Dibully Kaos Kaki

cerpen teenlit

Panik… panik… panik… jarum pendek jam di dinding sudah hampir sejajar di angka 7, tak bisa kuharapkan lagi. Hanya jarum panjang saja yang masih sudi memberiku harapan dengan masih menjaga jaraknya 5 angka dari angka 12.

Kaos kakiku masih belum kutemukan, tampaknya mereka sedang mengajakku bermain petak umpet dengan bersembunyi diantara gundukan pakaian bersih dan pakaian kotor, atau bersembunyi nyempil di antara deretan sepatu di rak.

Ah sudahlah, melayani permainan mereka hanya akan membuang waktuku, sementara jam pelajaran pertama hari ini kabarnya akan dimeriahkan dengan ulangan matematika. Aaaarggghh, menyebalkan!!!

Kutarik laci lemari Kak Peni, dan seperti kuduga, disana deretan gulungan kaos kaki berbaris rapi tersenyum dan melambai padaku. Ah… inilah solusi dari semua masalahku.

Kuambil sepasang kaos kaki putih, lalu kubuka gulungannya. Nah… dan kini timbullah masalah baruku, kaos kaki Kak Peni semuanya minimalis, hanya berukuran sekitar 5-6 cm saja diatas tumit, sedangkan aku lebih suka kaos kaki yang lebih bongsor, paling tidak mampu menutupi tulang mata kakiku dengan seksama.

‘Triiiing’ ide cemerlang berkelebat di kepala, G U N T I N G. Ya, itu jawabannya. Segera kuambil gunting di laci meja belajarku, dan… ‘kreeekkk’ kupotong kedua ujung kaos kaki kakakku agar aku bisa menariknya lebih tinggi, sehingga tulang mata kakiku terbungkus rapi, walaupun aku harus mengorbankan perlindungan kehangatan dari sang kaos kaki yang menjadi hak si jempol kaki dan familinya. Hihihi…
Urusan Kak Peni gampang saja, sepulang sekolah nanti aku akan membeli kaos kaki baru untuk menggantinya. Ok, siiippp.

Hanya tinggal 20 menit lagi tersisa waktuku untuk segera sampai di sekolah, agar bisa mengikuti ulangan matematika tanpa terlambat. Bergegas kusambar tasku, dan pamit pada mama yang tengah asik bersenandung sambil mencuci sayuran di dapur.

“Ma, Ocha pamit pergi dulu, assalamu’alaikum.” Kuhampiri Mama untuk meraih tangannya yang basah dan kucium sebagai simbol memohon restu.

“Ya, wa’alaikumsalam, ga ada yang ketinggalan? hati-hati ya!” Kata-kata yang hampir sama selalu Mama lontarkan setiap kali aku pamit padanya. Ya…bukan tanpa alasan, tentu saja itu karena beliau sudah hafal betul tabiat setiap anaknya.

*********

Ulangan matematika cukup membuat otakku berasap. Ditambah lagi pemanasan sebelumnya, karena aku harus sedikit marathon menuju kelas agar tidak didahului Pak Suryadi yang kulihat tengah bersiap-siap menuju kelas, saat aku melewati ruang guru tadi.

Untunglah selepas matematika kami bisa sedikit relax bersama pak Muhyi guru agama kami, yang memiliki selera humor cukup baik. Sehingga tidak pernah ada suasana tegang bersamanya. Materi demi materi disampaikannya dengan santai, dan sesekali diselingi dengan humor yang selalu sukses membuat kami tertawa.

Jam istirahat tiba, Aku, Dita, Rara, Dean, dan Sita seperti biasa bergerombol menyerbu kantin. Kemudian kami kembali ke kelas, untuk menikmati beragam jajanan yang kami beli tadi.

Aneka jajanan kami simpan di meja untuk dinikmati bersama. Dan seperti biasanya, Ardi cs akan segera menghampiri kami saat di meja sudah tersaji aneka konsumsi. Satu per satu dari mereka mulai bergabung bersama kami, jemarinya lincah memilih jajanan yang mereka minati. Ardi, Rino, Alvin, dan Wawan sudah bisa dipastikan selalu nimbrung di meja kami sekembalinya kami dari kantin.

Sementara di bangku samping jendela, cowok kalem itu sangat jarang ikut merecoki jajanan kami. Cowok kalem bertampang imut yang sapaannya selalu membuatku salah tingkah. Senyumnya yang mempesona, gerak geriknya begitu bersahaja. Ah…. tak pernah tahan mata ini menahan godaan untuk tidak mencuri pandang pada sosok pujaan. Walau sekedar menatap punggungnya itu sudah cukup membuatku bahagia.

Sementara sahabat-sahabatku tengah asik bersenda gurau bersama Ardi cs, aku asik sendiri bersama lamunanku, sambil menatapi sebuah punggung yang menurutku terlalu menarik untuk dilewatkan. Si pemilik punggung itu tengah duduk sambil berbincang-bincang dengan Rendra.

“Cha, lo bisa kan ikutan ke rumah hari ini?” Pertanyaan Rara sedikit mengejutkanku.

“Hah, ngapain?” Tanyaku sambil sedikit mengerutkan kening.

“Ah, Elo…. dari tadi dibilang juga, Mama nyuruh kalian datang. Lagi banyak makanan tuh di rumah, kemarin kan ulang tahunnya Papa, tambah lagi Om Dudi datang bawa segala rupa. Nih anak-anak mau pada ikut juga.” Terang Rara sambil menunjuk Ardi cs yang tengah memelototiku, seolah memerintahkan aku untuk segera menyelaraskan konektitivifitas pikiran dan kupingku dengan topik yang tengah dibahas.

“Iya, Gua ikuuut.”

“Ah, Lo mah ngehang mulu Cha, banyakan mikirin utang loooo. Hahaha…..” kelakar Wawan yang diikuti tawa dukungan Ardi, Rino, dan Alvin.

“Gimana gua mau konek, tiap beli makanan buat ngecas aja diabisin sama Lo pada.” Balasku mencibir merasa menang, yang diikuti tawa kami bersama.

Tiba-tiba sosok Dandi dan Rendra sudah bergabung bersama kami. Dandi menghampiri Alvin yang tepat berada di depanku.

” Ni, flashdisk lo Vin, thanks ya.” Katanya sambil menyodorkan sebuah flashdisk orange pada Alvin.

“Eh, kalian mau ikutan ke rumah Gua juga nggak entar pulang sekolah? Yuk, biar seru.” Ajak  Rara pada Dandi dan Rendra.

“Di rumah Rara lagi banyak makanan uuuy, kita sikaaaat.” Timpal Ardi bersemangat.

“Siappppp,” jawab Dandi dan Rendra kompak.

Terang saja ini membuat hatiku loncat-loncat kegirangan. Yes…yes…yes… dia ikuuuutt. hatiku berteriak senang.

Bel pulang sekolah terasa lebih lama dari biasanya. Sudah tidak sabar rasanya ingin segera menghabiskan waktu menikmati kebersamaan dengan Dandi di rumah Rara nanti. Walaupun beramai-ramai tapi hatiku akan mampu merasakan kalau hanya aku dan dia saja yang ada di sana. Ahiiiwww

Sesaat setelah bel pulang berbunyi, kami berjalan bersama-sama keluar kelas. Anak-anak cowok tampak begitu bersemangat untuk menyukseskan misi mereka menyikat aneka makanan yang akan disajikan di rumah Rara nanti. Hahaha… dasar perut anaconda!!!

**************

Sampai di rumah Rara kami duduk-duduk dahulu di teras rumahnya, sambil menunggu Mama Rara turun membukakan pintu. Saling melempar canda dan tertawa bersama. Sesekali kulirik Dandi, mengagumi perpaduan sempurna perhiasan wajahnya yang semakin menawan saat dia tertawa.

“Eh kalian sudah datang, ayo masuk masuk!” Mama Rara membukakan pintu menyambut kami dengan senyum ramah dan bersahajanya.

“Iya Tante,” jawab kami serempak.

Kami pun segera membuka sepatu, dan…..

Aaaarrggghhh…. tidaaakkk, aku lupa tentang kaos kakiku! tapi sepatu kanan sudah terlanjur kulepas.

“Eh Cha, kaos kaki lo kenapa???” Teriak Rino sambil menunjuk kakiku dan tertawa terbahak

Semua mata tertuju pada kakiku yang tampak setengah telanjang karena ulahku tadi pagi. Oh noooo, semua tertawa, menertawakan kekonyolanku, termasuk Dandi. Ya, termasuk Dandiiiii.

Rasa hangat seketika terasa menjalari seluruh permukaan wajah dan telinga, kuyakin wajahku matang bak kepiting rebus saat ini. Rasanya ingin kumasukkan kembali kaki ini sekaligus wajahku ke dalam sepatu.

Ya Allah…. kenapa Dandi harus turut menjadi saksi kekonyolanku hari ini? Kenapa????

 

14
Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
LilihMuflihah
Guest
LilihMuflihah

Saya pernah dikomplain murid karena pake kaos kaki gambar boneka. Saya pikir gak kan ada yang ngeliatin kaos kaki. Hehe

fe13bi
Guest

Hahahaha kocak. Mendingan kaos kaki lain sebelah daripada begini

Wiwid
Guest
Wiwid

Keren idenya nih

rahayunurcahyani
Guest

Lucu dan koplak…
Idenya cemerlang sekali kak…sampe dipotong gitu..

Siti Maemunah
Guest

Keren mbak.. Kemarin sy buat cerita yg ngubek2 kacamata.. Hehe

Myrosmala
Guest
Myrosmala

Hahaaa kereeen gan..

Dian Muchtar
Guest

kocak hahaha

You May Also Like
Cerita Fiksi Surti dan Tejo
Read More

Surti dan Tejo

"DZIIGGGHHH!!!" tinju Surti mendarat mulus di bibir Tejo. Belum puas dengan itu, Surti mengambil bungkusan besar yang diberikan Tejo padanya.
flash fiction
Read More

Belum Lima Menit

Gambar bulatan berhias aneka warna warni yang setiap hari dipandangi untuk dinikmati dalam imajinasi, kini benar-benar nyata ada di tangannya, untuk dilumat dalam mulut dan mengisi salah satu bagian sudut perutnya.