fenomena mama papa

“Mama kemarin ngapain duduk dekat-dekat si Burhan di kantin?”

“Nggak ngapa-ngapain kok Pa … nggak sengaja itu, kebetulan aja kantin lagi penuh.”

“Pokoknya Papa nggak suka Mama dekat-dekat si Burhan!”

“Ih… Papa jangan marah dong!”

“Tapi Mama janji ya, nggak akan dekat-dekat lagi sama si Burhan.”

“Iya, Mama janji, Pa.”

“Papa kan sayang sama Mama.”

“Iya, Mama juga sayang sama …”

“Dea … sedang apa kau disini, hah???” teriak seorang wanita yang tengah menghampiri mereka dengan langkah lebar-lebar, ujung dasternya diangkat dalam genggaman tangan kanan.

“Wah, bahaya De, aku pulang dulu ya … !”

Si Papa pun terbirit-birit meninggalkan Mama sendiri di pos ronda diliputi ketakutan yang mencekam.

Sesaat setelah sampai pos ronda wanita itu mencengkeram lengan Mama Dea dengan nafas yang memburu, sejurus kemudian Mama Dea diseret untuk mengikuti langkahnya meninggalkan pos ronda itu.

“Kucari kemana-mana, rupanya disini kau asik-asik sama si Dimas, ya?” Lantang suara wanita itu, sambil terus melangkah, disela nafasnya yang masih memburu.

Mama Dea berjalan terseret-seret mengikuti langkah wanita itu dengan berurai air mata.

“Masuk kau!” Dibawah telunjuk wanita itu, Mama Dea melangkah memasuki pintu rumah bercat kuning, yang letaknya tak jauh dari pos ronda tempat pertemuannya dengan Papa Dimas.

“Bah… benar rupanya kata orang-orang, kau pacaran sama si Dimas.”

Tangan yang tadi mencengkeram lengan Mama Dea, kini tertanam pada dua sisi pinggang wanita itu. Dengan suara setengah berteriak, bola mata yang semakin membulat, dan nafas yang berpacu, tampak jelas jika wanita itu benar-benar tengah dalam emosi tingkat tinggi.

Sementara dari mulut Mama Dea hanya terdengar isakan, dengan air mata yang membanjiri pipinya.

“Cok ko tengok (coba kau tengaok), bisa kasih apa itu si Dimas sama kau, hah? Aku datang pun dia lari terbirit-birit.”

“Maafin Dea. Dea janji nggak akan ngulangin lagi. Dea janji …”

Tatapan sendu dengan siraman hujan air mata Deana ternyata cukup ampuh untuk memadamkan api di hati wanita itu.

“Iya, memang begitu seharusnya kalau kau masih mau tinggal di sini. Kalau tidak, biar kukirim kau ke Siantar sana. Tak sanggup lagi awak rasanya kalau kau masih tak mau berubah juga.”

Dihampirinya Deana, sesaat kemudian kepala Dea telah berada dalam dekapan, kasih sayangnya terlalu besar untuk tetap bertahan dalam kemarahan.

“Jangan lah Mak, bisa macam militer awak dibuatnya kalau tinggal sama Bang Ahmad.”

Kedua lengan Dea mendekap erat tubuh sang Mamak, seakan takut dipisahkan dari sosok wanita yang tengah membelai lembut rambutnya itu.

“Itu dia makanya, Dea … turutlah kata-kata Mamak, kau ini masih kecil, baru kelas enam SD, pun. Apa rupanya bisa dibuat si Dimas buat kau? sedang dia pun masih minta jajan sama mamaknya. Masih kecil kelen (kalian), sekolah saja yang benar.”

Tiada lagi kemarahan yang terpancar, wajah itu kini teduh memancarkan kasih sayang.

” Iya Mak, Dea janji nggak akan pacaran lagi sama si Dimas.”

Sebuah senyum terlukis di wajah sang mamak, matanya menatap lekat wajah gadis bungsunya.

“Biar Dea pacaran sama abang-abang yang sudah kerja aja ya, Mak?”

Sekejap kedua lengan Deana dihentakkan sang mamak dengan kasar, kemudian wanita itu melangkah menuju bufet dan meraih ponselnya.

“Halo… Ahmad? sedang apa kau? Mamak perlu kau buat urus adekmu ini…”

 

 

4 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply