tulis menulis

Sejak bergabung bersama Odop, hasrat menulis yang sudah sekian lama beku kembali mencair. Berkumpul dengan orang-orang bertalenta yang suka berbagi ilmu adalah sebuah anugerah. Di awal blog walking, benar-benar saya dibuat kagum oleh renyahnya diksi yang disuguhkan oleh teman-teman Odop dalam tulisannya. Tersadarlah diri ini, ternyata nutrisi bacaan saya minus sekali. Memang, saat itu saya sudah jarang sekali berkencan dengan buku, apalagi menulis.

Padahal dulu, saat masih duduk di bangku SD, sering sekali kena tegur Mama Papa, lantaran suka lupa waktu kalau sudah membaca. Novel-novel karya Enid Blyton yang berkisah tentang petualangan para detektif cilik seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, atau kisah-kisah di sekolah asrama seperti Si Badung, dan Malory Towers, menjadi bacaan favorit.

Walaupun sebenarnya buku apa saja yang saya temukan pasti saya baca. Pada era 1980an seingat saya anak-anak cukup bersahabat dengan buku-buku bacaan. Perpustakaan mudah ditemui, dan sempat menjadi trend, sehingga orang yang memiliki koleksi buku bacaan cukup banyak, biasanya mereka membuat perpustakaan di rumah, dan menyewakan buku-bukunya.

Pada saat itu minat anak-anak pada buku-buku bacaan juga cukup tinggi, walaupun kebanyakan mereka lebih tertarik dengan bacaan komik, seperti Asterix, Lucky Luke, Tintin, Donal Bebek, dan banyak lainnya. Tentu saja karena pada masa itu hiburan masih sangat minim. Hanya ada satu stasiun televisi, yaitu TVRI, itu pun baru mulai siarannya pada sore hari.

Memasuki SMP, mulai mengenal majalah-majalah remaja seperti Gadis, Hai, dan Mode. Dulu membaca majalah menjadi salah satu sumber informasi biar tetap update, sebelum era internet seperti sekarang ini. Cerpen, dan cerita berseri dalam majalah-majalah itu selalu saya ikuti. Sampai akhirnya seorang teman mengenalkan saya pada majalah Anita Cemerlang, yang isinya memuat kumpulan cerpen dan cerbung bernuansa kisah cinta remaja. Ah, cucok banget kan buat seorang abegeh yang baru kenal rasanya jatuh cinta pada saat itu?

Terinspirasi dari cerpen-cerpen yang dibaca, maka mulailah belajar menulis cerpen. Jadi punya dua cara buat menyalurkan galau bin baper pada saat itu, selain diary, kalau mood lagi bagus coba menuangkannya ke dalam cerpen, walaupun hanya untuk disimpan di bawah tumpukan baju dalam lemari. Sayangnya, sejak masuk masa SMA, padatnya kegiatan di luar membuat aktifitas menulis tidak berlanjut, kecuali menulis diary, dan itu pun hanya sesekali diisi.

Bersyukur sekali ketika dipertemukan dengan teman-teman Odop. Berkumpul dalam lingkungan penulis membuat gairah menulis saya kembali lagi. Di sini juga saya mendapatkan banyak ilmu seputar dunia kepenuliasan. Walaupun belum dapat melahirkan karya yang luar biasa, namun menulis dapat menjadi sarana bagi saya untuk menuangkan isi pikiran, menyampaikan pesan, dan berbagi.

Ada sederet pe er yang harus saya kerjakan, untuk menjadi seorang penulis, dan konsistensi  adalah salah satu pe er besarnya. Semoga saya mampu mewujudkan cita-cita untuk dapat memberikan manfaat bagi orang banyak, melalui tulisan-tulisan saya. Insyaallah

#tantangan_odop
#born_to_be_writer

 

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply