mari berbagi

Ayah pulang membawakan boneka baru. Tania yang sedang bermain bersama Keke, segera memburu dengan penuh suka cita.

“Asik … boneka baru.” Tania memeluk bonekanya.

Ayah dan ibu tersenyum, Keke duduk memperhatikan Tania dan bonekanya.

“Ayo, main bareng Keke lagi!” Saran ibu.

Tania pun menghampiri Keke bersama boneka barunya.

“Tania, sekrang kita main apa?” Tanya Keke.

“Kamu teruskan saja main masak-masakannya, aku mau main dengan boneka baru.” Jawab Tania, sambil memainkan bonekanya.

“Aku boleh main bonekamu juga?” Tanya Keke penuh harap.

“Jangan, ini masih baru. Nanti rusak.” Jawab Tania sambil memeluk bonekanya lebih erat.

Keke terdiam memperhatikan Tania dan bonekanya. Hatinya sedih, dia ingin juga bermain dengan boneka baru Tania.

******************************

Keke mulai merasa bosan, karena kini Tania asik bermain sendiri dengan boneka barunya. Akhirnya Keke memilih pulang.

Sesampai di rumah, Keke bercerita pada ibunya tentang boneka baru Tania.

“Bu, tadi Tania dibelikan boneka baru oleh ayahnya, bagus deh.” Tutur Keke pada ibunya.

“Wah … seru dong, kalian main boneka baru, ya?”

“Nggak. Keke nggak main boneka, nggak boleh sama Tania.” Wajah Keke nampak sedih.

“Oh, ya? Bukankah kalian sedang main bersama?” Tanya ibu.

“Iya, tapi Keke nggak boleh pinjam. Katanya takut bonekanya rusak.”

Kali ini mata Keke mulai basah, air matanya hampir tumpah.

“Loh … kenapa putri kecil ibu menangis?” Ibu mengusap air mata Keke lembut, kemudian dipeluknya.

“Keke mau boneka baru juga ….” rengek Keke pada Ibu.

“Sssst … anak cantik jangan mudah bersedih.” Hibur Ibu.

“Mungkin Tania bukan tidak mau meminjamkan bonekanya, tapi hanya belum mau,” lanjut ibu. “Karena bonekanya masih sangat baru, jadi Tania belum puas berkenalan dengan boneka barunya.”

Keke diam menatap ibu. Tangisnya sudah berhenti. Dia ingat, ketika ayah baru membelikan sepeda baru, setiap hari dia memainkannya, bahkan saat di dalam rumah. Tangis Keke sudah reda. Keke coba memahami alasan Tania tidak mau meminjamkan boneka barunya.

******************************

Keke sedang asik bermain sepeda, ketika Tania datang. Boneka baru Tania tak ketinggalan. Namun kini Keke tak terlalu berharap dapat memainkan boneka itu. Bermain dengan sepedanya jauh lebih mengasyikan.

“Keke, kita main bareng, yuk!” Ajak Tania, sambil memperhatikan Keke di atas sepedanya.

“Ayo, kamu mau main apa?” Keke menghentikan sepedanya.

“Aku dibonceng di sepedamu, ya!” Tania menghampiri Keke dan sepedanya.

“Ah, jangan! Aku belum kuat bonceng. Nanti takut jatuh.” Jawab Keke, dan kembali mengayuh sepeda.

Tania berdiri bersama bonekanya, memandangi Keke yang berputar-putar dengan sepedanya.

“Aku boleh coba sepedamu? kita main bergantian.” Tania memberi usul.

Keke mengernyitkan dahi. Matanya tertuju pada boneka Tania. Dia ingat kemarin saat Tania tak mau meminjaminya.

“Nggak ah, aku juga masih belum puas main dengan sepedaku.”
Jawab Keke.

Tania terdiam. Hatinya begitu ingin bermain sepeda. Sepedanya sudah lama rusak, dan ayah belum sempat memperbaiki. Namun Tania malu untuk terus membujuk Keke meminjamkan sepedanya. Karena kemarin dirinya tak mau berbagi boneka dengan Keke, sehingga membuat Keke sedih.

Tania duduk bersama bonekanya, memperhatikan Keke yang sedang asik bersepeda. Kini Tania mengerti, bagaimana perasaan Keke kemarin.

Melihat Tania hanya terdiam, Keke segera menghampiri. Keke tak ingin temannya bersedih.

“Kamu mau coba sepedaku?”

Tania mengangguk dengan senyum di wajahnya.

“Ni, sekarang giliran kamu. Kita pakai gantian setiap tiga keliling, ya!” Keke memberikan sepedanya pada Tania.

“Iya, terima kasih. Ini, kamu juga boleh main dengan bonekaku.”

Tania menyodorkan boneka barunya. Keke tersenyum senang.

“Terima kasih ….” Tangan Keke segera menyambut boneka itu ke dalam pelukannya.

**************************

Gedubrakkk!!!

“Aduh … ” Keke mendengar Tania mengaduh. Ternyata Tania jatuh dari sepeda.
Keke bergegas menghampiri untuk menolong Tania. Boneka baru Tania digeletakannya begitu saja.

“Ayo, aku bantu.” Keke mengulurkan tangannya pada Tania yang masih terduduk sambil menangis.

Tania menyambut uluran tangan Keke, lalu berdiri. Keke memapahnya masuk ke dalam rumahnya.

“Bu, Ibu … Tania jatuh, bu.” Keke memberitahukan ibunya. Ibu bergegas menghampiri.

“Kenapa sayang? mari ibu lihat, ada yang luka?” Ibu mengamati tangan dan kaki Keke.

Ada sedikit luka di kaki, dan tangan Tania pun lecet. Kemudian ibu mengobatinya.

“Sakiiiiit, hu … hu … hu …” Tania kembali menangis saat ibu membersihkan dan mengobati kakinya.

“Tidak apa-apa sayang, sakit sedikit, tapi nanti akan segera sembuh.” Hibur ibu sambil mengusap air mata Tania.

Selesai diobati, Tania pamit pulang.

“Aku mau pulang saja.”

“Keke, coba antar Tania ke rumahnya, ya!”

Keke mengangguk setuju

Keke dan Tania pun melangkah bersama, bergandengan, menuju rumah Tania.

**************************

Keke baru menyadari jika boneka Tania ketinggalan di halaman. Begitu pula dengan sepedanya, Keke dan Tania tadi meninggalkannya begitu saja, sesaat setelah Tania terjatuh.

Keke segera mencari boneka Tania dan sepedanya.

Sepeda Keke ada di teras. Namun boneka Tania tak berhasil Keke temukan. Keke bingung, bagaimana jika boneka Tania hilang? tentu Tania akan marah padanya.

Duh … bagaimana ini? Keke segera mencari ibu, untuk meminta nasihatnya.

“Bu, Ibu …” panggil Tania pada ibu yang tengah duduk membaca di teras belakang.

“Iya sayang, ada apa?” tanya ibu.

“Boneka Tania hilang,bu. Tadi ketinggalan di halaman.” Keke menjelaskan masalahnya pada ibu.

“oh … boneka. Tidak hilang sayang, itu ibu simpan di tempat mainanmu,” terang ibu, menjelaskan.

Keke tersenyum lega, dan bergegas menuju tempat mainan, untuk mengambil boneka itu.

Boneka baru Tania, tampak di tumpukan paling atas dalam kotak mainan Keke. Diambilnya boneka itu, Keke masih ingin memainkannya.

Namun saat Keke menggendong boneka tersebut, tampak ada noda di bagian belakang boneka.

Kekhawatiran kembali menghinggapi Keke.

***************************

Keke baru menyadari jika boneka Tania ketinggalan di halaman. Begitu pula dengan sepedanya, Keke dan Tania tadi meninggalkannya begitu saja, sesaat setelah Tania terjatuh.

Keke segera mencari boneka Tania dan sepedanya. Sepeda Keke ada di teras. Namun boneka Tania tak berhasil Keke temukan. Keke bingung, bagaimana jika boneka Tania hilang? tentu Tania akan marah padanya. Duh … bagaimana ini? Keke segera mencari ibu, untuk meminta nasihatnya.

“Bu, Ibu …” panggil Tania pada ibu yang tengah duduk membaca di teras belakang.

“Iya sayang, ada apa?” tanya ibu.

“Boneka Tania hilang, bu. Tadi ketinggalan di halaman.” Keke menjelaskan masalahnya pada ibu.

“Oh … boneka. Tidak hilang sayang, itu ibu simpan di tempat mainanmu,” terang ibu.

Keke tersenyum lega, dan bergegas menuju tempat mainan, untuk mengambil boneka itu.

Boneka baru Tania, tampak di tumpukan paling atas dalam kotak mainan Keke. Diambilnya boneka itu, Keke masih ingin memainkannya. Namun saat Keke menggendong boneka tersebut, tampak ada noda di bagian belakang boneka. Kekhawatiran kembali menghinggapi Keke.

“Bu, boneka Tania kena noda.” Keke menyodorkan bonekanya pada ibu.

“Mari ibu lihat,” sahut ibu, seraya mengamati noda pada boneka Tania.

“Tadi, boneka ini memang tergeletak begitu saja di tanah, jadi wajar saja jika terkena noda,” lanjut ibu.

“Iya, bu. Tadi Keke yang menaruhnya di tanah,” aku Keke sambil menatap ibu.

“Loh, kenapa Keke lakukan itu? ini kan boneka milik Tania, kenapa tidak Keke jaga jika sedang meminjamnya?” tanya ibu.

“Tadi Keke terburu-buru waktu Tania jatuh dan menangis. Keke mau menolong Tania.” Keke coba menjelaskan alasanya pada ibu.

“Oh, baiklah, ibu mengerti,” jawab ibu sambil tersenyum.

“Menurut ibu, apakah Tania akan marah, bu?” tanya Keke.

“Mmmh entahlah, bisa ya, bisa juga tidak. Semoga saja Tania bisa mengerti alasanmu, ya.” Hibur ibu, seraya mengusap pipi Keke.

“Jadi, aku harus bagaimana, bu?” Keke kembali bertanya.

“Yang pertama harus dilakukan adalah, coba membersihkannya,” nasihat ibu. Keke mengangguk.

“Lalu, jika Tania kemari, Keke harus menjelaskannya pada Tania, dan meminta maaf,” lanjut ibu.

“Bagaimana jika Tania marah?” tanya Keke kembali.

“Tania akan marah atau tidak kita lihat saja nanti. Yang penting, Keke sudah berusaha untuk bertanggung jawab, dan meminta maaf.”

“Baiklah bu, sekarang Keke mau cuci bonekanya dulu,” sahut Keke.

“Oke, mari ibu bantu.”

***************************

Keke duduk dengan boneka milik Tania di tangan. Hatinya resah, karena ternyata noda pada boneka Tania, masih meninggalkan bekas, walaupun sudah dicuci.

Tapi Keke ingat nasihat ibu, untuk mengatakan yang sebenarnya dan meminta maaf. Itu hal pertama yang harus dilakukannya.

“Keke …” suara Tania terdengar memanggil dari luar.

Keke beranjak dari duduknya, untuk membukakan pintu bagi Tania. Senyum Tania mengembang, sesaat setelah pintu terbuka.

“Hai, aku bawa kue untukmu,” Tania menyodorkan sebuah kotak pada Keke.

“Wah, kue coklat. Terima kasih.” Keke tersenyum girang.

“Iya, tadi ibu beli kue cukup banyak, dan saat aku bilang mau ke sini, ibu menyuruhku membawakannya untukmu,” terang Tania.

“Wah, senang sekali. Ini kesukaanku.” kata Keke, dengan mata berbinar.

“Bagus kalau begitu.” Tania mengacungkan jempol kanannya, dan mereka pun tertawa. Dua sahabat itu melangkah menuju sofa ruang tamu, kemudian duduk bersama.

Tiba-tiba Keke teringat tentang boneka Tania, juga pesan ibu. Aku harus mencoba untuk mulai menjelaskannya pada Tania, pikir Keke.

“Tania, kakimu sudah sembuh?” dengan sedikit berdebar, Keke mulai pembicaraannya.

“Sudah tidak sakit lagi, mulai mengering lukanya.” jawab Tania sambil mengunyah kue coklatnya.

Kue di tangan Keke masih utuh, rasaany Keke belum berselera untuk memakannya.

“Bonekamu ketinggalan waktu itu,” lanjut Keke.

“Iya, aku tahu. Tidak apa-apa kok.” Tania menjawab sambil tersenyum.

Hati Keke sedikit lega, keberanian untuk menjelaskan semakin besar.

“Sebentar, aku ambil dulu, ya.” Keke beranjak dari duduknya, untuk mengambil boneka.

“Tania, ini … lihat ini!” Keke menunjukkan bekas noda pada boneka, kepada Tania.

“Kenapa?” tanya Tania, sambil mengamati bonekanya.

“Ada bekas noda.” Keke menunjukkan dengan telunjuknya.

“Oh, iya, benar. Kenapa jadi kotor?” tanya Tania sambil menatap Keke.

“Iya, kan waktu kamu jatuh itu, aku langsung berlari nolong kamu. Dan bonekanya aku biarkan tergeletak di bawah. Ini sudah aku cuci, dibantu ibu. Tapi ternyata masih ada bekasnya. Maaf, ya.” Keke menjelaskan pada Tania.

Ada rasa lega di hatinya setelah menceritakan pada Tania.

“Oh, begitu. Ya sudah, tidak apa-apa. Aku juga kan jatuh dengan sepedamu. Pasti ada yang kotor. Maafin aku juga, ya.” Balas Tania. Keduanya saling tersenyum.

Hati Keke senang bukan kepalang. Ternyata apa yang dicemaskannya sama sekali tidak terjadi. Kini, potongan kue coklat sudah masuk ke dalam mulut Keke. Dua sahabat itu menikmati kebersamaan dan indahnya berbagi.

#7HariCernak
#EmakpintarScholarship

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply