stop bullying

Menjadi orang tua adalah sebuah tantangan yang menuntut kita untuk terus belajar. Zaman terus berkembang diiringi dengan segala perubahannya, maka demikian pula dengan pola pengasuhan anak yang perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Seperti apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib;

”Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”

Kasus Bully Melahirkan Pembully Baru

Baru-baru ini media digemparkan dengan berita mengenai bullying yang dialami oleh seorang siswi SMP yang masih berusia 14 tahun, dimana bullying ini dilakukan oleh sejumlah siswi SMA, sehingga lahirlah tagar yang menjadi viral di dunia maya #JusticeForAudrey.

Kasus ini menyita perhatian publik. Beramai-ramai netizen menunjukkan rasa simpati dan dukungannya melalui tulisan serta tagar. Beberapa selebriti bahkan langsung menemui Audrey di rumah sakit tempat dia mendapatkan perawatan. Masyarakat tertegun, menyimak berita tentang perlakuan keji yang diterima korban. Apalagi setelah video para pelaku yang beredar saat berada di kantor polisi, tanpa menyiratkan rasa penyesalan sedikitpun, mereka malah asik selfie dan boomerang.

Maka tak ayal lagi, hujatan pun membanjiri media sosial mengecam bahkan mengancam mereka. Kemarahan yang dituangkan dalam kalimat-kalimat negatif yang ditujukan kepada para pelaku, tanpa disadari telah melahirkan banyak pembully baru di media sosial.

Seiring perkembangan kasus ini, publik pun mulai merasa bingung setelah polisi mengumumkan hasil visum, yang disusul dengan beredarnya screenshoot postingan medsos yang dikabarkan sebagai akun Audrey, dimana isinya dapat dikategorikan sebagai toxic karena banyak dihiasi kata-kata kotor.

Sebagian netizen menyatakan menyesal telah membela korban, publik pun jadi bertanya-tanya, mulai dari kronologi kejadian, hasil visum, hingga kebenaran akun medsos yang disebut-sebut sebagai milik korban. Tak ketinggalan munculnya tagar baru #AudreyJugaBersalah.

Tips Mencegah Tindak Bullying Pada Anak

Cerita di atas hanya satu contoh kasus bullying yang mencuat di jagat maya baru-baru ini, dan cukup membuat para orang tua bergidik, membayangkan pergeseran perilaku anak-anak saat ini. Di luar sana masih ada  banyak kasus bullying yang tidak terekspos media. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para orang tua.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan agar anak terhidar dari perilaku bullying? baik sebagai pelaku maupun korban.

  1. Ciptakan Lingkungan yang Hangat Penuh Cinta Bagi Anak
    Hubungan harmonis dalam keluarga membuat anak tumbuh dalam kehangatan cinta dan kasih sayang yang akan menjadikan anak tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Anak akan menduplikasi bagaimana cara orangtuanya berinteraksi dalam kehidupannya. Orang tua adalah role model bagi anak.
  2. Menjadi Sahabat bagi Anak
    Kedekatan hubungan emosional yang terbangun antara orang tua dan anak akan membuat mereka merasa nyaman dan aman untuk bercerita apapun kepada kita. Sehingga jika ada masalah yang tengah dihadapi anak dalam kehidupan sosialnya orang tua dapat membantu memberikan solusi terbaik sedini mungkin agar tidak sampai berlarut-larut.
  3. Mengembangkan Kemampuan Bersosialisasi Anak
    Libatkan anak dalam beragam aktivitas di luar sekolah, sehingga menambah wawasan dan keterampilannya  dalam bersosialisasi.
  4. Mengenali Lingkungan Pergaulan Anak
    Aktif dalam kegiatan di sekolah anak dapat menjadi jalan untuk mengenal lebih dekat teman-teman, guru, hingga orang tua teman-teman anak kita, juga mendapatkan informasi mengenai perkembangan anak.
  5. Ajarkan Anak untuk Berani
    Sebagai orang tua kita mengajarkan pada anak tentang perilaku yang baik dalam bersosialisasi. Saling menghargai sekalipun ada perbedaan dan bertutur kata santun.
    Menanamkan bahwa tindakan intimidasi, menyakiti, atau semacamnya adalah tindakan yang buruk dan tak dapat ditolerir. Ajarkan anak untuk berani bersikap tegas saat hak mereka dilanggar, karena biasanya korban bullying adalah anak yang dianggap lemah.
  6. Memberikan Sugesti Positif
    Sugesti dapat mempengaruhi perilaku anak, ini adalah bagian dari teknik hypnoparenting. Maka jangan pernah lelah untuk selalu memberikan sugesti positif pada buah hati, sehingga hal-hal positif yang kita harapkan ada dalam dirinya dapat terwujud.

Disadari ataupun tidak, terjadinya kasus bullying pada anak, baik sebagai pelaku maupun korban, ada peran orang tua di sana dalam hal pola asuh yang diterapkannya selama ini. Karena pembentukan karakter anak dimulai dari rumah. Maka pastikan sebagai orang tua kita tak akan pernah berhenti belajar dan memperbaiki diri untuk menjadi orang tua yang baik serta teladan bagi anak-anak kita.

Menulis ini, jadi mengingatkan saya pada tulisan lama yang terinspirasi dari pengalaman pribadi masih bertema bully. Silakan mampir ke sini jika berkenan untuk membacanya.

28 replies
  1. dewi Aprilia
    dewi Aprilia says:

    Kasus ini semakin membuat miris saja, saking ruwetnya sampai takjelas mana yang benar mana yang salah. Malah jadi jelas sekali semua pelaku maupun yg dikatakan korban, semuanya berperilaku kurang terpuji. Bullying sudah terbiasa. Baik secara fisik maupun makian verbal.
    Saya suka dengan tipsnya untuk mengenalkan anak untuk aktif bersosialisasi dengan berbagai lingkungan dengan cara yang baikw

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Iya Mbak. Pada akhirnya semua kembali pada orang tua untuk membentuk karakter anak dengan pondasi agama, norma-norma, dengan siraman kasih sayang yang tepat.

      Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Bener banget Teh, kadang kalau disimak pemicunya hanya persoalan sepele. Pada akhirnya semua kembali lagi ke pembentukan karakter anak sejak dari rumah.

      Reply
  2. Megha Rachma
    Megha Rachma says:

    Setuju teh kalo dibully yah pasti ada perilaku bully yang baru dan gitu terus-terusan makanya kudu kena sanksi biar kapok.

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Nah, betul Teh Mega. Harus dicari formula yang tepat untuk menentukan sangsi yang bisa memberikan efek jera tanpa meninggalkan luka baru yang melahirkan dendam di hari kemudian.

      Reply
  3. Grandys Mawarni
    Grandys Mawarni says:

    mirisnya dengan naiknya kasus si A ini, dari tagar yang sangat menjadi trending topic lalu bisa jadi berbalik. Tapi yg paling d garis bawahi disini adalah perilaku bullying nya ya teh, dan point-point pendekatan kepada anak yg kita sebagai orang tua harus tau dengan siapa anak kita berteman atau punya lingkaran pertemanan yg seperti apa.

    Reply
  4. TIAN LUSTIANA
    TIAN LUSTIANA says:

    Thanks for sharing, tugas kita sebagai ibu mencetak anak untuk tidak menjadi pembully dan harus bisa kuat melawan bully, semoga Allah selalu melindungi anak2 kita, aamiin

    Reply
  5. niaharyanto
    niaharyanto says:

    Wah ini banget nih yang jadi kekhawatiran saya. Takut anak kena bully dan takut anak jadi pelaku bully. Dan setuju, sejak dari rumahlah kasus bullying bisa dicegah.

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Insyaallah dengan dibekali rasa percaya diri dan pemahaman tentang hak serta kewajiban, juga cara bersosialisai yang baik, anak akan terhindar dari kasus pembullyan ya Mbak

      Reply
  6. greenlady 711
    greenlady 711 says:

    Huhuhuu, iyah nichh sebagai orang tua harus banyak belajar lg spy jangan ampe salah mendidik anak

    Reply
  7. tasha quipper
    tasha quipper says:

    setuju teh..
    aku dulu sangat tertekan dengan yang namanya bullying bahkan wkt sma di bully am guru sendiri coba

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Nah ini, saya juga melihat pentingnya membekali para pendidik dengan ilmu psikologi sebagai bekal mereka berinteraksi dengan anak didiknya dengan pola tepat.

      Reply
  8. novyaekawati
    novyaekawati says:

    bener banget teh, makasih sharing tipsnya. anakku sulungku pernah jadi korban bully kakak kelasnya di mobil jemputan, alhamdulillah dia berani melawan hehehe

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply