cerpen mana janjimu

Satu minggu sudah aku menunggu kedatanganmu, seperti yang kamu janjikan di telpon waktu itu . Tapi hingga hari ini, batang hidungmu masih belum tampak juga di depan pintu rumahku.
Tak mengertikah kamu, kegelisahanku saat ini sudah semakin membelit hati dan pikiranku? Tak ada yang mampu memahami semua beban ini, cuma kamu saja. Mas Doni suamiku pun bukanlah sosok yang tepat untukku berbagi tentang semua beban ini. Aku cuma mau kamu, karena kuyakin hanya kamu yang mampu menjadi udara dalam sesaknya masalah yang tengah membelitku saat ini.

Kamulah sosok yang begitu kurindu dan kunanti saat ini, dan kamu berhasil mengobrak abrik hatiku. Kamu gantung aku, kenapa tak tepati janjimu? sungguh terlalu!

Sejak janjimu tuk menemuiku saat itu, aku tersiksa oleh janji manismu, merana dalam penantian dan harapanku tuk segera bertemu. Terombang ambing dalam sebuah harapan yang tak pasti. Kerap kuberlari memburu pintu ruang tamu, bersiap menyambutmu dan berbagi semua kisah ini setiap kali kudengar deru kendaraan yang berhenti di depan rumahku. Namun berulangkali aku kecewa. Kamu jahat!!!

Galau dalam penantianku, rasanya semakin sempurna saat hujan membasahi bumi. Semakin hatiku meringis, menangis, bahkan hampir histeris. Kau terus permainkan perasaanku, hingga  hasrat tuk menggenggam janjimu kini menguap sudah. Janjimu palsu!!!

Samar-samar kudengar deru kendaraan melaju mendekat ke arah rumahku, kemudian berhenti. Namun kali ini takan kuijinkan lagi hati ini merasa kecewa karena ulahmu. Aku tak ingin rasakan kembali kecewa itu, saat aku tengah mencoba tuk lupakan janjimu. Kembali kupejamkan mata, tuk nikmati lelapku yang tadi sempat terganggu, manjakan otot-otot tubuhku agar siap kembali menghadapi tantangan esok hari.

“Tok… tok… tok…” Terdengar ketukan pintu.

“Mas Doni kah itu? Ah, tidak mungkin, ini kan masih pukul 14. 35, belum saatnya Mas Doni pulang. Atau si sulung Reza? tapi dia juga biasa pulang ba’da ashar. Lagipula tumben hanya mengetuk pintu tanpa mengucapkan salam,” bisik hatiku. Segera aku turun dari tempat tidur, perlahan-lahan, agar tak mengganggu Reta kecilku yang tengah terlelap.

Kuintip melalui celah diantara tirai dan kusen ruang tamu. Tampak sebuah sepeda motor terparkir di depan pagar halaman rumahku, dan seorang pria setengah baya dengan tas besar yang dibiarkan teronggok di sampingnya tengah berdiri di depan pintu. Terbersit ragu tuk membuka pintu, karena aku tidak mengenalnya.

“Permisi…. electrolux,” suara pria itu cukup lantang.
Kuputar kunci pintu ruang tamu, lalu kubuka pintu, dan longokkan kepalaku.

“Ibu Rani?” tanya pria itu saat kepalaku menyembul dari balik pintu.

“Iya Pak, betul. Dari Electrolux?” tanyaku kembali, untuk memastikan identitas pria di hadapanku ini.

“Iya bu, saya Nanang teknisi Electrolux. Maaf, baru datang hari ini bu, baru sempat. Banyak yang harus diservis, mana hujan terus bu, deras lagi. ” terangnya, menjawab pertanyaanku selama tujuh hari ini.

“Oh iya, tidak apa-apa Pak, saya maklum. Ayo silahkan masuk!” Kulebarkan bukaan daun pintu.

“Di sebelah sini mesin cucinya” Terangku sambil menunjukkan letak mesin cuci kami yang sudah seminggu mogok teronggok di pojok.

“Memang saya sudah sangat menunggu-nunggu kedatangan bapak, soalnya musim hujan gini tanpa mesin cuci saya repot banget, Pak. pakaian susah kering, bau, mana cucian saya seabreg terus lagi.” Cerocosku menumpahkan beban yang mengganjal selama seminggu ini.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply