ppdb jabar

Ujian Nasional semua jenjang pendidikan telah terlewati. Bisa dibilang saat ini siswa siswi yang baru saja menyelesaikan pertarungannya di UNBK tengah menghirup napas lega sekaligus juga degdegan menanti hasilnya,  yang akan segera diikuti dengan proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dari tahun ke tahun selalu ada ‘cerita’ dari PPDB, penerapan kebijakan baru, minimnya sosialisi, dan pemahaman yang kurang tepat disinyalir sebagai penyebab kisruh PPDB dari tahun ke tahun. Saya sendiri sudah mengawal tiga kali PPDB dan saat ini bersiap untuk mengawal PPDB ke empat bagi si bungsu yang Insyaallah akan segera menjelma menjadi siswa putih abu. Saya ingin berbagi sedikit informasi, khususnya PPDB Jabar, melalui tulisan ini.

Berikut jadwal PPDB Jawa Barat 2019

ppdb 2019

Perubahan pada PPDB 2019

Secara garis besar aturan PPDB 2019 masih sama dengan tahun sebelumnya, hanya saja pada tahun ini SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) dihapuskan. Banyaknya kecurangan melalui drama mendadak miskin demi diterima di sekolah yang diinginkan telah menjadi salah satu pemicu kisruhnya PPDB yang lalu.

Saya tidak berpikir jika mereka yang bersandiwara melakukannya karena ingin terbebas dari biaya pendidikan seperti halnya mereka yang dikategorikan kurang mampu, karena pada PPDB 2015 lalu ketika SKTM ini mulai diterapkan oleh Walikota Bandung, di lingkungan sekitar rumah saya sendiri ada oknum-oknum yang melakukan kecurangan ini dengan kategori sangat mampu.

Tujuan pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk meringankan warga kurang mampu agar diterima di sekolah negeri, sayangnya banyak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga kebijakan menjadi salah sasaran.

Untuk itulah akhirnya pemerintah menetapkan penghapusan SKTM pada PPDB tahun ini. Dan bagi siswa kurang mampu dapat menggunakan kartu bukti peserta program penanganan keluarga tidak mampu seperti KIP dan sebagainya untuk mendaftar.

Pembagian Jalur PPDB 2019

Dengan merujuk pada Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun 2019, sistem PPDB Jawa Barat tahun ini dibagi menjadi 3 jalur:

  1. Jalur Zonasi
    Kuota untuk jalur zonasi adalah 90% dengan pembagian 45% zona umum, 20 % zona Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM), 5% zona Penghargaan Maslahat bagi Guru (PMG) dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), serta 30% untuk zona akademik.
    Penetapan zonasi dilakukan oleh Pemda, dan domisili berdasarkan alamat Kartu Keluarga yang dikeluarkan minimal 1 tahun sebelumnya.
  2. Jalur Prestasi
    Kuota untuk jalur prestasi adalah 5%. Penghargaan atas prestasi dari perlombaan akademik maupun non akademik sebagai penentunya.
  3. Jalur Perpidahan Orang Tua
    5% kuota bagi siswa yang mendaftar melalui jalur perpindahan orang tua, harus dibuktikan dengan surat tugas dari instansi atau perusahaan yang mempekerjakan.
    Jika jalur perpindahan tugas orang tua tidak terpenuhi maka sisa kuota dialihkan untuk jalur zonasi atau jalur prestasi.

Namun ada pula sekolah-sekolah khusus yang tidak diberlakukan aturan PPDB 2019 ini, yaitu:

  • Sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat
  • SMK yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah
  • Sekolah Kerja Sama
  • Sekolah Indonesia di luar negeri
  • Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan khusus
  • Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan layanan khusus
  • Sekolah berasrama
  • Sekolah di daerah tertinggal, terdepan, danterluar
  • Sekolah di daerah yang jumlah penduduk usia sekolah tidak memenuhi ketentuan peserta didik dalam satu rombel

Apa Saja yang Harus Dipersiapkan Menjelang PPDB?

  1. Foto kopi Akta Kelahiran
  2. Foto kopi Ijazah atau jika ijazah belum turun menggunakan surat keterangan sementara dari sekolah
  3. Foto kopi Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN) atau surat keterangan sementara dari sekolah
  4. Foto kopi Kartu Keluarga orang tua/wali, tempat domisili calon peserta
  5. Foto kopi Kartu Tanda Penduduk orang tua
  6. Surat Kelakuan Baik dari sekolah
  7. Surat Tanggung Jawab Mutlak orang tua
  8. Pasfoto siswa ukuran 4X6 cm biasanya kurang lebih sebanyak 3 lembar
  9. Membawa kartu kepesertaan program penanganan keluarga tidak mampu, seperti KIP dsb (bagi jalur KETM).
  10. Data hasil diagnosa psikolog atau pakar dari perguruan tinggi layanan khusus atau (Resource Centre) atau Kelompok Kerja Pendidikan Inklusif, bagi peserta didik berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
  11. Sertifikat pendidik, surat keterangan tugas mengajar dari kepala sekolah, SK pembagian tugas mengajar, jadwal mengajar (bagi penghargaan maslahat guru).
  12. Surat Perpindahan Dinas dari Lembaga/tempat bekerja orang tua/wali (bagi jalur perpindahan)
  13. Piala, medali, sertifikat/piagam yang dilegalisasi oleh panitia penyelenggara atau pihak berwenang (bagi jalur prestasi).

Mekanisme PPDB dilakukan secara daring melalui website ataupun luring dengan mendaftar langsung ke sekolah yang dituju. Namun saran saya lebih baik mendaftar secara langsung, untuk menghindari masalah-masalah yang tidak diharapkan, juga memudahkan kita untuk mendapatkan informasi akurat langsung dari pihak sekolah. Anda juga bisa menerapkan jurus PPDB seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

28 replies
  1. Dwi
    Dwi says:

    Whaa sudah pengalaman nih ya sama PPDB, sampai tahu segala seluk beluknya. Buat orang awam agak njelimet juga ya, musti dibaca pelan-pelan nih…

    Reply
  2. Dewi Apriliana
    Dewi Apriliana says:

    Nah ini dia yang mulai rame diperbincangkan. Nyarikan sekolah anak dengan sistem zonasi. Beberapa menganggap kurang adil sih. Masa anak desa yang pengen sekolah sma negeri dikota dipersulit dengan adanya aturan ini.
    Kasian juga sih sama anaknya. Kalu memang mau zonasi terus,Semoga kedepannya pemerataan pendidikan itu ya betul betul merata kualitas baiknya sampai ke pelosok negeri

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Nah iya Mbak, semoga kebijakan zonasi ini segera diikuti dengan pemerataan infrastruktur, fasilitas, dan sdm tenaga pengajar di semua sekolah hingga pelosok Indonesia.

      Reply
  3. Lia Nurlatifah
    Lia Nurlatifah says:

    Wah infonya lengkap sekali Mba. Terima kasih banyak ya. Jalur PPDB ini yang sering dibicarakan orang tua. Apalagi yang mendadak miskin. Semoga kedepannya Pemerintah bisa memberikan kebijakan terbaik agar pendidikan bisa merata di seluruh negri kualitasnya. Jadi tak masalah jika ada zonasi.

    Reply
  4. steffifauziah
    steffifauziah says:

    Wah PPDB tiap generasi ada perubahannya ya. Dulu jaman kakak aku sesuai kecamatan, kalo beda kecamatan gak bisa. Pas jaman aku pakenya nilai NEM kalo masuk ya bisa dimana aja. Sekarang? Wes gak paham wkwk. Tapi penjelasan mba Ane bikin saya geleng2 kepala karena tiap tahun ada aja yg bikin ortu geger ya salah satunya org2 yg mendadak miskin. Masyaallah. Semoga pemerintah bisa memberikan solusi yg terbaik untuk PPDB inj

    Reply
  5. Damar Aisyah
    Damar Aisyah says:

    Setiap tahun memang selalu ada drama PPDB. Sampai-sampai kayaknya sebagai ortu kudu update mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun. Anakku memang masih agak lama karena baru kelas 2 SD. Jadi sementara ini ikut mengamati saja, yang jelas untuk domisili sudah aman karena satu lokasi dengan SMP yang nantinya u=ingin dituju.

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Sistem zonasi akan terasa memudahkan buat yang banyak sekolah pilihan di sekitar tempat tinggalnya, namun demikian sebaliknya.
      Alhamdulillah kita termasuk yang beruntung karena sekolah incaran masuk dalam zonasi, ya?

      Reply
  6. srisekartadji
    srisekartadji says:

    Kayaknya peraturannya sama kayak di tempat saya ini mbak, Jatim. Sistem zonasi, ya. Kayaknya masih jadi polemik, ya. Ada yang setuju ada yang kecewa juga.

    Reply
  7. Roik
    Roik says:

    Dan paling pusing tuh pas waktu ini. Liburan ga berasa liburan karena harus nyiapin ini itunya ppdb. Kalau nyari aman sih aku lebih suka datang ke sekolahnya langsung mbak

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Betul Mbak, mending langsung daftar ke sekolahnya. Melihat pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang mendaftar online mwndapat masalah karena masih kurang siapnya sistem.

      Reply
  8. Titi keke
    Titi keke says:

    Kebetulan blum punya anak sekolah usia sih tp melihat kerepotan orang tu menyiapkan ini itu rasanya perlu dibarengi dengan pengetahuan semacam ini

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply