,

Nahas

cerpen nahas

"Bruuuuk!"

Nahas, tiba-tiba kayu jati berbentuk persegi panjang itu menghajar tubuh ringkihku. Aku terhuyung, tubuhku terjungkal, kemudian meluncur dan mendarat keras dengan posisi kepala terlebih dahulu.

"Braaak... Kraaaak...!"

Seluruh tubuhku terasa sakit, kuyakin sebagian tulangku remuk. Ada nyeri tak terkira pada bagian leher. Kucoba melawan, namun percuma, rasa sakit ini begitu kuat. Perlahan nyeri ini menyebar ke sekujur tubuh hingga aku terkapar, lemas, tak berdaya.

"Tidaaaaak!"

Jeritmu memekakkan telinga, bersamaan dengan gerakan tubuhmu yang melompat cepat turun dari atas kasur. Buliran air bersusulan dari kedua sudut mata bening itu. Kau terpaku menatapi tubuhku. Hujan dari mata indahmu menitik satu satu mendarat di tubuhku.

Sekejap duka di mata itu berganti kilatan api, saat wajahmu berpaling pada lelaki yang tengah berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Dia menunduk, nampaknya kilatan di matamu terlalu menyilaukan untuknya.

"Maafkan aku..."

"Maaf? Maaf, katamu? Enak saja kau bilang maaf." Nafasmu memburu, tarikan dan hembusan yang cepat seirama turun naiknya gerakan dadamu.

"Kau lihat itu!" telunjukmu mengarah lurus padaku "Kau telah mematahkan lehernya!" Sedu sedan tangismu kembali memenuhi ruangan ini. Tempat kita memupuk jalinan kasih sayang selama ini, dimana aku selalu menemanimu, memastikan dirimu merasa nyaman, hingga lelapmu berukir senyuman.

Seperti beberapa menit yang lalu, saat kita tengah bersama ditemani lagu kesukaanmu. Kau berbaring, dengan senandung kecil di bibirmu, seraya menggoyangkan kaki mengikuti irama lagu. Dan aku berdiri mengawasi, membelaimu dengan cara yang paling kau sukai, sambil menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, sesaat sebelum peristiwa nahas ini terjadi.

Kau duduk terkulai di sampingku. Belaian lembut tanganmu dapat kurasakan, halus menyusuri kepala, dengan curahan hujan dukamu yang semakin deras membasahi wajah ini.

"Ri, maafkan aku. Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku," lirih ucap lelaki itu.

"Apapun? Apapun katamu? Huhuhu... kau tahu? Apapun yang kau lakukan tak akan mampu mengembalikan keadaan." Jawabmu terbata di antara isakan.

"Aku akan carikan penggantinya untukmu."

"Apaaa? Mencarikan pengganti? Sungguh keterlaluan. Apakah dia sengaja melakukan ini, untuk menyingkirkan aku?" geram hatiku.

"Tidaaak, aku tidak mau pengganti. Dia hadiah ulang tahun ke sembilanku dari Kakek sebelum meninggal waktu lalu." Suaramu meninggi di sela tangis.

"Iya, aku tahu. Kalau begitu mari kita coba bawa ke Pak Mardi, tukang reparasi di sebelah warung Bu Oti."

Kau diam menatapnya. Namun kemudian tangan kalian sepakat bersama-sama mengangkat tubuhku yang terkapar, dan membopong keluar dari ruangan itu.

"Ri, tolong jangan bilang Ibu, ya! Please... Abang takut kena hukuman lagi. Padahal Abang sudah janji mau main PS sama Weli dan Hendra minggu ini."

Mulutmu diam terkunci.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply