,

Kamu... (2)

Cerber Kamu

Andri merebahkan tubuhnya pada sofa di depan televisi, tak berapa lama istrinya datang dengan secangkir kopi. Hmmm... aroma khas kopi hitam yang menggelitik hidungnya ini  selalu berhasil kembalikan semangatnya setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor, terlebih secangkir kopi ini dibuat dan disajikan khusus oleh wanita tercinta, lengkap dengan senyum manis dan tatapan penuh kasih sayang. Seketika segala rasa lelah terasa sirna. Read more

,

Kamu... (1)

Cerber Kamu

Setelah meyeruput sisa minumannya, Jihan segera beranjak dari tempat duduk, teringat undangan rapat di sekolah putra bungsunya yang akan segera dimulai dalam waktu 30 menit lagi.

Terdengar sebuah suara memanggil namanya. Mata Jihan menyapu ruangan, mencari si pemilik suara itu. Tampak seorang pria tengah tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ah... Mas Andri.  Jihan pun balas tersenyum, sekejap ingatannya melayang kembali pada masa beberapa tahun yang lalu, saat lelaki itu turut mewarnai hari-harinya.Dan kenangan itu masih tersimpan rapi di salah satu sudut hatinya. Read more

,

Sebut Saja Namanya Ijah 2

cerber sebut saja namanya ijah

"Ayah, bunda izinkan ayah menikahi Mimin, hanya jika dia sudah berhenti dari pekerjaannya." Hampir tak percaya pada dirinya sendiri, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Ijah.

Gurat bahagia terpancar dari wajah Wawan, tak disangka-sangka akan semudah itu Ijah mengijinkannya berpoligami. Read more

,

Sebut Saja Namanya Ijah

cerber sebut saja namanya ijah

Sebut saja namanya Ijah, seorang wanita yang begitu mencintai suaminya. Wawan, pria yang telah menikahi Ijah sejak 10 tahun silam. Tak pernah mampu nampak setitik pun noda dalam diri Wawan di pandangan Ijah, kekhilafan Wawan pun tak pernah menjadikannya tampak salah, Wawan terlalu sempurna sebagai seorang suami untuk menjadi bersalah di mata Ijah, karena Wawan adalah pahlawan penyelamat bagi Ijah dan putri kesayangannya. Read more