kejutan anniversary

Alunan suara Shania Twain menyanyikan lagu from this moment merambati gendang telinga Reri, ruhnya seketika kembali menyatu dengan tubuh, dan dalam hitungan detik telah berada pada posisi siaga. Alarm di ponselnya diseting agar berbunyi lebih awal dari biasanya. Bukan itu saja, semua kalender yang ada di rumah pun telah dibubuhi tanda merah berbentuk hati, sebagai penanda bahwa hari ini adalah hari yang istimewa.

Reri bergegas bangkit dari tempat tidur, kemudian merapikannya. Rencana hari ini telah tersusun sedemikian rapih, Reri tak ingin ada satupun yang meleset. “Kejutan bagi suami tercinta harus benar-benar berjalan sempurna,” bisik hati Reri.

*************************

Dudung memandangi sebentuk cincin mungil bermata merah di tangannya, membayangkan saat dirinya memasangkan cincin itu di jari lentik istri tercinta nanti. Bibir itu membentuk sebuah lengkungan, pikirannya melayang, membayangkan reaksi Reri saat mendapatkan hadiah ulang tahun pernikahannya. Pelukan erat disertai hujan ciuman pasti akan ditujukan untuknya, Dudung hafal betul kebiasaan sang istri tiap kali mendapat kejutan menyenangkan.

Hari ini Dudung sengaja izin dari kantor, agar bisa segera pulang melepas rindu dengan sang kekasih hati, menyukuri kebersamaan yang indah selama dua tahun ini, sejak mereka mengikat janji bersatu di hadapan seluruh keluarga dan penghulu, melangitkan janji suci untuk saling membersamai hingga maut menghampiri.

“Halo, sayang … lagi apa?” Sapa Dudung melalui ponselnya.

“Hai… Neng lagi masak, Akang di kantor?”

“Nggak, Akang sengaja ijin hari ini, biar cepat pulang. Kangen Eneng …”

“Ih, Akang jangan dulu pulang atuh. Neng belum selesai masaknya, Neng mau bikin kejutan buat Akang.”

“Wah … Neng masak besar ya? nggak apa-apa atuh akang pulang cepat, biar bantuin Neng, kita masak bareng aja.”

“Nggak usah, Neng udah punya rencana buat kita. Akang berangkat sorean aja ya, habis ashar, biar akang nyampe pas Neng udah siap.” Suara manjanya selalu membuat Dudung mengikuti keinginannya. Pikiran Dudung berkelana, menerka-nerka kejutan apa kiranya yang tengah disiapkan istri tercinta.

“Yakin Neng nggak mau Akang bantuin? Akang penasaran, Neng lagi nyiapin apa sih?”

“Brakkkk, drueeng …” terdengar sebuah suara dari seberang, yang pasti bukan suara Reri yang tengah berbicara.

“Neng … Eneng … halo … Neng nggak apa-apa? itu suara apa?” Tanya Dudung penuh kekhawatiran. Beberapa saat tak ada jawaban dari seberang.

“Halo … Neng, Neng kenapa?” Nada suara Dudung meninggi.

“Neng jatoh kepeleset pas lagi ambil wajan. Nggak apa-apa kok Kang, cuma sakit sedikit, wajannya penyok. Udah dulu ya, Neng mau nerusin lagi.” Terang Reri, dengan suara sedikit merintih.

“Beneran nggak apa-apa? Neng bikin Akang cemas. Yakin, Akang nggak usah pulang cepat?”

“Iya, bener. Udah dulu ya … !”

Dan Reri pun menutup teleponnya. Dudung termangu, pikirannya tak menentu, dipenuhi bayangan sang istri.

*************************

Semua tampak sempurna, rencana untuk merayakan  dua tahun kebersamaan bersama suami tercinta, dalam suasana romantis, seperti dalam film-film yang pernah ditontonnya.

Musik instrumen nan lembut mengalun merdu, berkolaborasi dengan wangi aromatherapy yang menguar memenuhi kamar memanjakan indera. Reri memandangi gambar dirinya pada cermin. Gaun merah nan anggun membalut tubuh yang ramping, sangat serasi dengan polesan merah di bibir, yang membuatnya terlihat semakin memesona.

Ditariknya kedua sudut bibir, namun segera dirapatkan kembali. Reri menghenyakan tubuhnya di atas kasur, bulir bening mulai menitik dari kedua sudut mata. Ketika tengah asik dengan pikirannya sendiri, terdengar suara ketukan di pintu, “Kang Dudung sudah datang,” batin Reri. Bergegas dia bangkit dari tempat tidur.

Sesaat sebelum ke luar kamar, matanya menatap tajam penuh kemarahan pada sebuah benda putih yang tergeletak di atas meja, perasaan Reri kian berkecamuk. Ditariknya nafas dalam-dalam, Reri berusaha menenangkan hatinya, selembar tissue diusapkan untuk menghapus jejak air mata.

“Assalamu’alaikum …” Salam Kang Dudung begitu daun pintu terbuka. Senyum manis menghiasi wajahnya, tergambar kebahagiaan bercampur rindu di sana. Namun itu justru membuat batin Reri semakin tak menentu.

Senyum tipis Reri lukis di wajah dengan sedikit terpaksa, namun tampaknya Kang Dudung tidak terlalu memerhatikan itu. Matanya tertuju pada gaun merah yang membalut tubuh istrinya, berpadu serasi dengan gincu merah di bibir. Diraihnya Reri dalam dekapan, erat, dan semakin erat, untuk meluapkan buncahan rindu yang menggebu.

Reri melepaskan dekapan Dudung lembut, “Akang mandi dulu deh, biar seger.”

“Iya, gerah banget, nih. Akang mandi dulu ya, biar wangi.” Dudung mengedipkan sebelah mata genit.

Selepas menyimpan tas dan sepatunya, Dudung bergegas menuju kamar mandi. Sang istri duduk menanti di ruang makan. Aneka hidangan tertata sedemikian rupa, berpadu dengan nyala lilin dan rangkaian bunga yang bertengger manis di atas meja. Semua tertata rapi, namun tidak begitu dengan perasaan Reri. Kelebatan berbagai pertanyaan memenuhi kepala, “Bagaimana reaksi Kang Dudung nanti, setelah mengetahui rahasia yang masih disimpannya ini?”

“Akankah semua rencananya berjalan indah, atau bahkan hancur sama sekali?”

“Haruskah dia berterus terang?”

“Tidakkah Kang Dudung nanti akan berubah perasaannya?”

Rangkaian tanya bergelayut di benak Reri, tak tahan rasanya, hingga Reri ingin menangis dan berteriak sekuat-kuatnya.

Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi kanan Reri, sejenak buyarkan rangkaian pertanyaan yang memenuhi kepala. Kang Dudung telah berada di belakangnya dengan kedua tangan melingkari tubuh sang istri, ciuman bertubi mendarat di kepala.

“Terimakasih untuk semua kejutannya sayang … I love you.” Lembut suara Kang dudung di telinga Reri, kemudian sebuah kotak di tangan Kang Dudung terbuka, sebentuk cincin bermata merah menyembul, berkilau indah.

Dudung meraih tangan sang istri, dipasangkannya cincin bermata merah itu di jari Reri. Sesaat mata Reri berbinar menatap lurus bola mata lelaki tercinta, namun kemudian kembali menundukkan kepala, seluruh pertanyaan tadi kembali menghinggapi.

Bayangan Dudung akan dihujani ciuman dan pelukan erat dari sang istri sama sekali tak terjadi. Kening Dudung sedikit berkerut, “pasti ada sesuatu yang terjadi,” bisiknya dalam hati.

“Neng, kenapa? kok diam saja? nggak senang sama hadiah Akang?” Diangkatnya wajah Reri yang masih tertunduk dengan ibu jari dan telunjuknya. Mata mereka beradu, keresahan tergambar di mata sang istri. Kang Dudung semakin bingung, batinnya bertanya-tanya.

“Neng kenapa? ada apa? tolong cerita sama Akang.”

Reri menatap lurus kedua bola mata lelaki di hadapannya, mencoba menguatkan hati untuk bersiap menerima apapun yang akan terjadi. Dihirupnya oksigen memenuhi seluruh paru-paru kemudian dihembuskan kuat-kuat, coba menata hati, menguatkannya, agar dapat memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah meyakinkan diri, Reri pun berdiri, ditariknya tangan Kang Dudung menuju kamar. Wanita itu melangkah menuju meja di sudut ruangan, benda putih di atas  meja kini telah beralih ke dalam genggaman. Dari tepi kasur, Kang Dudung mengekori gerak gerik istrinya dengan pandangan, kelebatan pertanyaan memenuhi kepala.

“Ini …” tangan Reri menyodorkan benda putih berukuran kecil ke hadapan suaminya.

Kang Dudung menjepitnya dengan telunjuk dan ibu jari, diangkat untuk diamati. Lalu matanya menatap wanita yang tengah berdiri di hadapan, bertanya melalui pandangan mata.

Reri menarik kedua sudut bibirnya, cukup lebar, walau sedikit ragu, dan malu-malu.

“Bwahahahaha …” Seketika Kang Dudung tergelak melihat pemandangan di hadapannya.

“Tuh kan…” Reri merajuk, hendak beranjak keluar dari kamar, namun tangannya telah lebih dulu ditarik lelaki yang masih sibuk menahan tawa itu.

“Neng, sayang… ilang gigi satu juga Neng mah tetep cantik, tetep kesayangan Akang.” Ditariknya tubuh Reri dalam pelukan, tatapan sepasang suami istri itu pun beradu, Reri menunduk tersipu, bukan karena rasa malu dan tidak percaya diri seperti yang mengganjal sejak tadi, rasa itu perlahan hilang, berganti desiran hangat yang menggetarkan hingga ke sumsum tulang. Pipinya merona, Kang Dudung menatap lekat dengan pandangan penuh cinta.

“Neng malu … masak udah dandan begini tapi gigi depan ompong satu.”

“Nggak pengaruh, Eneng itu selalu cantik buat Akang. Tapi ingat, jangan banyak-banyak ketawa, ntar masuk angin. Hahaha …”  Dua jari kang Dudung mencubit gemas cuping hidung istrinya.

“Iiih … si Akang mah da gituh.” Tak mau kalah cubitan Reri bertubi-tubi mendarat di pipi dan tangan Kang Dudung. Lelaki itu berusaha menghentikan serangan sang istri dengan menangkap tangannya. Ditariknya tubuh Reri dalam pelukan, sangat erat.

Di antara lembutnya alunan musik dan wangi aromatherapy yang menguar, mereka pun melepas rindu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply