Do’a Dalam Hujan

fiksi do'a dalam hujan
Bermacam tagihan dan utang di sana-sini, sisa tambalan kebutuhan sehari-hari, menjadikan penghasilannya selalu tak mencukupi. Ada rasa sesak yang menyengal, manakala teringat si bungsu yang sedang sakit hanya makan berlauk kecap pagi tadi.

Langit semakin gelap, gumpalan awan kelabu berbondong-bondong menutupi birunya. Hawa dingin merayapi tubuh, melesak menusuki pori. Lelaki itu mempercepat langkah dengan beban di pundaknya.

Butiran hujan mulai menghujami bumi, dan baginya hujaman ini terasa menusuk hingga sanubari. Hujan, berarti kesempatan berkeliling menjajakan dagangan yang belum laku semakin berkurang. Teras sebuah toko menjadi pilihan tempat berlindung. Sedikit harap kembali terbit, melihat dirinya tidak sendiri di situ.

“Semoga ada satu dua orang yang akan membeli,” bisik hatinya.
 
Empat puluh menit sudah berlalu, tak seorang pun menghampiri untuk memesan rujak tumbuk. Hatinya mulai gerimis, teringat si bungsu yang tengah terbaring sakit di rumah. Betapa ingin hatinya mengoleh-olehi bungsu kesayangan sebungkus soto, agar makannya bisa lebih lahap nanti.
 
Bermacam tagihan dan utang di sana-sini, sisa tambalan kebutuhan sehari-hari, menjadikan penghasilannya selalu tak mencukupi. Ada rasa sesak yang menyengal, manakala teringat si bungsu yang sedang sakit hanya makan berlauk kecap pagi tadi. Do’a demi do’a dilangitkan, berharap Tuhan memberikan jalan.
 
“Pak, mau rujaknya satu, dong!” Seorang wanita menghampiri. Ada buncahan rasa bahagia yang melukiskan sebuah senyum di wajahnya.
 
“Pak, kalau hari Minggu nanti, kira-kira Bapak bisa ngisi stand makanan di pernikahan kami, tidak?” Lanjut wanita itu, dengan tatap penuh harap.
Tuhan telah menjawab do’anya.

#flash_fiction
#kamaksara
#TantanganMenulisKAMAKSARA

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
You May Also Like
don juan
Read More

Don Juan

Dini sendiri tak mengerti, entah apa yang membuat anak itu tiba-tiba mengalihkan pandangan pada dirinya. Padahal banyak anak perempuan lain yang jauh lebih cantik dan mengejar-ngejar dia. Ge er? Ah, entahlah. Yang pasti ini rasanya seperti mimpi.
pesona tetangga baru
Read More

Pesona Tetangga Baru

Aku selalu pada posisi siaga untuk menangkap lemparan senyum manis dan sapanya. Itu saja rasanya sudah cukup membuat hariku jadi lebih berwarna. Dan semua kebahagiaan itu akan kugoreskan pada lembar kertas buku harianku.