhirnya”literasi butuh kepekaan hati dan seluruh indra ungtuk membaca untuk dituangkan ke dalam aksara sebaga cara menyampaikan pesan pada dunia…!”
Good point!..Thanks:)

Muns Fadh
20 Sep 2017 07:55

Minat baca di Indonesia peringkatnya dibawah Malaysia, perlu ditingkatkan neh agar tidak tertinggal jauh. Dan itu jadi Peer kita semua

Eva Arlini
20 Sep 2017 20:28

ending tulisannya mantap :)

Nia Hanie
21 Sep 2017 15:19

Saya termasuk lemah dalam bertutur, makanya saya alihkan kelemahan itu kepada membaca dan menulis ^^

Tatiek Purwanti
22 Sep 2017 14:57

Apa yang diucapkan akan lenyap, apa yang ditulis akan abadi.
Membayangkan misal Alquran dulu hanya ‘dipelihara’ dengan budaya tutur, bisa jadi yang sampai pada muslim hari ini akan bermacam ragam. Alhamdulillah, ia terpelihara dengan dituliskan. Tentunya dengan penjagaan Allah juga.
So, yang dituliskan mbak Ane tentang budaya tutur yang harus diimbangi budaya baca tulis memang benar adanya.
Tulisan yang mencerahkan, Mbak. Terima kasih ^^

haeriah syamsuddin
24 Sep 2017 07:24

Wah, baru tahu kalau salah satu penyebab rendahnya minat baca adalah budaya tutur. Pantesan, kebanyakan, kebanyakan loh ya bukan semuanya, kutu buku itu orangnya pendiam. *CMIW.

siwilih
24 Sep 2017 20:45

Aku suka endingnya mbak, literasi emang harus melibatkan kepekaan hati dan semua indera untuk membaca.

Sri Al Hidayati
25 Sep 2017 13:32

apa yang diucap akan lenyap, apa yang ditulis akan mengabadi.. sukaaa…

yurmawita
25 Sep 2017 15:03

kalau mamah dan ayahnya gemar membaca pasti anak-anak akan ketularan deh.

Anis khoir
26 Sep 2017 13:46

Budaya bertutur yang telah mengakar, bahkan ada yg hanya bertutur tapi gak ada maknanya.

Novianti Islahiah
29 Sep 2017 12:29

Iya mba, sering ya kita lihat di fb terutama yang sharing satu artikel, kemudian para komentator yang maaf mungkin banyaknya hanya membaca judul menangkap makna yang lain dari artikel tersebut sehingga kadang ga nyambung sama isi artikel tersebut :)

Cha Hakim
29 Sep 2017 13:21

Closingnya cantik. Suka bgtz tulisannya

Cha Hakim
29 Sep 2017 13:25

Closingnya cantik. Suka tulisannya. Kereeen

Ipeh Alena
29 Sep 2017 18:51

Saya jadi teringat dengan nasihatnya Uda Ivan Lanin agar tidak terkecoh dengan berita yg memiliki judul click bait. Karena ternyata sering berisi hal yang tidak valid dan menjadikan masyarakat kita semakin malas membaca dan mencari tahu faktanya ya, mbak

Sinta
Sinta
29 Sep 2017 20:21

Komentator nggak nyambung itu emang ngeselin ya Mbak, hehe… Tapi ngeliat fenomena itu, kita ambil hikmahnya aja. Minimal sebagai blogger/content writer kita jadi lebih hati-hati kalo bikin judul tulisan. Yah, meminimalisir salah paham akibat rendahnya kesadaran membaca secara tuntas itu… :lol:

Damar Aisyah
30 Sep 2017 14:14

Waduh, budaya tutur, nih, gawat banget. hehehe… soalnya saya dan anak-anak hobi ngobrol banget. Tapi kalau pas gak lagi baca, sih. Heheh TFS, Mbak.

Arina “Salsabiila” Mabruroh

Saya merasakan sekali betapa menurunnya aktivitas membaca saya. hiks. Ahamdulillah berkat tema postem perdana ini jadi makin semngat untuk kembali membaca, sedikit demi sedikit.
Semoga istiqomah, Mba.. :)

helenamantra
helenamantra
30 Sep 2017 22:16

Nah aku geregetan dengan tipe berita saat ini yang mementingkan viral. Judul heboh, isinya gitu doang. Bahkan cenderung diulang-ulang atau di-repost dari satu sumber yang belum jelas juga.

Endah Widowati
30 Sep 2017 23:18

Apa yang tertulis akan abadi.
Setuju sekali mba.

dewie dean
dewie dean
01 Oct 2017 00:49

Kerenn syekaliii tulisan ini. Aku padamu, teh

Lulu Khodijah
01 Oct 2017 16:22

Lebih sering menemukan komen provokatif di sosmed, gara2 kurangnya minat membaca juga ya mba? :(

Rina Susanti
05 Oct 2017 23:00

Banyak baca harusnya makin bijak ya…

Dee Rahma
21 Dec 2017 15:02

Baca media online juga pilih juga reputasinya biar gak emosi jiwa pas diklik baca judul sama konten gak nyambung :D

Cheers,
Dee – heydeerahma.com

novyaekawati
novyaekawati
26 Jul 2019 14:37

aku senang membaca buku terutama fiksi mbak, tapi sayangnya semangat membacanya tuh naik turun. Akhirnya ketika akan mengajak anak-anak ku membaca, ya cukup sulit juga hiks

Teropong
Teropong
18 Jan 2020 10:27

Finlandia padahal sistem pendidikannya gak seketat seperti di Indonesia tapi murid disana dibiarkan berekspresi sejak dini. Mungkin itu ya yang membuat Finlandia lebih maju pendidikannya.

You May Also Like
bangku siluman
Read More

Bangku Siluman

Memang sudah bukan rahasia lagi, jika dari tahun ke tahun pasca PPDB akan marak bisnis bangku siluman di sekolah-sekolah, tawar menawar pun terjadi, sampai harga 'sekian' disepakati.