Pahlawan Keluargaku

10 November lalu bangsa Indonesia memperingati hari Pahlawan, yang mengingatkan kita semua pada cerita sejarah perlawanan bangsa kita dari upaya penguasaan kembali oleh penjajah. Berkat pengorbanan serta keberanian para pejuang dalam membela negara hingga bertumpah darah, detik ini kita dapat menghirup udara kemerdekaan. Semua atas jasa mereka, para pahlawan.

Namun gelar pahlawan, tidak hanya layak disandangkan pada mereka yang berjuang hingga bertumpah darah atau meregang nyawa.

Seorang guru, yang melakukan pengabdian dengan memberikan ilmu pada murid-muridnya sepenuh hati, adalah pahlawan.

Seorang pemimpin, yang mencurahkan tenaga dan pikiran demi memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya, dialah pahlawan.

Menjalankan setiap peran yang disandang dengan ikhtiar terbaik dan ketulusan hati, demi menciptakan kebaikan dan manfaat bagi orang di sekitar adalah sikap seorang pahlawan.

Gelar pahlawan layak disandang bagi siapapun yang telah berjasa pada orang lain, dengan sifat ikhlas yang menjadi landasannya dalam berjuang.

Pahlawan Keluarga

Bagi saya, sosok orang tua adalah pahlawan sejati dalam keluarga. Rasa cinta dan kasih sayang yang tulus, serta harapan akan segala kebaikan bagi anak-anaknya, membuat orang tua sanggup melakukan apa saja demi mewujudkannya.

Senyum dan tawa ceria sang anak, selalu mampu menjadi pelipur yang akan menjaga semangatnya. Lelah menjadi tiada arti, saat kebaikan demi kebaikan nyata dalam rangkuman ananda tercinta. Tak pernah lelah memapah untuk menunjukkan arah, tangannya kan selalu menggenggam untuk menguatkan. Seperti Mama dan Bapak, pahlawan keluarga yang selalu menginspirasi bagi Saya.

Keluarga kami hidup dalam kesederhanaan. Bapak yang bekerja sebagai PNS dengan penghasilan pas-pasan, membuat Mama harus memutar otak untuk dapat mencukupi kebutuhan kami empat anak-anaknya. Bagaimana mereka bahu membahu, mulai dari menyelesaikan segala tugas rumah tangga, merawat dan mendidik anak-anak, hingga bagaimana mencari nafkah keluarga. Semua menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi kami

Mengenang Perjuangan Pahlawan Keluarga

Dini hari saat kami masih terlelap, Mama sudah berjibaku di dapur dengan segala perangkat. Membuat aneka gorengan dan buah potong untuk dijual serta menyiapkan sarapan keluarga. Sementara Bapak, setelah subuh akan menyelesaikan tumpukan pakaian kotor untuk dicuci. Dan kami yang mendapat giliran sekolah pagi, hanya perlu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah saja.

Kebetulan sekolah kami letaknya dekat dengan rumah, di sana murid-murid dibagi menjadi dua shift, ada yang masuk pagi dan masuk siang. Siapa yang mendapat giliran masuk siang, secara otomatis mengisi aktivitas paginya denganmembantu pekerjan rumah.

Sekitar pukul enam, aneka gorengan yang masih hangat Bapak antarkan ke kantin-kantin tempat kami menitipkan jualan. Biasanya jika Aa sekolah siang, Bapak akan mengajak serta ke kantin, mengobrol sepanjang perjalanan, membangun kedekatan antara ayah dan anak lelakinya.

Sementara menunggu Bapak kembali, Mama bergegas membereskan dapur, menyiapkan sarapan Bapak di meja, lalu menemaninya sarapan sambil berbincang sebelum Bapak pergi ke kantor.

Setelah Bapak pergi, waktunya Mama untuk pergi belanja ke pasar, membeli bahan untuk jualan esok hari. Saya atau Aa yang biasanya menemani, bergantian siapa di antara kami yang sekolah siang, atau berbarengan mengawal jika memungkinkan, seperti saat ada libur.

Ketika mengawal bersama, biasanya Aa akan menantang adu kuat membawa belanjaan. Maka kami pun berlomba membawakan belanjaan Mama yang lumayan berat. Kresek-kresek bermuatan wortel, singkong, ubi jalar, kol, pisang, tepung, bumbu-bumbu, dan nanas yang berkilo-kilo kami bagi tiga. Saya dan Aa harus membawa beban yang seimbang, karena kalau tidak artinya saya kalah dan lemah.

Meskipun Mama sudah melarang, saya tidak pernah mau kalah sama Aa. Sebungkus es cendol saja sudah cukup rasanya bagi kami untuk mengobati lelah dan dahaga.

Sedangkan Teteh sebagai anak tertua, biasanya mendapat tugas menjaga adik kami di rumah. Namun jika Teteh sekolah pagi, si bungsu pun akan ikut serta ke pasar bersama Mama. Pada hari Minggu, Bapak lah yang akan mengawal Mama ke pasar dengan Vespanya.

Bertahun-tahun menjalani hari dalam ritme ideal keluarga kami, sampai suatu hari Mama divonis menderita tumor payudara oleh dokter, setelah memeriksakan benjolan yang dirasanya. Meski begitu, karena bagi Mama keluhannya tak terlalu mengganggu, beliau masih tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Dokter menyarankan Mama untuk operasi, namun Mama menolaknya dan lebih memilih pengobatan herbal.

Rupanya keputusan Mama bukanlah pilihan tepat, karena seiring waktu tumor itu terus berkembang dan mulai terasa mengganggu. Operasi pengangkatan payudara pun tak dapat dihindarkan lagi, karena kini vonis dokter telah berubah menjadi menjadi kanker ganas.

Namun tak sekali pun Mama menunjukkan bersedih di hadapan kami. Padahal tentu bukan situasi yang mudah bagi seorang perempuan saat harus kehilangan payudaranya.

Sebuah Babak Perjuangan Baru

Pasca operasi kaki Mama lambat laun menyusut sebelah, menjadi lebih pendek, sehingga berjalan pincang dibantu dengan tongkat buatan Bapak. Bobot tubuhnya berangsur-angsur menyusut. Namun Mama selalu berusaha ceria, dan meyakinkan kami kalau dirinya baik-baik saja. Ternyata hanya tiga tahun saja Mama mampu bertahan dari penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya.

Pada 3 bulan terakhir Mama lumpuh, hingga tiba masa malaikat Izroil menjemput sebelum genap 38 tahun usia Mama. Belakangan setelah Mama tiada, Bapak baru bercerita, jika dokter telah memberitahukannya bahwa kanker yang Mama derita sudah menjalar kemana-mana, karena tindakan medis yang terlambat.

Mendung bergelayut, 1998 kami kehilangan satu sosok pahlawan keluarga. Tinggal Bapak yang kami miliki. Lelaki tegar penuh kasih sayang yang kerap menyembunyikan dukanya, berusaha tetap berdiri tegak demi menguatkan kami anak-anaknya.

Saat itu Saya duduk di bangku kelas 2 SMP, sedangkan teteh dan Aa sudah SMA, dan adik kami masih kelas 2 SD. Tentu saja soal pekerjaan rumah tak lagi menjadi masalah, karena kami sudah terbiasa untuk berbagi tugas dan mandiri dalam mengurus keperluan masing-masing. Hanya adik kami saja yang masih memerlukan perhatian khusus, karena masih kecil.

Namun itu tidak menjadi alasan bagi Bapak untuk membuat kami harus kekurangan perhatian. Setiap hari Bapak memasak dahulu menyiapkan makan siang kami sebelum pergi ke kantor. Memastikan saat kami lelah pulang sekolah makanan sudah tersedia. Dua hari sekali, beliau berbelanja bahan makanan ke pasar setelah kami berangkat sekolah. Adik bungsu kami kadang Bapak bawa ke kantor jika tetangga sebelah yang memiliki anak sebaya adik kami sedang tak ada.

Siang hari beliau akan mengambil jam istirahatnya untuk mampir ke rumah dan memastikan kami sudah pulang, serta rumah dalam keadaan baik-baik saja. Ada rasa haru yang kerap menyeruak dalam dalam hati kami menyaksikan bagaimana Bapak berusaha menjalankan perannya sebagai ayah dan ibu dengan mengesampingkan ego pribadinya sebagai seorang lelaki. Semua demi membahagiakan kami, buah cinta yang teramat disayanginya.

Hingga akhirnya Bapak bertemu dengan seseorang, kami semua turut bahagia. Ya, beliau berhak untuk bahagia. Bapak membutuhkan teman bercerita, teman berbagi, teman yang akan mengusir malam-malam sepinya. Lagipula si bungsu membutuhkan sosok ibu yang bisa menjaganya di rumah.

Membina biduk rumah tangga yang baru adalah sebuah project besar yang tak mudah. Namun Bapak, melalui semua bahtera dan gelombang kehidupan yang kerap menghantam dengan tetap gagah, tanpa pernah melepaskan genggaman tangannya dari kami.

Hingga satu-per satu dari kami pun mulai melepaskan diri untuk membina keluarga baru. Bapak selalu ada, Bapak senantiasa mendekap kami dengan do’a dan cinta. Lengannya semakin lebar melingkarkan kehangatan kasih sayang dan menguatkan kami serta seluruh keluarga kecil kami, hingga di batas usianya. 2015 satu lagi pahlawan keluarga pergi.

Cinta tanpa batas, itulah cinta tulus orang tua pada anaknya. Seperti cinta Saya, juga cinta teman-teman pada Sang buah hati, amanah Tuhan.

Kita tengah berjuang dengan berusaha menjalankan sebaik-baik peran orang tua yang disandang. Bismillah… semoga setiap langkah kita senantiasa dalam bimbingan dan ridho Allah SWT.

Tulisan ini sebagai partisipasi dalam Bandung Hijab Blogger Collab, dengan tema My Heroes My Inspirations.

My Heroes My Inspirations

38 replies
  1. Ulfah Wahyu
    Ulfah Wahyu says:

    Mirip cerita saya waktu kecil Mbak. Terharu bacanya. Kalau saya kebalikannya. Ayah yang terlebih dahulu pergi meninggalkan kami. Memang kedua orang tua adalah pahlawan sejati dalam kehidupan kita.

    Reply
  2. hani
    hani says:

    Aku nangis baca pas Mama pulang ke Rahmatullah. Terharu baca seluruh kisah perjuangan mb Ane. Semoga sehat selalu ya dan kompak membimbing sang buah hati.

    Reply
  3. Yulie
    Yulie says:

    Pahlawan yang sesungguhnya. Benar-benar perjuangan dan pengorbanan yang tulus dari orang tua ngga bisa diukur dengan apa pun. Terharu bacanya.

    Reply
  4. Bety Sulistyorini
    Bety Sulistyorini says:

    Duh kok aku bqcanya sambil misek-misek ya mba Ane. Memang ya sampai kapanpun jasa ortu nggak pernah tergantikan dan terlupakan. Semoga kita juga bisa jadi ortu yang dibanggakan anak-anak kelak. Amin

    Reply
  5. Qoty Intan Zulnida
    Qoty Intan Zulnida says:

    Mbak, aku terharu bacanya…
    Masya Allah,,, merekalah sejatinya pahlawan kita ya mbak…
    Semoga almarhum dan almarhumah tenang dan mendapatkan tempat yg layak di sisi-Nya

    Reply
  6. Nurul Fitri Fatkhani
    Nurul Fitri Fatkhani says:

    Peyuuuk untuk Teh Ane….
    Kebayang sedihnya harus kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Apalagi peran mereka yang bagaikan pahlawan dan begitu berarti bagi keluarga.
    Saatnya mengirimkan doa terbaik untuk kedua orang tua ya, Teh.

    Reply
  7. Letisia
    Letisia says:

    Aku cirambay bacanyaaa…salut sama kompakna kakak adik, tabahnya orangtua.. tulisan tth ini bener-bener menginspirasi, teh..

    Reply
  8. Rafahlevi
    Rafahlevi says:

    Aku netesin air matalah baca ini. Father is a super hero in real life. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt. Aamiiiin…

    Reply
  9. hikmah.nisa
    hikmah.nisa says:

    Perjuangan orang tua memang gak ada habisnya ya teh.. kadang suka bahagia dan sedih juga mengingat perjuangan2 mereka buat kita yang sampai sekarang mungkin belum optimal memberi kebahagiaan buat mereka.. aku jd melow 😢

    Reply
  10. Meywa
    Meywa says:

    Teh..fix aku nangis 😭😭
    Orang tua adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Perjuangannya tak pernah menginginkan balasan. Semoga mama di beri tempat teristimewa dosis Allah. Aamiin

    Reply
  11. Dian Andari Yuan
    Dian Andari Yuan says:

    Ya, Allah. Sedih aku bacanya. Perjuangan kedua orangtua Teh Ane bener2 menginspirasi. Semangat terus ya, Teh💪

    Reply
  12. greenlady 711
    greenlady 711 says:

    Gak kebayang rasanya kehilangan kedua orang tua, kehilangan seorang aja rasanya seperti layangan putus 😭😭😭😭

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Kesedihan yang tak bisa dilukiskan dengan kata, namun harus ikhlas menerima. Karena sejatinya mereka kembali pada pemilik sejatinya ya, Teh

  13. Rahma balci
    Rahma balci says:

    saya jadi ingat dengan sepupu yang divonis ada tumor di kakiinya, harus dioperasi, tapi keluarga mencoba alternatif juga, hingga kejadian, justru kondisinya semakin parah, krn penanganan terlambat:S sudah menyebar dan harus di amputasi kakinya, sedih rasanya, apalagi dia pemain bola, pernah juara antar SMA, dan cita cita jadi pemain timnas, hrs kehilangan kaki kirinya sampai ke pangkal paha, selepas amputasi, keadaannya sempat membaik, tapi tdk lama kondisinya drop juga hingga akhirnya wafat,berbarengan dengan teman2nya lulus SMA, dia lulus ujian di dunia…, cerita almarhumah ibu mba mengingatkan saya dgn sepupu…cita2nya tinggi ingin mengharumkan nama bangsa jadi pemain timnas. İbu saya juga pejuang dan pahlawan buat saya, beliau pedagang kelontong, dr hasil berjualannya bisa mengantarkan ke empat anaknya sampai lulus kuliah, tapi sedihnya skrg tokonya tutup, krn mulai banyak pesaing,terutama minimarket2 yang menjamur di kampung saya, warung2 banyak yg tutup. skrg istirahat saja dirumah. duh jd kangen ibu juga sehabis baca ini mba:) slm knl ya

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Ya, Allah… masih sangat muda usianya. Tapi semuanya sudah menjadi ketetapan Allah ya, Mbak.
      Tumor hanyalah jalannya untuk almarhum sampai di akhir skenarionya.
      Begitu pun usaha ibu, Insyaallah jalan rejeki lain yang lebih baik sudah Allah siapkan. Aamiin
      Salam kenal juga Mbak Rahma :)

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply