Obat-obatan, Pembuat Sehat atau Pembuat Sekarat?

obat-obatan

Dumolid, belakangan ini tengah menjadi topik hangat dan menggelitik rasa ingin tahu masyarakat tentang obat ini. Kasus yang menjerat aktor Tora Sudiro beserta istrinya akibat kepemilikan jenis obat ini telah membuat aktor tersebut kini harus berurusan dengan aparat hukum.

Banyak masyarakat belum memiliki pemahaman yang cukup tentang fungsi, penggunaan, dan efek samping obat-obatan yang beredar di pasaran, hal ini memicu banyaknya terjadi penyalahgunaan, seperti yang terjadi dalam kasus Tora Sudiro baru-baru ini.

Ketidaktahuan masyarakat didukung dengan mudahnya mendapatkan obat-obatan yang seharusnya hanya bisa didapatkan dengan menggunakan resep dokter ini di sebagian apotek atau toko obat, bahkan secara bebas dijual secara online.

penjualan obat keras online
Obat keras beredar bebas di dunia maya

Ada hikmah yang dapat diambil dari kasus yang menjerat aktor Tora Sudiro ini. Keingintahuan tentang obat yang dimiliki Tora akhirnya mengantarkan kita untuk mencari tahu dan lebih melek informasi mengenai obat-obatan yang beredar di sekitar. Pengetahuan ini penting, agar hal yang sama tidak terulang kembali. Mengingat dampak buruk dari konsumsi obat-obatan secara sembarangan pun akan sangat merugikan diri kita.

Begitupun dengan aparat yang tampaknya semakin gencar melakukan penertiban pada apotek-apotek maupun toko obat yang menjual obat keras secara bebas. Dalam hal ini tentu saja pemerintah pun memiliki kewajiban untuk menyosialisasikan dan membuka pemahaman masyarakat mengenai obat-obatan jika tidak ingin kejadian serupa terus berulang.

Salah satu upaya pemerintah yang pernah dilakukan yaitu Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) yang digalakkan oleh Kemenkes sejak tahun 2015 lalu. Dalam sosialisasi ini, pemangku kepentingan, tenaga kesehatan, kader posyandu dan masyarakat diajarkan melihat komposisi, cara penggunaan, hingga resiko penggunaan obat yang tertera pada kemasan. Namun sepertinya kegiatan ini masih belum menyentuh seluruh lapisan  masyarakat, dan kurang terdengar gaungnya hingga saat ini.

Untuk itu, demi kebaikan kita sendiri mari kita bergerak aktif mengumpulkan informasi, baik bertanya secara langsung kepada tenaga kesehatan yang ada dan dekat di sekitar kita, atau melalui media-media terpercaya yang memberikan informasi mengenai masalah ini.

Salah satu informasi yang penting diketahui mengenai obat-obatan, dan sangat mudah untuk dikenali adalah logo yang terdapat pada kemasan obat. Mari kita kenali satu persatu!

  • Logo Obat Bebas
    logo obat bebasLingkaran hijau dengan garis tepi hitam di sekelilingnya. Ini adalah jenis obat yang dapat dikonsumsi tanpa resep dokter, tentu saja karena jenis ini adalah yang paling aman sehingga dapat dibeli bebas baik di apotik, toko obat, atau di warung-warung. Namun demikian, tetap saja dapat berbahaya jika digunakan tidak sesuai dengan aturan. Biasanya jenis obat ini diperuntukkan bagi gejala penyakit ringan.
  • Logo Obat Bebas Terbatas
    logo obat bebas terbatasLingkaran biru dengan garis tepi hitam di sekelilingnya. Ini adalah jenis obat yang masih dapat dibeli tanpa resep dokter, namun obat dengan logo ini biasanya dilengkapi dengan peringatan, seperti ini:
    P. No. 1: Awas! Obat Keras. Bacalah aturan memakainya.
    P. No. 2: Awas! Obat Keras. Hanya untuk kumur, jangan ditelan.
    P. No. 3: Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar badan.
    P. No. 4: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar.
    P. No. 5: Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan.
    P. No. 6: Awas! Obat Keras. Obat wasir, jangan ditelan.
    tanda peringatan obat
    Sangat familiar bukan, tulisan peringatan pada kemasan obat tersebut dengan kita? Untuk pemakaian obat jenis ini, sebaiknya pengobatan dihentikan, dan segera konsultasikan kepada dokter jika kondisi kesehatan anda tak kunjung membaik.
  • Logo Obat Keras
    logo obat kerasHuruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi hitam di sekelilingnya. Logo ini dibubuhkan pada kemasan obat yang termasuk jenis obat keras, dimana pembelian dan konsumsinya harus dengan resep dokter. Obat jenis ini tidak boleh dikonsumsi sembarangan karena berbahaya bagi kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian. Obat-obatan seperti antibiotik, obat penenang, dan obat yang mengandung hormon, dan lain-lain termasuk dalam jenis ini.
  • Logo Obat Narkotika
    logo obat narkotikaLambang cross berwarna merah, di dalam lingkaran merah. Obat dengan logo ini pada kemasannya menandakan obat tersebut termasuk ke dalam jenis narkotika. Tentu saja tidak dapat dibeli secara bebas. Membeli dan mengkonsumsinya harus dengan resep dokter.

 

Lalu apakah dumolid termasuk dalam jenis narkotika, sehingga kepemilikan Tora Sudiro atas obat tersebut menyebabkan dirinya harus berurusan dengan hukum?

Dumolid tidak termasuk jenis narkotika. Obat ini termasuk ke dalam jenis psikotropika dan psikotropika termasuk dalam kategori narkoba (narkotika dan obat/ bahan berbahaya). Obat ini digunakan untuk mengatasi masalah-masalah seperti insomnia, depresi, gangguan kecemasan, dsb. Namun begitu, kepemilikan jenis obat-obatan psikotropika tanpa resep dokter termasuk dalam penyalahgunaan, karena jenis obat ini menimbulkan ketergantungan. Semakin lama dikonsumsi, tubuh akan semakin toleransi terhadap obat ini, dan dosis pun terus meningkat.

Masih ingat kasus kematian King of Pop Michael Jackson? Super star itu akhirnya meninggal akibat gagal jantung setelah ketergantungan pada obat penenang hingga obat anastesi agar dapat tidur nyenyak.

Apakah Perbedaan narkotika dan psikotropika?

  • Narkotika cara kerjanya serupa dengan obat bius, dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri.
  • Psikotropika cara kerjanya dengan menyerang saraf pusat, menimbulkan efek halusinasi dan penenang.Keduanya dapat menimbulkan ketergantungan.

Obat penenang seperti dumolid, biasanya diresepkan dokter sebagai terapi jangka pendek. Sayangnya keterbatasan pemahaman mengenai obat-obatan ini, seringkali membuat pasien setelah merasakan khasiat dari obat yang diresepkan dokter kemudian memutuskan untuk membeli kembali obat yang sama di lain waktu, saat mengalami keluhan yang sama tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Padahal ada bahaya besar yang mengintai setiap kali kita mengonsumsi obat secara ngawur.

Marilah lebih cerdas dan bijak dalam penggunaan obat untuk mengatasi keluhan kesehatan kita. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih baik justru menjadi tragedi, akibat kurangnya pemahaman dan sikap ceroboh kita dalam mengonsumsi obat-obatan.

#Odop
#Blogger_Muslimah

 

1
Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dewie dean
Guest
Dewie dean

Isinya cukup jelas dan bagus. Untuk piramida terbalik leadnya juga uda keren

You May Also Like
writer's block
Read More

Ketika Writer’s Block Menyapa

Berkali-kali didekap writer's block, membaca memang menjadi salah satu obat yang cukup mujarab. Banyak pilihan untuk menjadi bahan bacaan, bisa dengan blog walking, membaca buku, atau membaca timeline media sosial.