Selisik 2018

SELISIK 2018 digelar setelah Sekolah Tinggi Teknologi Bandung sukses menggelar diskusi publik bertema Making Indonesia 4.0 pada 28 Agustus lalu. Seminar Nasional Telekomunikasi dan Informatika, acara dalam kemasan lebih bergengsi ini, diselenggarakan di Haris Covention Festival Citylink, pada tanggal 1 September 2018 kemarin.

Isu revolusi industri 4.0 memang harus mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak, sehingga kita dapat mempersiapkan diri untuk dapat menjawab tantangan tersebut. Mengingat sumber daya yang kompeten adalah salah satu faktor utama penentu keberhasilan transformasi era 4.0, untuk itu tentang “Bagaimana Mempersiapkan SDM dalam menghadapi Industri 4.0” dipilih sebagai topik SELISIK 2018.

Rangkaian Opening SELISIK 2018 yang Menarik

Lagu Indonesia Raya membuka acara yang dimulai pada pukul 08.00 pagi itu, dilanjutkan dengan persembahan tarian dan angklung yang disajikan dengan apik oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Bandung.

Sambutan diberikan oleh Ketua Panitia SELISIK 2018, Ibu Harya Gusdevi, S.Kom., M. Kom, dilanjutkan oleh Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom, M.T. Pria berkepala plontos ini menyampaikan bahwa kondisi saat ini Indonesia telah tertinggal 40 tahun dalam pendidikan, dan 75 tahun dalam hal teknologi dibandingkan dengan negara-negara maju lain. Untuk itu persiapan akan sumber daya yang kompeten dalam pengetahuan dan pemanfaatan teknologi digital tak terhindarkan.

Guru besar ITB, Bapak Prof. Dr.Ing Ir. Iping Supriana Suwardi tampil dengan siraman rohaninya. Beliau menggarisbawahi, bahwa kehebatan industri 4.0 ini masih jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan proses industri di dalam tubuh kita. Untuk itu, beliau pun mengajak untuk mempersiapkan diri dengan mengkaji hal-hal mendasar proses penciptaan Illahi, sebagaimana Al Khwarizmi telah melakukannya, sehingga menemukan algoritma. Dimana kata algoritma sendiri merupakan penghargaan dari para ilmuwan barat, yang dalam pengucapannya Al Khwarizmi menjadi algorism.

Penandatanganan MOU Selisik

Ketua APTIKOM Jabar yang diwakili oleh wakilnya, bergantian dengan Kepala LLDIKTI Wilayah IV juga turut memberikan sambutannya. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU IndoCEISS dan NERIS dengan Perguruan Tinggi yang tergabung di IndoCEISS dan NERIS yang hadir dalam acara dan pemberian cindera mata.
Selanjutnya pemenang SELISIK IT and Animation Competition 2018 diumumkan. Prestasi yang membanggakan dari putra putri bangsa yang tentu saja sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, utamanya pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, agar mereka dapat terus berkarya dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Digital Mastery Capability Tak Bisa Ditunda Lagi

Setelah coffee break, acara pun dilanjutkan kembali. Kali ini Bapak Priyantono, Ph. D, Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Republik Indonesia, yang mendapat kesempatan untuk menjadi pemateri pertama SELISIK 2018. Beliau membawakan materinya dengan cara yang lugas dan santai, sehingga topik serius pun menjadi sangat asik untuk disimak. Melalui pemaparannya beliau mengingatkan bahwa pada kenyataannya kita saat ini sudah berada di era digitalisasi, yang terjadinya jauh lebih cepat dari perkiraan.

Beberapa kasus dicontohkan, seperti pada masa sekarang ini dimana aktivitas memasak bagi ibu rumah tangga cukup dengan menggunakan handphone saja. Sempat tertegun saya menyimaknya, berbagai pertanyaan terlintas dalam benak, “Bagaimana proses memasaknya? Teknologi canggih macam apakah gerangan yang telah berhasil mengambil alih fungsi perangkat alat perang di dapur? dan ternyata jawabannya adalah Go Food.

personal hospital

Beliau pun mencontohkan mobil tanpa supir yang saat ini sangat memungkinkan untuk dioperasionalkan untuk industri penitipan kilat. Lalu ada juga aplikasi yang berfungsi semacam rumah sakit, dengan memanfaatkan data analytic berdasarkan data medical check up pasien, aplikasi ini dapat menganalisa kondisi kesehatan organ tubuh kita.

robot untuk pertanian

Bahkan dalam bidang pertanian, dengan bantuan robot maka bertani dapat dilakukan cukup melalui handphone saja. Wooow, luar biasa. Secepat inikah revolusi yang akan segera terjadi dalam kehidupan kita? Jawabannya, ya, sangat cepat, dan kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Dalam dunia industri di era disrupsi ini, produk yang dibutuhkan adalah produk dengan value yang tidak dapat ditolak pelanggan (disruption product). Lalu bagaimana cara menyiapkannya? Diperlukan kolaborasi antar generasi, dimana generasi millenial sebagai pencetus ide-ide segar dan inovatif, membutuhkan dukungan dari generasi sebelumnya sebagai pemegang otoritas.

Beliaupun mencontohkan beberapa bisnis besar yang melesat dengan sangat cepat, dimana mereka mengawali bisnisnya bukan dengan motivasi mencari keuntungan, namun dengan niat untuk memberikan kemudahan dan solusi bagi sesama, sebut saja Gojek, Facebook, Google, dan Apple. Maka beliau pun menggarisbawahi bahwa hanya orang yang berpikir untuk memberi kemanfaatan bagi sesamalah yang akan menang dalam industri 4.0 ini.

Membangun Sumber Daya Manusia yang Siap Bersaing di Era 4.0

Bapak Prof. Dr. M. Suyanto, M.M. Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, tampil sebagai pemateri terakhir SELISIK 2018. Suasana segar langsung terasa sejak awal beliau memperkenalkan dirinya dengan gaya santai dan jenaka. Berulang kali gelak tawa peserta memenuhi ruang saat menyimak penuturan beliau.

Sumber daya manusia akan terbagi menjadi empat di masa yang akan datang, yaitu; professional, enterpreneur, scientist, dan artist. Battle of Surabaya, film animasi yang berhasil menyabet banyak penghargaan tingkat internasional dimana beliau terlibat sebagai penulis skenarionya merupakan salah satu contoh karya nyata keberhasilan industri seni.

Battle of Surabaya

Inovasi adalah hal penting yang harus dimiliki dalam suatu produktivitas. Beliau membagikan pengalamannya, bagaimana para mahasiswa AMIKOM diberikan tantangan untuk terjun langsung di dunia industri sehingga mereka telah mampu menghasilkan dollar dari kreativitasnya.

Hal penting lainnya yang perlu ditanamkan adalah budaya tujuan, seperti yang diterapkan AMIKOM pada mahasiswanya, ‘kerja keras adalah Ibadah.’

Inti dari semua pemaparan yang disampaikan dalam SELISIK 2018 adalah, keberhasilan menghadapi era disrupsi bukan saja sekedar mempersiapkan sumber daya yang kompeten dalam penerapan dan pemanfaatan teknologi digital, namun sangat penting untuk menjadikan keimanan sebagai landasan mental dalam persiapan menghadapinya.

Blogger Joeragan Artikel

Begitu menariknya seminar ini, hingga tak terasa sudah sampai di penghujung acara. Foto bersama yang dilanjutkan dengan makan siang, dan hiburan dari Unit Kegiatan Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, menjadi penutup acara keren ini.. Beruntung sekali, saya menjadi salah satu peserta yang berkesempatan hadir di sini.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply