Membudayakan Sensor Mandiri Sejak Dini

budaya sensor mandiri

Saat ini banyak kita saksikan berita-berita yang menghiasi berbagai media dan cukup membuat bergidik, serta geleng-geleng kepala. Beragam tindakan kriminal maupun asusila seolah sudah menjadi warna yang jamak turut meramaikan berita di media massa. Pelakunya sendiri berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai usia, mulai dari dewasa, remaja, bahkan hingga anak-anak yang menurut pandangan kita sangat mustahil mampu menjadi pelaku perbuatan tercela tersebut.

Kemudian masyarakat beramai-ramai menuding bahwa semua ini merupakan dampak dari derasnya arus informasi maupun hiburan di era teknologi saat ini, yang begitu mudah diakses oleh siapa pun tanpa filter. Tidak seperti jaman dulu, ketika hiburan audio visual masih sangat terbatas  dan saluran televisi pun hanya TVRI satu-satunya, dengan jam tayang yang baru dimulai pada sore hari, kecuali hari Minggu.

Acara  yang mengandung konten dewasa tayang pada malam hari, dimana umumnya sudah masuk waktu tidur bagi anak-anak. Berita-berita kriminal dan kekerasan tidak banyak menghiasi layar kaca. Hiburan lainnya adalah radio, atau film kaset VHS yang tidak semua orang memilikinya. Maka pada tahun 80an buku menjadi salah satu alternatif hiburan bagi anak-anak, sehingga perpustakaan pun tumbuh menjamur. Mereka yang memiliki koleksi buku cukup banyak biasanya membuat perpustakaan di rumahnya.

Jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, dimana banyak tayangan televisi yang mengandung konten negatif tayang pada siang hari, menyebabkan banyak anak-anak turut menyimak tayangan tersebut. Ditambah lagi dengan kemudahan akses melalui internet untuk mendapatkan tayangan apa saja yang diinginkan, semakin memperbesar peluang anak-anak jaman now menerima paparan tayangan yang tidak sesuai dengan usianya.

Lalu benarkah kondisi ini mutlak sebagai akibat dari kemajuan teknologi? Saya katakan tidak sepenuhnya benar. Kenapa? Karena filter pertama untuk kelayakan tayangan yang dikonsumsi oleh diri dan keluarga adalah tanggung jawab kita sendiri, terutama orang tua. Keluarga adalah pondasi utama untuk membentuk dan menumbuhkan budaya sensor mandiri sejak dini. Terutama pada masa sekarang ini dimana gempuran tayangan konten negatif semakin dasyat. Ingat, anak jaman now adalah hasil asuhan dan didikan anak jaman old. 

Kesadaran dan tanggung jawab dari berbagai pihak sangat penting demi melindungi generasi penerus bangsa dari kemerosotan moral yang semakin parah, sebagai salah satu dampak dari serbuan arus kemajuan teknologi yang menawarkan kemudahan mengakses beragam informasi dan hiburan yang seringkali kebablasan.

Peran orang tua, pendidik, serta lingkungan yang bersinergi dengan lembaga-lembaga terkait seperti LSF atau KPI, masyarakat perfilman, pengusaha bioskop, pengusaha stasiun televisi, para pekerja seni, hiburan dan media informasi, hingga pemerintah sangat diperlukan demi terwujudnya tayangan hiburan serta informasi yang bermutu dan tepat sasaran, sehingga akan meminimalisir dampak negatif dari sebuah tontonan. Karena tontonan sangat efektif dalam mempengaruhi prilaku dan pola pikir seseorang.

Dari keluargalah terutama orang tua kesadaran budaya sensor mandiri ini harus dimulai. Lalu bagaimana caranya menanamkan budaya sensor mandiri dalam keluarga?

  1. Bangun komunikasi yang baik dalam keluarga.
    Komunikasi yang baik akan menjadi awal keberhasilan dalam menyampaikan suatu pesan baik kepada anak-anak, pasangan, atau anggota keluarga lainnya yang ada di rumah.
  2. Berikan pengertian pada anak-anak mengenai tontonan yang sesuai dengan usianya. Kaitkan dengan nilai-nilai keagamaan serta norma sosial sebagai dasar pemahaman anak. Sehingga terbentuk rasa tanggung jawab di dalam diri anak sekalipun tengah berada jauh dari pengawasan orang tua.
  3. Orang tua dan orang dewasa lainnya yang ada di rumah harus menjadi teladan bagi anak-anak dalam hal mengkonsumsi tayangan yang baik dan bermanfaat, dengan membiasakan untuk menerapkan budaya sensor mandiri dalam kesehariannya.
  4. Dampingi anak saat menonton, kemudian diskusikan mengenai tontonan tersebut untuk mengetahui pemahaman si anak . Informasi yang masuk ke dalam pikiran seseorang akan dicerna dan dapat melahirkan pemahaman yang berbeda-beda. Inilah saat yang tepat bagi orang tua untuk meluruskan jika ada pemahaman anak yang kurang tepat. Hal ini juga sekaligus dapat semakin mempererat hubungan anak dan orang tua.
  5. Batasi waktu anak-anak dalam menonton televisi, juga penggunaan gawai.
  6. Kenalkan anak pada aktifitas lain yang positif dan tidak kalah menarik seperti permainan outdoor, membaca buku, dan lain-lain.
  7. Perhatikan dan kenali lingkungan pergaulan anak, karena lingkungan pergaulan adalah salah satu yang dapat memberikan pengaruh besar pada prinsip dan prilaku seseorang.
  8. Jalin kerjasama dengan guru serta pendidik di luar sekolah untuk juga mengajarkan anak menerapkan budaya sensor mandiri dalam kesehariannya.

Kemajuan teknologi yang pesat tanpa diimbangi kesadaran dan tanggung jawab yang baik dari penggunanya, tentu tidak akan memberikan manfaat yang diharapkan. Namun dengan sikap bijak dalam mengakses derasnya arus informasi melalui berbagai media dapat membantu seseorang untuk menambah wawasan, meningkatkan kwalitas dan produktivitasnya.

Untuk itu mari budayakan sensor mandiri sejak dini dimulai dari keluarga, demi terciptanya generasi muda Indonesia yang berakhlak mulia dan berprestasi.

8 replies
  1. novaviolita
    novaviolita says:

    Sensor tontonan gak cuma dari adegan dewasa/mesum..tapi dari ucapan ..pemain film, juga tindakan kekerasn seperti dipukul dll

    Film kartun juga gak semua, kebanyakan malah adegan dewasa..jadi ibu kudu teliti

    Reply
  2. Yulia Marza
    Yulia Marza says:

    Jaman sekarang, sensor mandiri emang penting banget mbak. terutama buat anak-anak. karena sesuatu yang dimulai baik dari keluarga. Hasilnya akan baik juga sih menurut saya.

    Reply
  3. April Hamsa
    April Hamsa says:

    Sensor mandiri emang penting diajarkan kepada anak2 kecil ya mbak. Dimulai dari tayangan yg sering ditonton ortunya di rumah. Tapi alangkah lbh bagus lg kalau anak2 gak dikasi tontonan kecuali kita awasin 😀 TFS

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply