,

Teka-Teki Firly

cerpen teka teki firly

Rintihan tangis samar-samar terdengar menerobos gendang telinga Firly, gadis itu membuka mata dan berulangkali mengerjapkannya, coba memastikan jika dirinya tidak sedang bermimpi. "Tapi siapa yang menangis? suara itu mirip suara Nenek, namun tidak mungkin nenek menangis. Selama mengenal beliau Firly tak pernah sekalipun melihat wanita itu menangis," bisik gadis berponi itu dalam hati.

Disibakkannya selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya, kedua kaki kurus itu menjejak di lantai yang dingin, kemudian melangkah ke luar kamar. Tirai kamar disingkapnya, tampak Kakek dan Nenek duduk berdampingan dengan wajah yang sama-sama sembab. Semua keluarga duduk berkumpul bersama Kakek dan Nenek, semua menekuk wajahnya yang basah oleh air mata dan sebagian masih terisak-isak.

"Firly, sini nak! sudah bangun sayang?" Tante Mila menghampiri kemudian memeluknya, disusul dengan ciuman pada hampir seluruh permukaan wajahnya.

Semua mata kini tertuju padanya, "Namun mengapa Nenek semakin keras tangisannya? apa yang salah dengan diriku?" Bocah itu terpaku dalam pertanyaan yang tak mampu dijawabnya.

"Yuk! mandi, terus makan dulu, ya!" Tangan mungilnya kini dalam genggaman Tante Mila, kemudian dibimbingnya menuju ke kamar mandi.

Saat Firly selesai mandi dan sarapan, rumah tampak semakin ramai. Satu persatu orang berdatangan, menghampiri dan memeluki nenek, wajah-wajah yang murung, sebagian tampak menangis, sebagian lagi entah asik membicarakan apa.

Saat langit semakin terang rumah semakin penuh oleh orang-orang yang terus berdatangan. Firly tak mengerti, "Ada keramaian apa ini? Mengapa orang-orang menangis, dan memeluki Nenek, juga dirinya?"

Rumah kian sesak dan panas, Firly memilih main di luar. Huffh, gerah! Lamat-lamat terdengar suara sirine dari jauh, satu persatu orang-orang menghambur ke luar. Firly lebih memilih melarikan diri bermain ke kebun jagung di dekat rumah, mengejar capung yang terbang di hadapannya.

Sebuah ambulan berhenti . Tangis orang-orang terdengar bersahutan dan semakin menjadi. Nenek memburu pintu ambulan dengan suara tangis yang semakin kencang.

“Liaaaa, Liaaaaa ... huhuhu ... kenapa kamu, Liaaaa? Kenapaaaaa? Siapa yang lakukan ini?” jerit nenek histeris.

Kakek memeluk, mencoba menenangkannya. Sesaat kemudian wanita itu rubuh, pingsan. Kakek dibantu beberapa tetangga membopongnya masuk ke dalam rumah. Suara-suara tangis, sedu sedan, dan wajah-wajah banjir air mata mendominasi pemandangan siang itu.

Beberapa pria menurunkan keranda dari ambulan dan membawanya masuk ke dalam rumah. Gadis kecil itu terpaku memperhatikan semua adegan dengan tanya di kepala.

“Firly... Firly... ” Terdengar suara Tante Mila yang tengah berjalan menuju ke arahnya seraya menyapukan pandangan ke sekitar. Firly segera berlari menghampiri.

“Sayang, dari mana kamu?” tangan tante Mila membelai rambut dan wajah Firly lembut, kemudian digendongnya gadis kecil itu, seraya dihujani ciuman dan dibawa kembali ke rumah.

Kakek menyambut Firly dari gendongan tante Mila, kemudian mendudukkan di pangkuannya.

“Firly, Mama sudah nggak ada, sekarang Firly sama Kakek dan Nenek saja, ya! ada Tante Mila yang akan menemani Firly dan Dion bermain.” Ujar Kakek lembut di telinga gadis kecil itu.

Tentu saja tante Mila yang akan menemani Firly bermain jika Mama sedang pergi seperti biasanya, karena Papa sudah lama tak pernah pulang lagi ke rumah.

“Mama tidak ada? Kenapa Mama belum pulang juga?” Bola mata Firly membulat menatap lurus kedua mata sang kakek. Tak ada jawaban dari mulut lelaki itu, hanya sebuah pelukan erat yang diberikannya. Firly ingat, kemarin siang Mama pamit pergi sebentar. Dan seperti biasanya, tak lupa mendaratkan ciuman di pipi dan keningnya, juga Dion.

Firly juga ingat, sebelum pergi mama membahas tentang ulang tahunnya, dan ulang tahun Dion. Mama mengingatkan tanggal ulang tahun anak-anaknya pada Kakek dan Nenek. Membayangkan ulang tahunnya yang akan dirayakan kembali bersama teman-teman nanti, Firly merasa senang.

Apalagi mama bilang sebentar lagi keinginannya untuk masuk Sekolah Dasar akan Mama penuhi, karena walaupun belum cukup usia, Firly sudah lancar membaca dan berhitung. Tentu temannya nanti bertambah banyak. Namun kenapa Kakek bilang Mama sudah tidak ada?

Beberapa menit saja gadis itu sudah merasa bosan duduk diam di pangkuan sang Kakek, kakinya melangkah menuju kerumunan orang-orang yang memenuhi halaman rumah.

Sepasang mata nanar tengah mengawasi gadis kecil itu dari salah satu sudut gang di seberang rumah, tangan kanannya dikepalkan, kemudian dimasukan ke dalam saku celana hitamnya yang telah lusuh. Seuntai benda berkilau kini telah berpindah dari genggaman ke dalam saku celana lelaki bermata cekung itu.

 

4 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply