flash fiction

Satu demi satu butiran itu masuk ke dalam mulut kecilnya, disesap rasa manisnya seiring laju liur yang kini berubah manis dan meluncur membelai tenggorokan. Tak sedikit pun jejak boleh tertinggal pada jemari kecil nan kurus itu, lidahnya lincah membersihkan setiap sudut jarinya dari jejak butiran manis yang mulai meleleh di tangan.

Kini saatnya melumat bagian empuk berwarna kekuningan yang selama ini aromanya selalu menggoda dan membuat bocah berambut ikal itu harus menitikkan liur. Gambar bulatan berhias aneka warna warni yang setiap hari dipandangi untuk dinikmati dalam imajinasi, kini benar-benar nyata ada di tangannya, untuk dilumat dalam mulut dan mengisi salah satu bagian sudut perutnya.

Siang itu matahari garang memanggang bumi, buliran bening bermunculan ke luar dari pori deras meluncur menyusuri kulit coklat bocah itu. Tumpukan koran di tangannya belum lagi banyak yang membeli, namun perut sudah keroncongan minta diisi. Seperti biasa, akhirnya Seno hanya duduk di pelataran parkir sebuah toko donat yang sangat terkenal itu. Sebotol air minum yang dibekalnya dari rumah, hanya tersisa seperempat lagi.

“Ma… donatnya jatuh.” Seru seorang anak bertubuh tambun yang sedang melangkah menuju mobilnya dengan sekantong donat di tangan.

“Ya, udah biarin aja. Jijik” Jawab ibunya seraya menyambar tangan sang anak dan dituntunnya menuju mobil.

Kedua bola mata Seno segera menangkap dan mengunci adegan tersebut. Matanya memandangi kue bulat yang baru saja menyentuh tanah.  Beberapa saat kemudian sebuah mobil putih melaju meninggalkan pelataran parkir itu.

Bergegas Seno menuju ke tempat jatuhnya benda bulat bertabur butiran berwarna-warni dan berlapis hamparan warna coklat milik si anak bertubuh tambun tadi. Senyum bahagia mengembang di wajahnya saat kue bulat itu ada di tangannya.

“Belum lima menit,” gumamnya. Kemudian melangkah menuju sebuah pohon,  duduk di bawahnya sambil menikmati sepotong donat yang telah lama diidam-idamkannya untuk dinikmati.

#FFFKamaksara #day1 #donat

28 replies
  1. Dian Restu Agustina
    Dian Restu Agustina says:

    Mbak..aku banget itu..hihihi. Belum lima menit ah, ambil aja. Padahal kan sudah kotor begitu tersentuh tanah ya hiks!

    Keren Mbak flash fictionnya :)

    Reply
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Benar sekali mbak. Tidak jarang hal-hal kecil baru kita sadari itu sebagai nikmat, justru saat telah kehilangan.

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply