pesona tetangga baru

Rumah berpagar hijau yang berhadapan dengan rumahku, kini menjadi istimewa. Sejak kulihat pemuda berperawakan tegap, dengan hidung bangir, dan alis tebal yang tanpa sengaja tertangkap mata saat aku tengah menyapu halaman.

Bukan saja penampilan fisiknya yang telah alihkan perhatianku. Namun sikap santun, melalui sapa dan senyum manis yang terkembang, saat motornya melaju di depan rumah, telah membuat hati ini tertawan. Maka kuputuskan menyapu halaman saat ini turut mengisi jadwal aktifitas harianku, demi sebuah sapa dan senyum manis dari penghuni kontrakan baru itu.

Gejolak rasa yang indah ini begitu kunikmati. Pagi dan sore hari, jam dimana biasanya dia pergi dan pulang, aku sudah hafal betul. Dan aku akan menunggunya dengan melakukan aktifitas di teras, atau halaman, walau hanya sekedar membaca novel. Menjalani hariku terasa lebih bergairah dengan hadirnya pesona tetangga baru.

Aku selalu pada posisi siaga untuk menangkap lemparan senyum manis dan sapanya. Itu saja rasanya sudah cukup membuat hariku jadi lebih berwarna. Dan semua kebahagiaan itu akan kugoreskan pada lembar kertas buku harianku.

Sore ini, setelah menyegarkan tubuh dengan siraman air dan sabun beraroma mawar, aku duduk di teras berteman sebuah buku dan secangkir kopi.

Tidak menunggu lama, deru motor yang mulai akrab di telingaku terdengar. Benar saja, di kejauhan tampak motor lelaki berwajah indo itu tengah melaju ke arahku. Spontan hatiku melompat girang. Namun dia tidak sendiri, tampak kali ini dia membonceng seorang temannya.

Brrmmm… motor itu berlalu di depanku begitu saja, tanpa sapa, tanpa senyum. Hatiku kecut.

“Mengapa? Apa yang salah denganku? Kenapa dia tidak menyapa seperti biasanya?” kecamuk pertanyaan di benakku.

Mataku tak lepas memandanginya, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang tengah riuh menuntut jawaban. Kuamati mereka lekat-lekat sejak turun dari motornya.

Aku sedikit terkejut, ketika kulihat dia melepaskan helm temannya, hal tak biasa yang dilakukan seorang teman lelaki jika bukan pada lawan jenis, menurutku.

Kini mataku terbelalak saat dia merapikan rambut lelaki di hadapannya lembut, lalu mereka berbagi tatap. Sesaat kemudian tetangga baruku menggandeng tangan temannya untuk masuk ke dalam rumah.

#kamaksara
#TantanganMenulisKamaksara
#flash_fiction_kertas_hijau

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply