Belum Lima Menit

flash fiction
belum lima menit
Gambar bulatan berhias aneka warna warni yang setiap hari dipandangi untuk dinikmati dalam imajinasi, kini benar-benar nyata ada di tangannya, untuk dilumat dalam mulut dan mengisi salah satu bagian sudut perutnya.

Satu demi satu butiran itu masuk ke dalam mulut kecilnya, disesap rasa manisnya seiring laju liur yang kini berubah manis dan meluncur membelai tenggorokan. Tak sedikit pun jejak boleh tertinggal pada jemari kecil nan kurus itu, lidahnya lincah membersihkan setiap sudut jarinya dari jejak butiran manis yang mulai meleleh di tangan.

Kini saatnya melumat bagian empuk berwarna kekuningan yang selama ini aromanya selalu menggoda dan membuat bocah berambut ikal itu harus menitikkan liur. Gambar bulatan berhias aneka warna warni yang setiap hari dipandangi untuk dinikmati dalam imajinasi, kini benar-benar nyata ada di tangannya, untuk dilumat dalam mulut dan mengisi salah satu bagian sudut perutnya.

Siang itu matahari garang memanggang bumi, buliran bening bermunculan ke luar dari pori deras meluncur menyusuri kulit coklat bocah itu. Tumpukan koran di tangannya belum lagi banyak yang membeli, namun perut sudah keroncongan minta diisi. Seperti biasa, akhirnya Seno hanya duduk di pelataran parkir sebuah toko donat yang sangat terkenal itu. Sebotol air minum yang dibekalnya dari rumah, hanya tersisa seperempat lagi.

“Ma… donatnya jatuh.” Seru seorang anak bertubuh tambun yang sedang melangkah menuju mobilnya dengan sekantong donat di tangan.

“Ya, udah biarin aja. Jijik” Jawab ibunya seraya menyambar tangan sang anak dan dituntunnya menuju mobil.

Kedua bola mata Seno segera menangkap dan mengunci adegan tersebut. Matanya memandangi kue bulat yang baru saja menyentuh tanah.  Beberapa saat kemudian sebuah mobil putih melaju meninggalkan pelataran parkir itu.

Bergegas Seno menuju ke tempat jatuhnya benda bulat bertabur butiran berwarna-warni dan berlapis hamparan warna coklat milik si anak bertubuh tambun tadi. Senyum bahagia mengembang di wajahnya saat kue bulat itu ada di tangannya.

“Belum lima menit,” gumamnya. Kemudian melangkah menuju sebuah pohon,  duduk di bawahnya sambil menikmati sepotong donat yang telah lama diidam-idamkannya untuk dinikmati.

#FFFKamaksara #day1 #donat

28
Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dwi Arumantikawati
Guest

Whuaa senooo … Kalimat yang sering kita ucapkan juga nih, kalo lihat makanan jatuh, “Belum Lima menit.” hihiii

Dian Restu Agustina
Guest
Dian Restu Agustina

Mbak..aku banget itu..hihihi. Belum lima menit ah, ambil aja. Padahal kan sudah kotor begitu tersentuh tanah ya hiks!

Keren Mbak flash fictionnya :)

Emmy Herlina
Guest

Ya ampun, gak merhatiin kalo ini ternyata fiksi 😁😁

Heni Lestari
Guest
Heni Lestari

Donaaatt… jadi pengen nyomot juga, belum lima menit. hihihi

srijembarrahayu
Guest

Peluk Seno. Cerita yang menyentuh.

Nyknote
Guest

Mayannnn…belum lima menit. Bisa ngisi perut yang dah kruyuk-kruyukkk… Hehe top deh fiksinya

tamasyaku.com
Guest

Jadi pengin donat membayangkan sambil hanyut dalam ceritanya.

Melina Sekarsari
Guest

Kok kayak saya ya, selama jatuhnya bukan di kotoran, lumpur, air, sikat aja deh. Cuwil-cuwil bagian yang sudah terlihat kotor hehehe …

Steffi Budi Fauziah
Guest

Belum lima menit, saya pun jg selama masih bagus dan yang kotor gak semuanya jg bakalan di ambil dan dibersihkan, abis itu di makan deh hihi.

Bunda Erysha (yenisovia.com)
Guest

Wah bagus mba penuturannya. Saya suka dengan bahasanya. Dan menurut saya berbahasa seperti itu sulit

Nanik K
Guest
Nanik K

Donutnya bikin ngiler hehehe …
Nunggu lanjutan ceritanya.

Bety Kristianto
Guest

Begitulah hidup. Sesuatu yang sepele, bisa jadi sangat berharga bagi orang lain.

Titi keke
Guest

Yey sya juga pasukan belum lima menit hihihihi

Ika Yudaningrum
Guest

Hehehehe itu belum lima menit jadi ingat iklan zaman dahulu kala… Masih melekat diingatan ya mbak. Flash nya keren

You May Also Like
puisi rindu
Read More

Rindu…

Ma... kini papa telah bersemayam di sampingmu. Dua puluh tujuh tahun sudah beliau jalani sisa usianya tanpamu. Betapa kami kerap berbagi rasa rindu tentangmu ma....
mari berbagi
Read More

Mari Berbagi

Keke ingat nasihat ibu, untuk mengatakan yang sebenarnya dan meminta maaf. Itu hal pertama yang harus dilakukannya.