Kamu… (2)

Cerber Kamu
Jihan yang telah mengisi lembaran kisah, tepat sebelum dirinya bertemu Sussy sang penyaji kopi bertabur cinta

Andri merebahkan tubuhnya pada sofa di depan televisi, tak berapa lama istrinya datang dengan secangkir kopi. Hmmm… aroma khas kopi hitam yang menggelitik hidungnya ini  selalu berhasil kembalikan semangatnya setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor, terlebih secangkir kopi ini dibuat dan disajikan khusus oleh wanita tercinta, lengkap dengan senyum manis dan tatapan penuh kasih sayang. Seketika segala rasa lelah terasa sirna.

“Ahhhh betapa beruntungnya aku, memiliki seorang istri berparas ayu dan berkepribadian anggun, sangat keibuan.” bisik Andri dalam hatinya.

“Bu, tadi aku ketemu Jihan pas mau makan loh.” Andri membuka pembicaraan pada istrinya.

“Oh ya? gimana kabarnya?” jawab Sussy, sedikit deg degan dia mendengar nama Jihan disebut.

“Baik katanya, dia titip salam buat kamu.”

“Oh… terus kalian ngobrol apa aja?” tanya Sussy penuh rasa ingin tahu.

“Nggak sempet ngobrol banyak, cuma tanya kabar, terus dia titip salam buat kamu. Udah deh.” Andri menoleh pada istrinya sambil tersenyum.

“Loh kok…?”

“Iya, dianya lagi terburu-buru. Mau ke sekolah anaknya katanya, ada rapat.”

Sussy lega mendengarnya. Walau bagaimana pun Jihan adalah bagian dari kisah masa lalu suaminya. Bagaimanapun kekonyolan yang pernah terjadi dalam hubungan Jihan dan suaminya, tetap saja namanya mampu memacu  jantung Sussy berdebar lebih cepat.

Andri menyeruput kopinya, nampak begitu menikmatinya. Sussy mengamati sambil tersenyum, kemudian beranjak hendak kembali ke dapur.

“Bikin apa hari ini?” tanya Andri mendongak menatap wajah istrinya.

“Muffin coklat.” jawab Sussy tersenyum, dan melangkah menuju dapur.

Andri meraih cangkir kopi di hadapannya, aroma kopi yang menyergap hidung seketika kembali mengingatkannya pada seorang wanita penikmat kopi, yang tadi tanpa sengaja kembali bertemu.  Jihan… dulu setiap Andri ke rumahnya, mereka akan menghabiskan waktu sambil menikmati kopi hitam bersama.

Jihan yang telah mengisi lembaran kisah, tepat sebelum dirinya bertemu Sussy sang penyaji kopi bertabur cinta, yang mendampingi hidupnya kini. Jihan yang tidak seanggun dan selembut Sussy, namun meninggalkan kenangan yang manis untuk tetap disimpan.

 

#tantangan_odop_cerber

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
You May Also Like
pesona tetangga baru
Read More

Pesona Tetangga Baru

Aku selalu pada posisi siaga untuk menangkap lemparan senyum manis dan sapanya. Itu saja rasanya sudah cukup membuat hariku jadi lebih berwarna. Dan semua kebahagiaan itu akan kugoreskan pada lembar kertas buku harianku.
harta berharga
Read More

Harta Paling Berharga

Mata Dian menghangat, air mata bergulir dari kedua sudut matanya. Dia menyesal, mengapa begitu bodoh untuk tak menyukuri hartanya yang paling berharga? kasih sayang, perhatian, dan kehangatan keluarga.
mata elang
Read More

Mata Elang Itu

Deg! satu tatapan dari anak lelaki jangkung berambut cepak itu berhasil menembus hingga ke jantung Ersa. Dadanya bergemuruh kencang, wajah menghangat, namun kedua tangan terasa dingin.
mari berbagi
Read More

Mari Berbagi

Keke ingat nasihat ibu, untuk mengatakan yang sebenarnya dan meminta maaf. Itu hal pertama yang harus dilakukannya.