harta berharga

Ini hari pertama Dian kembali ke bangku sekolah setelah libur semester ganjil, kembali berkumpul bersama teman-teman, saling bercerita tentang pengalaman semasa liburan.

Seperti biasa Vinda lah yang selalu menjadi pusat perhatian saat bercerita tentang liburannya. Tak pernah ada liburan yang terlewatkan hanya dengan berdiam di rumah saja seperti Dian dan teman-teman yang lain. Dan setiap habis liburan, Vinda pun selalu kembali ke sekolah dengan segala perlengkapan sekolah yang baru. Mulai dari tas, sepatu, sampai alat-alat tulisnya.

Semua yang dimiliki Vinda itu bagaikan magnet yang membuat teman-teman selalu mengelilingi dan mengaguminya. Terkadang ada rasa iri yang terselip dalam hati Dian, bagi Dian Vinda adalah gadis yang paling beruntung di dunia.

Hari pertama masuk sekolah jam belajar belum berjalan dengan normal, ibu guru memulangkan mereka lebih cepat dengan mengoleh-olehi PR untuk dikerjakan di rumah.

“Dian, kita ngerjain PR bareng yuk!” Ajak Vinda sambil menjejeri langkah Dian.

“Boleh. Di rumah kamu?” Tanya Dian penuh harap. Dirinya memang sangat senang bila bermain di rumah Vinda, segala fasilitas ada di sana. Rumah yang bagus, mainan moderen, berbagai buku bacaan, macam-macam gadget, pernik lucu-lucu, dan semua yang diinginkan Dian ada di rumah itu.

“Ah, di rumahmu saja,” balas Vinda.

“Di rumahku tidak ada apa-apa, kalau selesai buat PR paling kita main di luar, atau main dengan mainan lamaku.”

“Nggak apa-apa, sekolah-sekolahan aja lagi sama Kak Ira. Atau bantu-bantu ibumu mengupas singkong dan ubi. Aku suka dengar cerita-cerita ibumu, seruuu.”

Dian mencibir dalam hati. Baginya berada di rumah terasa begitu membosankan. Hanya sebuah televisi butut satu-satunya alat hiburan, itu pun dengan warna-warna gambarnya yang sesekali berubah hitam putih. Bagaimana bisa Vinda merasa betah di rumahnya, hanya dengan mendengarkan cerita ibu, atau bermain dengan Kak Ira yang suka sok mengatur.

Walau kecewa, tapi Dian mengikuti juga keinginan Vinda. Mereka bersama-sama melangkah menuju rumah Dian.

“Assalamu’alaikum…” Serempak Dian dan Vinda mengucapkan salam pada langkah pertama memasuki rumah sederhana bercat biru itu, setelah mereka membuka sepatu.

“Wa’alaikum salam …” balas ibu, serta merta meyambut mereka dan meninggalkan sejenak pekerjaannya di dapur.

Dian dan Vinda meraih tangan ibu dan menciumnya.

“Pulang cepat hari ini? belum belajar benar ya?”

“Iya bu, masih belum benar-benar belajar, tapi tadi kami dikasih PR.” Vinda segera menyambut pertanyaan ibu.

Dian melangkah ke dalam kamar, untuk berganti pakaian dan menyimpan tasnya. Entahlah, setelah mendengar kisah liburan Vinda di sekolah tadi, juga melihat segala perlengkapan baru yang dipakai Vinda hari ini, hati Dian merasa sedih. Sebuah tanya hadir di benaknya, ‘Mengapa ayah dan ibu tidak sekaya orang tua Vinda? ayah hanya seorang tukang ojek, dan ibu membuat makanan dari singkong untuk dititipkan di warung-warung.’

Dua puluh soal yang diberikan akhirnya selesai mereka kerjakan.

“Vin, sekarang main ke rumahmu yuk!” Ajak Dian.

“Mmmhh … nanti deh, kita di sini dulu ya! Aku bosan di rumah, nggak ada siapa-siapa, cuma ada bibik, itupun dia asik sendiri main hape atau nonton. Nyebelin.” Wajah Vinda sedikit cemberut saat mengucapkan itu.

“Eh, ada Vinda. Kalian lagi ngerjain apa?” Kak Ira tiba-tiba muncul, dan sudah bergabung bersama mereka.

“Hai, Kak Ira … main sekolah-sekolahan lagi yuk!” Ajak Vinda begitu bersemangat.

“Hayuk … ! Dian, kamu ambil papan tulisnya ya! Vinda coba pasang tikar. Kak Ira mau ambil spidolnya dulu.”

“Aku nggak ikutan.” Balas Dian sambil melangkah malas menuju kamar.

Kak Ira dan Vinda saling bertatapan, tak mengerti. “Kamu kenapa?” Kejar kak Ira, menghampiri Dian.

“Sakit perut, aku mau tidur aja.” Dian pun masuk ke kamarnya, yang hanya tertutup selembar tirai berwarna coklat.

“Bu … ibu … Dian sakit perut, Bu …” dari kamarnya Dian mendengar suara Kak Ira setengah berteriak, memberitahukan ibu yang sedang di dapur tentang keadaannya, lebih tepat tentang kebohongannya.

“Kamu kenapa sayang?” Ibu datang tergopoh-gopoh menghampiri Dian yang tengah berbaring di tempat tidur, diikuti Kak Ira dan Vinda.

“Nggak apa-apa kok bu, cuma sedikit sakit perut.” Ada sesal yang terselip dalam hati Dian.

“Ibu buatkan sop makaroni kesukaanmu, ya?” Bola mata ibu menatap putri kesayangannya lembut, penuh cinta. Rasanya tak sanggup bagi Dian untuk membalas tatap itu. Sesal di hatinya terus tumbuh dan mengakar, membuat Dian merasa malu pada dirinya sendiri.

“Ira, tolong pergi ke warung ya, nak! belikan ibu makaroni dan wortel, serta bakso untuk sop.”

“Iya, bu.” Jawab Kak Ira.

“Kamu, ibu tinggal dulu sebentar, ya. Ibu selesaikan dulu pekerjaan di dapur. Kalau perlu sesuatu, panggil saja Ibu.” Kecupan lembut mendarat di kening Dian, menembus hingga sanubari, menghadirkan rasa nyaman, perasaan dicintai, dan itu membuat sesal di hati Dian semakin besar.

“Kita nggak usah main sekolah-sekolahan dulu ya, kita bantu ibu membuat sop untuk Dian, supaya lekas matang, dan Dian bisa cepat sembuh.” Suara Kak Ira yang tengah berbicara dengan Vinda, dari arah pintu depan sampai di telinga Dian. Mereka berdua hendak berbelanja ke warung, membeli bahan sop untuk Dian yang tengah bersandiwara sakit perut.

Mata Dian menghangat, air mata bergulir dari kedua sudut matanya. Dia menyesal, mengapa begitu bodoh untuk tak menyukuri hartanya yang paling berharga? kasih sayang, perhatian, dan kehangatan keluarga.

Dian mengerti kini, mengapa Vinda begitu senang bermain di rumahnya. Ya, tentu saja karena di rumah sederhana ini berlimpah harta yang tak ternilai harganya, yang tak didapatkan Vinda di rumah mewahnya, yaitu kehangatan kasih sayang sebuah keluarga.

#cernak

 

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply