Sahabat, Yakin Bukan Klaim Sepihak?

Sahabat

Berbicara tentang sahabat, hmmm rasanya ini topik yang menyenangkan. Ingatan kita akan berlari pada beberapa peristiwa yang telah terlalui. Moment bahagia, sedih, atau bahkan tragis dilalui bersama bukan sekali dua kali dengan teman yang sama. Dia atau mereka tempat dimana kita merasa nyaman untuk bercerita, dukungannya selalu mampu kembali menguatkan saat menghadapi berbagai kerumitan yang kadang membuat hati sedikit rapuh. Dia atau mereka yang selalu merelakan telinganya untuk kita jejali dengan berbagai curhatan, hingga hati jadi lebih plong dan senyum pun dengan ringan kembali terkembang.

Dia atau mereka yang dengan ketulusannya berkali-kali menyelamatkan hati dari rasa nestapa saat skenario hidup yang dijalani sedang menempatkan diri pada peran terdzolimi, atau tokoh paling merana sedunia. Tak jarang nyatanya itu hanyalah kebaperan kita belaka, dan sahabatlah yang menggandeng tangan kita, kembali membukakan mata dengan caranya sendiri agar kita tak terlarut dalam kerapuhan hati yang tak berarti.

Nah… sepertinya beberapa kepingan kisah mulai berkelebat di ingatan teman-teman, ya? senyum-senyum sendiri deh pasti mengingatnya, meskipun kisah yang dilalui saat itu bukan kisah yang manis, tapi ibarat secangkir kopi pahit, si sahabat ini hadir sebagai gula, yang membuat kita pada akhirnya dapat menyeruput kopi yang tersaji sampai habis bahkan merasakan nikmatnya. Hehehe…

Berapa sahabat yang teman-teman miliki? tentu saja jumlah sahabat tak akan sebanyak teman, karena mendapatkan sahabat tidak semudah menemukan teman. Hubungan persahabatan lebih dari sekedar pertemanan, namun hubungan pertemanan bisa menjadi filter untuk menemukan sosok sahabat. Selain keluarga, sahabat adalah bentuk lain dari rejeki yang patut kita syukuri.

Saat kita mengklaim seseorang sebagai sahabat kita atas perasaan nyaman yang kita rasakan dari ketulusannya, pernahkah kita juga memikirkan tentang perasaan dia atas hubungannya dengan kita? Apakah dia juga merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang sama? Apakah kita juga sudah menjadi sosok sahabat yang baik untuknya?

Yuk kita cek sama-sama!

Jika dalam keadaan sulit adalah namanya yang terbersit, apakah saat bahagia kita mengingat namanya juga? Bukan sekedar untuk bercerita kebahagiaan kita, namun juga untuk mencari tahu tentang suasana hatinya. Apakah dia juga tengah berbahagia? atau jangan-jangan tengah terseok dan membutuhkan seseorang untuk mengenggam tangannya.

Pernahkah dengan sengaja kita menanyakan kabar dirinya? Bagaimana suasana hatinya? Menyiapkan telinga, waktu, dan hati untuk sekedar mendengarkan kisahnya.

Yakin, keinginan bertemu dengan dia bukan hanya saat ingin menjejalinya dengan cerita kita? Membutuhkan perhatian dan dukungannya untuk kita saja?

Jika kita mampu dengan nyaman bercerita hingga kisah terkelam hidup kita, apakah kita pun memberikan kenyamanan yang sama? Mari renungkan kembali!

Untuk membangun sebuah hubungan yang positif memang perlu dibarengi upaya untuk menekan ego pribadi dan mempertajam empati, agar syarat take and give terpenuhi. Hubungan positif bukan sekedar tentang bahagia yang kita rasa, namun pastikan bahagia itu dirasakan oleh semuanya.

Menyimak cerita seorang teman, membuka mata saya tentang satu sisi kelam kisah persahabatan yang mungkin jarang terungkapkan, karena rasa sungkan.

Duuuh, semoga hubungan kita dengan seseorang atau mereka yang kita panggil sahabat bukan sekedar klaim sepihak. Huhuhu….

Baca juga cerpen tentang kisah persahabatan di sini

34 comments
  1. Ipeh termasuk yang belum punya sahabat yang bener-bener sesuai kaya kriteria di atas. Masih kebanyakan teman atau teman dekat. Karena, posisi ipeh saat ini sering susah untuk ketemuan jadi jarang ada yang bisa bertahan sampai lama. Tapi, pencarian sahabat ga berenti. Ipeh masih terus mencari dan menanti. Siapa tau Tuhan kasih di waktu yang tepat nanti.

  2. Jadi inget seseembak aku, teh. Ah semoga ada yang menganggap aku sebagai sahabat, bukan hanya aku yang menganggap sahabat. Biar nggak bertepuk sebelah hati ya, teh. Hihihi

    1. Hihi… iya Dek, abis ngobrol sama temen teteh juga jadi coba mengevaluasi lagi hubungan dengan sahabat-sahabat tersayang.

  3. Ini semacam perenungan apakah selama ini kita menganggap persahabatan sebagai hubungan yang saling mendukung, bukan hanya tempat di mana ada orang-orang yang bisa kita percaya untuk mendengarkan cerita kita saja. Kadang lupa, sahabat kita juga butuh didengarkan, bukan hanya mendengarkan.

  4. Benar banget, jangan sampai kita egois, kita aja yang mau didengerin tapi kita gak pernah ada untuknya.
    Duhhh jadi kangen sahabat sahabatku yang sudah jauh sejak menikah,
    Tapi dalam doa selalu saling mendoakan

  5. Itulah kenapa yang namanya sahabat itu jumlahnya sedikit banget. Saya sudah 6 tahun di Bali tapi sahabat saya yg baru tidak bertambah sama sekali. Kalo teman sih nambah banyak. Hahaha. Sahabat saya dari dulu ya itu-itu saja, tak kurang dari 6 orang. Mereka yang benar-benar ada saat senang dan sedih, tak pernah pergi.

  6. Pernah punya sahabat yang klik banget, susah senang dijalani bersama, tapi setelah menikah dan kariernya melaju, kami semakin jarang bertemu, ia sibuk sekali, hiks,

  7. Dewi punya sahabat dari smp, kita ga pernah curhat-curhatan tapi saat kita kngen baru bisa saling senggol obrolan. Ajaibnya kita kangennya serung bareng. Hihihi. Arti sahabat bagi kami saat kita enggak saling menuntuk utk diperhatikan, karena kehidupan sehari-hari kami sdh fokus pada kesibukan masing-masing….

  8. Hahaha…bener kak…jangan hanya kita yang menganggap dia sahabat…eeee….dianya kita ga tau ya…kita juga harus melatih diri utk menjadi pribadi yg baik agar layak dijadikan sahabat…

  9. wah gak kepikiran kaya gini loh akutuh, ternyata bisa jadi ya klaim sepihak, jadi malu kalo sampe begitu heu

  10. Saya termasuk orang yang tak banyak memiliki sahabat. Saya tergolong orang yang tertutup dan lebih suka menyimpan cerita suka dan duka sendirian. Entahlah, apakah ada teman yang menganggap saya sebagai sahabatnya.

    1. Berkat teknologi, komunikasi bisa tetap terjalin ya Mbak. Kalau zaman dulu lewat surat, nunggunya berhari-hari. Hihi…

  11. Alhamdulillah saya punya banyak sahabat baik yang saling mengingatkan dalam kebenaran, karena ternyata persahabatan bisa kekal hingga ke syurga, selama persahabatan itu dilandaskan pada kecintaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Bersyukurlah saat kita masih punya banyak sahabat baik, mereka adalah harta yang tak ternilai harganya

  12. Banyak orang yg berani berkeluh kesah kisah terkelam bahkan aib dalam hidupnya di ceritakan terang benderang pada sy…masalahnya sy ga bisa spti org2 tsb..rasanya ga penting bngt orang lain tau ttg masa lalu sy ..jdnya sy bnyk menyimpan kisah orang di kepala …haha malah curcol sy..menurut sy penting bngt pnya sahabat sepanjang diklaim dua belah pihak dan bisa saling mengisi .melengkapi dan support perhatian satu sama lain…

    1. Berbeda-beda cara orang menyikapi masalah serta menjaga kewarasannya. Dan buka tanpa alasan jika banyak yang begitu percaya untuk berbagi kisahnya sama MBak Fitri, tentu karena Mbak orang pilihan yang membuat mereka merasa nyaman meskipun bercerita kisah terkelamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah
Read More

Memetik Hikmah dari Sejarah

'Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah', karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengambil hikmah dari sejarah masa lalunya, menjadikannya sebagai inspirasi untuk menentukan sikap dan langkah yang lebih baik untuk hari ini serta masa depannya.
bangku siluman
Read More

Bangku Siluman

Memang sudah bukan rahasia lagi, jika dari tahun ke tahun pasca PPDB akan marak bisnis bangku siluman di sekolah-sekolah, tawar menawar pun terjadi, sampai harga 'sekian' disepakati.