Waktu sudah menunjukkan pukul 03.35, namun kedua mata Rista belum kunjung mendapatkan haknya untuk terpejam. Ini hari ke 2 pangeran kecil kesayangannya masih belum mau memejamkan mata. Sesekali kelopak matanya coba mencuri lelap dalam perlawanan pada kantuknya. Namun suara si kecil bagaikan alarm yang selalu siap kembalikan siaganya. Read more

dear little sister

Mama pulang dengan membawa makhluk mungil dalam gendongan, seperti saat aku tengah bermain ibu-ibuan bersama boneka kesayangan. Tapi boneka ini nyata, dia menangis tanpa perlu kuputar tombol di punggungnya. Aku bahagia… aku bahagiaaa. Mama papa sudah wujudkan apa yang kuminta. Read more

cerpen don't touch

12. 43 angka yang tertera di ponselku. Kami pun memutuskan untuk mampir ke salah satu restoran fast food di sudut jalan yang kami lalui. Dia berjalan di sampingku, pandangannya lurus ke depan, dengan kaki dan tangan yang terayun santai. Kuraih satu tangannya agar kami jalan bergandengan. Read more

cerpen 18 tahun

“Kemarin aku minta uang buat beli makanan, aku lagi sakit nggak bisa jualan. Dia baru gajian. Tapi dia malah marah membentakku.” tuturnya lirih. Tampak air menggenang di kedua sudut matanya, bibirnya bergetar, kemudian dikatupkannya, seolah tengah berusaha menahan lesakan rasa perih dari dalam hatinya.

Read more

cerpen pensil terhunus

Matanya sesekali terpejam, mencoba untuk mengingat baris demi baris bait puisi yang tertulis di halaman buku itu. Riuh suara gumaman teman-teman yang juga sedang menghafal, selalu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Namun Arib tidak menyerah, sekuat tenaga dia terus berusaha fokuskan pikirannya. Read more

kejutan tak terlupakan

“Jangan lupa bawain oleh-oleh ya!” pesan Reina pada Yuda melalui video call di smartphonenya.

“Tar, kalo ada sisa duit. Oleh-oleh apa? cireng ya? hahaha…” jawab Yuda diikuti tawanya.

“Ogah ah, lo mah tawarannya ga jauh dari cireng ma cimol aja, yang kerenan dikit napa?” balas Reina sambil sedikit memonyongkan bibirnya.

“Dah jelek makin jelek aja kalo monyong-monyong gitu Ren,” ejek Yoga dengan mencibir. Read more

bahagia itu sederhana

Chika begitu bersemangat hari ini, ya… tentu saja ini adalah hari istimewa buatnya karena sesuatu yang istimewa dan amat dinanti akan didapatkannya.

Chika tidak mau hari ini menjadi rusak karena satu kesalahan kecil saja darinya. Setelah satu minggu penuh perjuangan untuk mendapatkannya, hari ini Chika ingin semua berjalan dengan sempurna. Read more

kami yang tersingkir

Aku terlahir ke dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, bukan aku yang meminta. Ibu merawatku hanya sampai aku cukup usia tuk mampu berjuang sendiri. Karena masih ada adik-adik yang harus diurusi. Read more

cerpen dibully kaos kaki

Panik… panik… panik… jarum pendek jam di dinding sudah hampir sejajar di angka 7, tak bisa kuharapkan lagi. Hanya jarum panjang saja yang masih sudi memberiku harapan dengan masih menjaga jaraknya 5 angka dari angka 12.

Kaos kakiku masih belum kutemukan, tampaknya mereka sedang mengajakku bermain petak umpet dengan bersembunyi diantara gundukan pakaian bersih dan pakaian kotor, atau bersembunyi nyempil di antara deretan sepatu di rak. Read more

sarung tinju tanpa restu

“Kiri!”
Seru Dito ketika angkot yang ditumpanginya sudah sampai di depan pertigaan menuju rumahnya. Bergegas Dito berjalan menuju rumah dengan perasaan bahagia, karena Dito punya kebahagiaan yang ingin dibagi dengan keluarga tersayang di rumah.

“Assalamu’alaykum…”
Tangan Dito segera menggerakkan gagang pintu dan membukanya, tampak Doni yang sedang asik bermain game di meja komputer, dia hanya menoleh pada abangnya sambil menjawab perlahan “Wa’alaykumsalam” Read more