,

Milikmu Milikku

facebook

"Sayang, ayo tidur, sudah malam."

"Iya, sebentar lagi." Read more

,

Wusss

puisi

Melesap, hirap, diantara partikel udara

Senak menghantar dengan lambaian

Rasa yang melahirkan asa, kini tiada

Perapuh hati tak hendak kembali

Tetes darah terhenti

Melenggang lempang tak mesti peduli

 

Baca juga puisi Ornamen Senja

 

 

,

Ornamen Senja

senja

Semburat jingga menyambut senja

Lukisan asa menghias cakrawala

Menyemai benih dalam hembusan angin

Berharap bekal cawis sudah

Saat tiba masa, lelap di peraduan

 

Baca juga puisi Haiku

 

,

Teka-Teki Firly

cerpen teka teki firly

Rintihan tangis samar-samar terdengar menerobos gendang telinga Firly, gadis itu membuka mata dan berulangkali mengerjapkannya, coba memastikan jika dirinya tidak sedang bermimpi. "Tapi siapa yang menangis? suara itu mirip suara Nenek, namun tidak mungkin nenek menangis. Selama mengenal beliau Firly tak pernah sekalipun melihat wanita itu menangis," bisik gadis berponi itu dalam hati. Read more

,

Mata Elang Itu

"Kiri...!" teriak Ersa. Komando khas penumpang angkutan umum pada Pak sopir agar segera berhenti. Kedua kakinya bergegas menuruni angkot, menyerahkan ongkos pada sang pengemudi dan bersiap mengambil langkah seribu memburu gerbang sekolah yang beberapa menit lagi akan segera ditutup. Read more

,

Nahas

cerpen nahas

"Bruuuuk!"

Nahas, tiba-tiba kayu jati berbentuk persegi panjang itu menghajar tubuh ringkihku. Aku terhuyung, tubuhku terjungkal, kemudian meluncur dan mendarat keras dengan posisi kepala terlebih dahulu.
Read more

,

Haiku

haiku

Sapa mentari
Cairkan kebekuan
Asa menanti

.

Pagi yang dingin
Rindu hangat senyummu
Cinta membara

.

Mentari pagi
Lukis cita dan cinta
Alhamdulillah

.

Subuh nan sejuk
Gema kumandang adzan
Menghadap Rabbku

#HAIKU

 

Baca juga puisi Lelaki Cinta Pertamaku

,

Mari Berbagi

mari berbagi

Ayah pulang membawakan boneka baru. Tania yang sedang bermain bersama Keke, segera memburu dengan penuh suka cita. Read more

,

Sesal

sesal

Sepi ini menyiksaku begitu keji, di hari tuaku kini, tak seorang pun di sampingku untuk menemani. Desakan air mata tak mampu lagi dibendung kelopak mata tuaku, air mata penyesalan, karena kini aku baru mengerti arti sebuah kehilangan. Read more