Posts

puisi

Melesap, hirap, diantara partikel udara

Senak menghantar dengan lambaian

Rasa yang melahirkan asa, kini tiada

Perapuh hati tak hendak kembali

Tetes darah terhenti

Melenggang lempang tak mesti peduli

 

Baca juga puisi Ornamen Senja

 

 

senja

Semburat jingga menyambut senja

Lukisan asa menghias cakrawala

Menyemai benih dalam hembusan angin

Berharap bekal cawis sudah

Saat tiba masa, lelap di peraduan

 

Baca juga puisi Haiku

 

Bergulung ombak rindu
Hanyutkan diri pada samudera kenangan
Mohon jangan tenggelamkan
Hempaskanlah kembali pada karang kenyataan
Tiada karang yang mulus
Namun di atas karang diri nyata berpijak

 

Baca juga puisi Rindu

 

asa

Diam bersedekap
Coba mengurai makna sebuah tatap
Dengan asa yang masih tergenggam
Walau tak lagi erat

 

Baca juga puisi Manusia Iblis

puisi manusia iblis

Ketika hati telah membesi
Tetesan air pun hanya menghiaskan karat di sana
Menjadi jagal atas jiwa sesama
Sang iblis pun geleng kepala
Tawa bahagia menggema
Tak dinyana banyak manusia yang lebih iblis darinya

 

Baca juga Rajutan

puisi rindu

Berpayung rindu
Diantara hujan yang syahdu
Menatap kenanganmu
Dibalik tabir nan kukuh
Merapal do’a tuk memelukmu

(miss you Ma…Pa…)

 

Baca juga puisi Asa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

puisi mutiaraku

Ada air di kananku
Ada api di kiriku
Dengan butir mutiara dalam genggamku
Kubasuh dengan airku Read more

puisi rajutan

Ketika membuat sebuah rajutan
Tangan kanan dan kiri bekerja sama untuk menghasilkan karya yang indah
Harmonisasi gerakan tercipta untuk mencapai satu tujuan Read more

puisi hangatmu

Gemericik hujan nan sendu di sore ini
Udara dingin melesak menembus pori
Hingga kau hadir menghampiri
Baringkan tubuhmu diatas raga ini
Hangat tubuhmu nyaman menjalari
Tetaplah di sini, biar kudekap lebih erat lagi
Kuingin hangatmu menghalau dingin ini Read more

untuk sahabat tersayang

 

Kutatap wajahmu dalam
Ada yang lain di sana, wajah itu kini pancarkan keteduhan
Tiada lagi nyala api yang dulu kerap berpijar
Kini api telah memudar
Tak ada lagi bulir bening yang melukiskan kegalauan
Kini telah berganti senyuman Read more

malam pekat

Malam kian pekat
Kelopak mata terasa kian berat
Menanti sebuah ide hadir berkelebat
Namun ide tak kunjung mendekat
Kini apa yang harus ku buat
Perlahan kelopak mata mulai merapat
Tubuh pun terasa semakin penat
Kuraih guling dan kupeluk erat
Kututup tulisan ini dengan kata ‘tamat’

menuju tempat berlabuh

Setelah sekian lama ku berlayar
Mengarungi laut hingga samudera
Terhempas ombak dan badai
Terapung di tengah lautan
Lalui gelap dan dinginnya malam, teriknya mentari
Mengikuti kemana angin berhembus
Berjuang melawan badai
Dan sesekali terhempas bahkan tenggelam Read more