Diskusi Publik Revolusi Industri 4.0

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi era revolusi industri ke empat saat ini. Perkembangan teknologi yang semakin canggih tentu saja perlu diimbangi dengan kualitas sumber daya yang mumpuni. Lalu sudahkah kita siap menghadapinya?

Diskusi publik bertajuk ‘ Penyiapan Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0‘ pada tanggal 20 Agustus 2018 lalu, di Parlor Cafe, Rancakendal, Bandung, yang merupakan hasil kerjasama antara Sekolah Tinggi Teknologi Bandung dengan Kementrian Perindustrian Republik Indonesia dan berlangsung sekitar 3 jam itu, menghadirkan enam orang nara sumber yang luar biasa, diantaranya adalah Kepala Pusdiklat Industri, Kementrian Peridustrian, Bapak Mujiyono, M.M.

Dalam penuturannya beliau mengungkapkan tentang pentingnya pengembangan pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada sektor industri. Beliau juga menyampaikan bahwa salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah banyaknya lulusan SMK yang belum siap kerja dikarenakan berbagai faktor, salah satunya adalah keterbatasan dukungan alat yang ada di sekolah.

Untuk menyikapi masalah ini upaya link and match antara SMK dan industri seperti yang tertuang dalam Inpres no. 09 tahun 2016 tentang revitalisasi SMK, dimana salah satunya adalah mewajibkan industri untuk membina SMK akan terus digalakan.

Dual sistem ini sangat penting diterapkan sebagaimana di negara-negara maju, dimana pendidikan yang berjalan adalah 50% kampus, dan 50% industri,  untuk ini diperlukan adanya komitmen dengan industri. Sehingga setelah  lulus, mereka akan menjadi SDM yang siap terjun ke dunia industri.

Nara sumber berikutnya adalah Ibu Ratna Utarianingrum, Direktur Kimia, Sandang, Aneka, dan Kerajinan (KISAK) Dirjen  Industri Kecil dan Menengah, Kementrian Perindustrian. Beliau menyampaikan tentang sektor industri kreatif yang menjadi binaan Kementrian Perindustrian saat ini adalah fashion, kerajinan, animasi dan video, serta permainan interaktif, karena pada sektor ini cukup mendapat perhatian anak muda untuk berinovasi.

Dan salah satu upaya persiapan menghadapai revolusi industri 4.0 adalah dengan diluncurkannya program E Smart IKM, yaitu sistem database IKM yang diintegrasikan dengan marketplace yang ada, seperti Tokopedia, Buka Lapak, Shopee, Blibli, dan sebagainya. Ini bertujuan untuk mempertemukan secara langsung antara produsen dengan konsumennya.

Adapun salah satu wacana dari kementrian perindustrian adalah menjadikan negara kita sebagai kiblat dari busana muslim dunia pada tahun 2020.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Guru Besar ITB, Prof. Ir. Suhono Harso Supangkat M. Eng. Jujur saja saya agak merinding saat menyimak apa yang beliau sampaikan tentang era disruption, bagaimana robot dengan sistem IOT (Internet of Thinking)nya akan menggeser fungsi manusia sebagai tenaga kerja, dimana semua bidang sudah menerapkan otomatisasi yang dikendalikan dari jarak jauh.

Tidak dapat dipungkiri, hal ini sekarang sudah mulai terjadi, seperti sistem e-tol yang menggeser penjaga dan kasir pintu tol, atau sistem transportasi online yang sudah menggeser taxi konvensional dan angkot. Di negara maju seperti Jepang bahkan pelayan restoran pun sudah digantikan oleh robot.

Beliau juga mengungkapkan bahwa saat ini tengah dikembangkan lab. IOT maker space, yang mempelajari berbagai kasus-kasus internet marketing dan menciptakan efisiensi dengan IOT. Termasuk meminimalisir sistem birokrasi.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Bapak Ade Sudrajat, kemudian mendapat kesempatan sebagai pemateri  berikutnya. Menurut beliau, faktanya di negara kita baru pada industri-industri tertentu saja yang sudah menerapkan industri 4.0, seperti industri makanan dan minuman atau elektronik. Sedangkan pada sektor lain seperti produk tekstil masih dilakukan secara bertahap, dengan pertimbangan investasi teknologi industri 4.0 cukup mahal, sedangkan biaya tenaga kerja di Indonesia cukup rendah, dengan permintan kebutuhan lapangan kerja yang masih sangat tinggi. Hal ini pun sebagai upaya untuk mengurangi semakin bertambahnya tingkat pengangguran di negara kita.

Dalam sepuluh menit berikutnya,  Head of Corporate Communication Bio Farma, Ibu N Nurlaela  Arief, MBA, MIPR, mengungkapkan bahwa saat ini sistem di Bio Farma pun sudah menggunakan internet demi menjaga keamanan dan keakuratan produk vaksinnya.

Paparan nara sumber yang terakhir, Bapak Ronny P Sasmita, Direktur Eksekutif dan Pengamat Ekonomi EconAct selaras dengan apa yang disampaikan Pak Ade sebelumnya. Beliau mengungkapkan bahwa di negara kita dengan angkatan kerjanya masih berada di revolusi 2.0 dan 3.0, justru membutuhkan pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi terbesarnya adalah sektor yang lebih banyak menyerap tenaga kerja. Meskipun memang revolusi industri 4.0 yang dimotori oleh kemajuan dan kreativitas tak dapat dihindari.

Beliau sedikit mengkritisi pemaparan dari Bapak Prof. Ir. Suhono tentang birocrate less, karena menurut beliau bagaimana pun peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengelola disruption, karena pasar tidak bisa meregulasi dirinya sendiri. Dan yang paling penting adalah bahwa teknologi diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Setelah semua nara sumber selesai menyampaikan materi, sesi tanya jawab pun dibuka. Dan tiga peserta dengan pertanyaan terbaik mendapatkan hadiah dari panitia.

Pemateri Revolusi Industri 4.0

Acara Diskusi Publik kemudian ditutup dengan kesimpulan yang dibacakan oleh moderator Dharmasena Widjanegara, dan sesi foto bersama.

Tidak ketinggalan, kami dari pasukan blogger Joeragan Artikel pun turut berfoto bersama Bapak Muchammad Naseer, Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung.

Blogger Joeragan Artikel

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply