,

Don Juan

don juan

“Din, kita pulang bareng?” anak lelaki itu tiba-tiba sudah menjejeri langkah Dini.

Akhir-akhir ini memang dia terus coba menarik perhatian gadis itu. Fery, anak lelaki yang banyak digilai anak-anak perempuan di sekolah, karena wajahnya yang tampan, juga dikenal sebagai bintang basket, selain dirinya juga sangat supel, dan piawai dalam mendekati wanita.

Dini sendiri tak mengerti, entah apa yang membuat anak itu tiba-tiba mengalihkan pandangan pada dirinya. Padahal banyak anak perempuan lain yang jauh lebih cantik dan mengejar-ngejar dia. Ge er? Ah, entahlah. Yang pasti ini rasanya seperti mimpi.

“Biar aku pulang pakai angkot saja.” Dini coba menolak halus. Walaupun sesungguhnya di dalam hati riang bukan kepalang. Inginnya mengangguk saja, tanda setuju. Namun hati kecilnya mencegah Dini melakukan itu.

“Yah ... please, please... untuk kali ini jangan menolak Din.” Kedua telapak tangannya disatukan, tepat di depan wajahnya.

Dini merasa geli melihat tingkah Fery. Namun dia juga menyadari, banyak pasang mata yang tengah mengamati mereka. Antara malu dan mau bergumul di hatinya.

“Baiklah, tapi tunggu sebentar, ya! Aku mau ngembaliin buku ini dulu ke perpustakaan.” Akhirnya Dini menyetujui.

“Oke, aku tunggu di sini, ya!” Fery tersenyum senang.

Selesai mengembalikan buku, Dini bergegas kembali kepada Fery yang tengah menantinya. Hatinya berbunga-bunga, membayangkan hari ini akan pulang bersama Fery. Berboncengan di atas motor hitam, membelah jalanan, seperti dalam film-film remaja yang pernah disaksikannya.

Fery tengah dikerumuni teman-temannya, mereka tampak asik bercanda. Ada rasa ragu yang menyelinap di hati Dini. Rasa malu itu kembali mendominasi. Namun, mengingat dirinya sudah berjanji, maka Dini pun perlahan melangkah menuju tempat Fery menunggunya.

“Gila lu, Fer. Sadis... beneran deh lu, Don Juan sejati. Cewek gitu galaknya, tetep klepek-klepek sama lu.”

Kata-kata Ridwan yang tertangkap telinga Dini, menggelitik rasa ingin tahunya. Siapa yang dimaksud dengan cewek galak itu?

“Ah, lu aja yang ga punya sekil. Buktinya segalak-galaknya Dini, kalau sama ahlinya ya nurut juga. Hahaha...” Dudi menimpali.

“Siapa dulu...” Dengan ibu jari menunjuk Dada, Fery tersenyum bangga di hadapan teman-temannya.

Adegan itu memercikan api di hati Dini. Ada rasa tak suka ketika menyaksikan Fery seolah menjadikan kedekatan yang baru terjalin di antara mereka, sebagai sebuah kebanggaan. Illfeel seketika pada si Don Juan.

Dini memutar langkahnya, memilih gerbang samping sebagai jalan pulang. Gadis itu menyesal tidak mengikuti kata hatinya sejak awal.

#kamaksara
#TantanganMenulisKamaksara
#flash_fiction_hati_hitam

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply