Pelayan Baru

pelayan baru
Mereka duduk berjejer tepat di hadapanku. Jamuan tampaknya mulai dikeluarkan, beberapa botol minuman, dengan butiran obat sebagai hidangannya

Dinginnya angin malam, lembut membelai wajahku. Seperti biasanya, aku duduk sendiri, berselimut sepi.

Namun ada sesuatu yang menarik bagiku belakangan ini, rombongan lelaki muda yang hampir setiap hari tertangkap pandangan tengah lari dari kenyataan hidup, dengan beramunisikan alkohol dan psikotropika.

Berulang kali mereka pilih tempat ini, tampaknya mereka menyukai tempatku. Maka, mengapa tidak? biar saja mereka tinggal bersamaku, menemaniku, menjadi pelayanku. Dan aku tak akan kesepian lagi.

Pukul 00.10, artinya sebentar lagi mereka akan tiba. Ah, benar saja, suaranya sudah tertangkap telinga. Brruumm bruumm bruumm… deru motor mereka sudah sampai lebih dulu, sebelum wujudnya tiba. Hmmm itulah salah satu yang kusuka dari mereka, gelora jiwa muda yang didominasi nafsu belaka.

Empat motor, sudah tiba. Mereka duduk berjejer tepat di hadapanku. Jamuan tampaknya mulai dikeluarkan, beberapa botol minuman, dengan butiran obat sebagai hidangannya. Hmmm sebentar lagi akan menjadi saat yang tepat untukku memiliki pelayan baru.

Racau mereka mulai ramai, gelak tawa membahana, seolah dunia mereka yang punya. Tiba-tiba sebuah kendaraan roda dua melintas di depan mereka. Seperti yang kuduga, mereka akan sangat bernafsu untuk memburunya. Namun, kali ini tekadku sudah mantap, untuk menjadikan mereka sebagai pelayanku. Aku harus segera memiliki mereka.

Roda dua mulai dipacu, tentu saja mereka tak mau kehilangan targetnya. Dan inilah saat yang tepat bagiku. Aku melintas dengan anggun, dan tersenyum menatap mereka. Decit motor menjerit bersahutan, mata membelalak, motor-motor itu oleng, kemudian jatuh saling bertabrakan. Riuh suara kuda besi saling menghantam, ditimpa jerit sang pengendara memecah sunyinya malam. Tubuh-tubuh terpental, disambut kerasnya aspal jalanan, beberapa kepala pecah, mengalirkan cairan merah.

Mereka kini tengah tersedu, memandangi tubuhnya yang mulai kaku. Tatapan penuh tanya diarahkan padaku. Aku pun tertawa, bahagia sambut para pelayan baru.
Hi…hihihihihi

#kamaksara
#TantanganMenulisKamaksara
#flash_fiction_obat_merah

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
You May Also Like
puisi rindu
Read More

Rindu…

Ma... kini papa telah bersemayam di sampingmu. Dua puluh tujuh tahun sudah beliau jalani sisa usianya tanpamu. Betapa kami kerap berbagi rasa rindu tentangmu ma....
cerpen kesumat gadis pengamen
Read More

Kesumat Gadis Pengamen

Belum puas kulampiaskan dendamku padanya, kembali kuhampiri tubuh yang terkapar itu, hmmm napasnya masih ada. Kucengkeram dan kuangkat kepalanya, lalu kuhempaskan tepat ke atas batu itu
fiksi do'a dalam hujan
Read More

Do’a Dalam Hujan

Bermacam tagihan dan utang di sana-sini, sisa tambalan kebutuhan sehari-hari, menjadikan penghasilannya selalu tak mencukupi. Ada rasa sesak yang menyengal, manakala teringat si bungsu yang sedang sakit hanya makan berlauk kecap pagi tadi.
flash fiction
Read More

Belum Lima Menit

Gambar bulatan berhias aneka warna warni yang setiap hari dipandangi untuk dinikmati dalam imajinasi, kini benar-benar nyata ada di tangannya, untuk dilumat dalam mulut dan mengisi salah satu bagian sudut perutnya.
harta berharga
Read More

Harta Paling Berharga

Mata Dian menghangat, air mata bergulir dari kedua sudut matanya. Dia menyesal, mengapa begitu bodoh untuk tak menyukuri hartanya yang paling berharga? kasih sayang, perhatian, dan kehangatan keluarga.