“Kiri…!” teriak Ersa. Komando khas penumpang angkutan umum pada Pak sopir agar segera berhenti. Kedua kakinya bergegas menuruni angkot, menyerahkan ongkos pada sang pengemudi dan bersiap mengambil langkah seribu memburu gerbang sekolah yang beberapa menit lagi akan segera ditutup.

“Kurang Neng.” Teriakan Pak Sopir menghentikan kaki gadis itu yang baru saja mengambil ancang-ancang sprint jarak 300 M.

“Biasa juga segitu, Pak.” Balas Ersa sedikit dongkol, mengingat percakapan itu telah menyita sekian detik jarak tempuhnya untuk mencapai gerbang sekolah.

“Ah, gak bisa Neng, kurang seribu lagi.” Seringai menyebalkan di wajah lelaki berkulit gelap DENGAN kepala plontos di belakang kemudi membuat darah Ersa mulai bergolak. Matanya melirik jam di tangan, ternyata tidak ada. Situasi genting ini telah membuat dia lupa kalau dirinya tidak pernah punya jam tangan.

Tangannya merogoh recehan di saku rok untuk diberikan pada Pak Sopir. Biarlah angkot itu segera berlalu bersama seringainya yang menyebalkan, pikir Ersa dalam hati. Dan pertarungan berpacu dengan waktu pun dimulai, Ersa harus menghayati perannya sebagai seorang sprinter dengan sebaik-baiknya.

Tampak Pak Andi satpam sekolah, baru saja akan menutup pintu gerbang. Di antara langkah yang tengah berpacu Ersa melambaikan tangan kepadanya seraya berteriak, “Pak Andi… tungguuu…!”

Lelaki itu melihat ke arah Ersa, “Cepaaat! udah mau upacara!” balasnya, memperingatkan.

Yes! akhirnya gerbang berhasil dilalui sebelum tepat jam 07.05, keterlambatan yang masih sangat dapat ditoleransi, menurut gadis itu.

“Nuhun, Pak.” Dengan napas masih terengah Ersa tidak lupa mengucapkan terima kasih pada lelaki paruh baya yang tengah berdiri dengan senyum ramah khasnya yang ditujukan pada gadis itu.

Kelas-kelas telah sepi, semua siswa dan guru sudah berkumpul di lapangan bersiap memulai upacara. Tangannya membuka tas untuk mengambil topi, namun ketika tangan itu sampai di saku dalam tas tempat biasa dia menyimpannya, topi abu-abu itu tidak ada. Tangannya kembali mencoba mencari, merogoh semua bagian saku yang eksis di tasnya namun masih tidak ditemukan juga. Hingga akhirnya semua isi tas sudah berpindah dan berhamburan menyemarakkan permukaan meja, namun usahanya tetap nihil, topi itu tidak berhasil ditemukan.

“Gawat! bisa dihukum nih,” pikir gadis itu.

“Hei, kamu! ayo cepat ke lapangan! upacara udah mulai, masih di kelas.” Tiba-tiba Bu Herlina sudah berdiri di pintu, menatap tajam Ersa lengkap dengan garis bibir khasnya yang melengkung ke bawah.

“Iya, Bu. Ini lagi nyari topi dulu.” Ersa coba menjelaskan.

“Kenapa? nggak bawa topinya? Ya sudah, berdiri di depan aja sama yang lain. Ayo, sudah sana!” telunjuknya ikut berbicara, menunjukan letak lapangan yang sama sekali tidak perlu ditunjukan, karena tentu saja Ersa sudah hapal betul di mana letaknya.

“Sudah terlambat, nggak bawa topi lagi, masih mau cari-cari alasan.” Omelannya masih berlanjut sepanjang menuju lapangan. Namun Ersa sudah cukup imun dari segala jenis omelan ibu guru yang satu ini.

“Masuk barisan sana!” telunjuk Bu Herlina mengarah pada lima orang anak laki-laki yang tengah berdiri tepat menghadap barisan seluruh siswa peserta upacara. Ersa pun bergabung sebagai yang ke enam. Mata gadis itu mulai menyapu barisan teman-teman di hadapannya. Jelas terlihat Ratna, Acong, Aduy, Wicak, Keken, dan Bimo tengah menyeringai dan terkikik menertawai dirinya. Ersa membalas dengan sedikit juluran lidah kemudian mengalihkan pandangannya ke sisi kanan barisan.

Deg! pandangannya bersirobok dengan satu tatapan dari anak lelaki jangkung berambut cepak, dan tatapan itu berhasil menembus hingga ke jantung Ersa. Dadanya bergemuruh kencang, wajah menghangat, namun kedua tangan terasa dingin. Malu, ya, malu. Perasaan itu yang kini tengah mengerubuti hati gadis itu. Berdiri di hadapan anak lelaki yang diam-diam sering menghampiri Ersa dalam lamunan, sebagai satu-satunya siswi pelanggar aturan.

Tiba-tiba kaki Ersa terasa lemas, rasa malu ini terlalu berat untuk ditanggung di hadapan sang lelaki pujaan. Matanya berkunang-kunang, butiran air bak mutiara muncul dan bergulir dari pori-pori di keningnya, kepala terasa pusing, lalu tubuh Ersa pun hilang keseimbangan.

Saat tubuhnya terasa melayang dan hampir mendarat di atas semen lapangan basket itu, tiba-tiba sepasang tangan dan sebagian permukaan dada tak bidang telah menyangga tubuhnya. Ersa coba melirik sang pahlawan dengan ekor matanya.

Mata itu, mata elang itu… kini berada hanya beberapa centi saja dari hadapan. Ternyata dia yang telah…

“Sa… Ersa… bangun! dah siang nih… mau jam berapa lagi kamu pergi sekolah hah?”

Ersa membuka kedua matanya, dan sepasang mata milik Mama kini tengah melotot tepat hanya beberapa centi saja dari wajahnya.

#Tugas6_kelas_fiksi
#inspirasi_gaya_menulis
#Hilman_Hariwijaya

Note:
Sebenarnya awal menulis saya ketika duduk di bangku SMP lebih terinspirasi oleh cerpen-cerpen majalah remaja yang bercerita tentang kisah cinta, dan siapa saja nama-nama penulisnya, saya tidak tahu. Namun, karena cerita Lupus karya Hilman Hariwijaya pun menjadi salah satu tulisan favorit, maka saya coba untuk mengikuti gaya penulisan beliau untuk tantangan kali ini.

4 replies
    • Ane Fariz
      Ane Fariz says:

      Hmmm jadi challenge nih, Insyaallah, mudah2an saya bisa eksekusi. Aamiin

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply