,

Tabir Rahasia

tabir rahasia

Melepas lelah setelah seharian penat di kantor, Andri merebahkan tubuhnya pada sofa depan televisi, tak lama kemudian istrinya datang membawakan secangkir kopi.

Hmmm ... aroma khas kopi hitam yang disukainya, disajikan khusus oleh wanita terkasih, lengkap dengan senyum dan tatapan penuh kasih sayang, sangat ampuh sebagai penghalau penat.

Aroma kopi mengingatkan Andri kembali pada seorang wanita berkaos jingga, yang bertemu di food court siang tadi. Jihan, wanita penikmat kopi yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu, sebelum bertemu Susi.

“Bu, tadi aku ketemu Jihan pas mau makan loh.” Andri membuka pembicaraan pada istrinya.

“Oh ya? gimana kabarnya?” Jantung Susi berdebar lebih cepat, sesaat mendengar nama Jihan disebut.

“Baik katanya, dia titip salam buat kamu.”

“Oh, terus kalian ngobrol apa aja?” Selidik Susi penuh rasa ingin tahu.

“Nggak sempet ngobrol banyak, cuma tanya kabar, terus dia titip salam buat kamu. Udah deh.” Terang Andri seraya mengangkat kedua alis tebalnya.

“Loh kok…?”

“Iya, dianya lagi terburu-buru. Mau ke sekolah anaknya, ada rapat.”

Susi lega mendengarnya. Walau bagaimana pun Jihan adalah bagian dari kisah masa lalu suaminya. Nama Jihan selalu mampu memacu  jantung Susi berdebar lebih cepat.

Alunan suara Ed Sheran dari ponsel Susi mengalun merdu. Susi segera mengambilnya dari atas bufet ruang tengah. Wajahnya pucat saat melihat nama yang terpampang pada layar. Susi bergegas menuju dapur, meninggalkan suaminya yang sedang beristirahat.

Dengan tangan gemetar, Susi mengangkat teleponnya.

"Halo ... Susi?" Sapa sebuah suara di seberang sana.

"Iya ..." jawab Susi lemah.

"Andri sudah bercerita sama kamu?"

"Iya, sudah."

"Sayang tadi aku sedang terburu-buru. Sehingga tak cukup waktu untuk menceritakan semuanya."

"Tolong ... tolong, jangan lakukan itu!" Mohon Susi dengan suara tertahan.

"Kenapa? kamu takut? kamu takut suamimu mengetahui rahasia busukmu, hah?" Suara di seberang telepon semakin meninggi. Susi menggigit bibir bawahnya, terdiam sesaat.

"Jihan, tolong maafkan aku. Dulu aku khilaf. Aku juga tak tahu jika Mas Sofyan adalah suamimu. Tolong maafkan aku! Jangan sampai Mas Andri tahu." Susi memohon dengan suara lirih.

Dadanya bergemuruh, berpacu hebat dengan segala kelebatan cemas di benak. Genangan hangat yang mendesak kelopak mata, sudah tak tertahankan lagi. Sesaat kemudian menitik, lalu menjelma aliran sungai yang menyusuri pipi.

Dari balik dinding dapur seorang lelaki tengah berdiri menajamkan telinga. Beribu tanya memenuhi kepala. Keningnya berkerut, tangan mengepal, dan jantung berdegup kencang.

#kamaksara
#TantanganMenulisKamaksara
#flash_fiction_ponsel_jingga

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply