Harga Diri

harga diri
Dua lembar ratusan ribu kusodorkan padanya, lelaki yang kusebut suamiku, ayah dari anak-anakku. Lalu kami melaju di atas motor tua, membelah dinginnya udara sore sepeninggal hujan. Kembali menuju rumah setengah kayu tempat kami berteduh.

Keseruan berbagi cerita sejenak teralihkan oleh pemandangan serbuan air hujan yang menerjang bumi, pada jendela kamar hotel. Aku mulai gelisah, memikirkan dia yang menanti di luar sana.

“Kamu tadi benar diantar ojek?” Pertanyaan Kak Haris membuyarkan kegalauanku.

“Iya, benar.” Aku berusaha kembali santai, dan melanjutkan obrolan kami.

Bermacam hidangan serta minuman tertata rapi di atas meja, menemani kebersamaan kami. Si kecil dalam gendonganku masih terlelap, setelah terjaga selama dua malam, karena demam dan kejangnya yang kembali kambuh.

Banyak hal yang kami bicarakan, tapi hampir semuanya bertema nostalgia. Dan selebihnya adalah masalah keluargaku. Ya, teman-teman sekolahku semua sudah tahu, bahwa kehidupanku kini berputar 180°. Nama anggota keluargaku turut mengisi data penduduk miskin Indonesia. Teman-teman merasa iba, demikian pula dengan lelaki di hadapanku saat ini, kakak kelasku dulu yang saat ini sudah berstatus duda.

Lukisan hujan yang terlihat dari jendela kamar hotel sudah tak tampak lagi. Hujan sudah reda. Kembali aku ingat seseorang yang tengah menungguku di luar sana.

“Kak, Lani sekarang pulang dulu, ya. Mumpung hujannya sudah reda,” pamitku.

“Oh iya, okey. Mmmmh … sebentar.”

Seperti dugaanku, Kak Haris merogoh dompetnya, dan mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompet kulit hitam itu.

“Ini, buat ganti ongkosnya. Ini buat adek Ridho, yang ini buat kakaknya.”

Tumpukan lembar merah itu disodorkannya padaku menjadi tiga bagian, yang masing-masing terdiri dari tiga lembar. Hatiku tersenyum.

“Buat Laninya mana?” Candaku dalam balutan senyum termanis.

“Ini buat kamu.” Beberapa lembar merah kembali disodorkannya padaku.

“Hapenya nanti biar Kakak kirimin aja, ya,” sambung kak Haris. Kurasa sebuah senyum dariku cukup sebagai jawaban.

Kak Haris mengantarku hanya sampai pintu kamar hotel. Di dalam lift kuhitung kembali lembar merah yang kini telah menghuni dompetku.

“Satu juta lima ratus ribu, alhamdulillah … Dek, kita bisa beli susu dan obatmu sayang.” ciumanku bertubi-tubi mendarat di kening si bungsu.

Setelah keluar hotel, mataku liar mencari sesosok pria berjaket coklat. Tertangkap mata dia tengah duduk di atas motor CB tuanya, tepat di seberang hotel. Aku pun bergegas menghampiri.

“Mana ongkosnya?” Sambutan pertama yang terlontar dari mulutnya, dengan tangan menadah tepat di depan wajahku.

Seketika kecemasan akan dirinya yang menggelayuti pikiranku sejak tadi sirna sudah. Rasanya lelaki ini benar-benar tak pantas mendapatkan perhatianku. Tak terbersit rasa cemas dalam hatinya tentang aku dan si bungsu, sedikitpun.

Dua lembar ratusan ribu kusodorkan padanya, lelaki yang kusebut suamiku, ayah dari anak-anakku. Lalu kami melaju di atas motor tua, membelah dinginnya udara sore sepeninggal hujan. Kembali menuju rumah setengah kayu tempat kami berteduh.

Sepanjang perjalanan sebuah kata menyesaki benakku. Harga diri, masihkah kami miliki?

#tantangan_kehilangan

6
Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Nova DW
Guest

Kok aku jadi sedih baca ini ya, mbak Ane? Bukan tentang Lani saja, tapi suaminya itu. Bikin geregetan juga.

Zulaeha
Guest

Terasa nyeri didada membaca fiksi tema begini :(

wiwidnurwidayati
Guest

Sedih bacanya…gimana gitu.

You May Also Like
sesal
Read More

Sesal

Pemuda yang sejak tadi terdiam, kini sudah berdiri di hadapanku. Putra sulungku yang telah menginjak remaja, menatapku penuh kebencian.
pinky boy
Read More

Pinky Boy

Bagi Ria ini adalah hal yang sangat menggelikan, melihat seorang laki-laki menyukai warna pink, sementara Ria mengharamkan pink dalam hidupnya. Entahlah, baginya warna pink itu terlalu kemayu.
pelayan baru
Read More

Pelayan Baru

Mereka duduk berjejer tepat di hadapanku. Jamuan tampaknya mulai dikeluarkan, beberapa botol minuman, dengan butiran obat sebagai hidangannya
cerpen mana janjimu
Read More

Mana Janjimu?

Kamu, menjadi sosok yang terus muncul di pikiranku belakangan ini, berhasil mengobrak abrik hatiku. Kamu gantung aku, kenapa tak tepati janjimu? sungguh terlalu!