,

Pensil Terhunus

cerpen pensil terhunus

Matanya sesekali terpejam, mencoba untuk mengingat baris demi baris bait puisi yang tertulis di halaman buku itu. Riuh suara gumaman teman-teman yang juga sedang menghafal, selalu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Namun Arib tidak menyerah, sekuat tenaga dia terus berusaha fokuskan pikirannya. Read more

,

Kejutan Tak Terlupakan

kejutan tak terlupakan

"Jangan lupa bawain oleh-oleh ya!" pesan Reina pada Yuda melalui video call di smartphonenya.

"Tar, kalo ada sisa duit. Oleh-oleh apa? cireng ya? hahaha..." jawab Yuda diikuti tawanya.

"Ogah ah, lo mah tawarannya ga jauh dari cireng ma cimol aja, yang kerenan dikit napa?" balas Reina sambil sedikit memonyongkan bibirnya.

"Dah jelek makin jelek aja kalo monyong-monyong gitu Ren," ejek Yoga dengan mencibir. Read more

,

Bahagia Itu Sederhana

bahagia itu sederhana

Chika begitu bersemangat hari ini, ya... tentu saja ini adalah hari istimewa buatnya karena sesuatu yang istimewa dan amat dinanti akan didapatkannya.

Chika tidak mau hari ini menjadi rusak karena satu kesalahan kecil saja darinya. Setelah satu minggu penuh perjuangan untuk mendapatkannya, hari ini Chika ingin semua berjalan dengan sempurna. Read more

,

Kami yang Tersingkir

kami yang tersingkir

Aku terlahir ke dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, bukan aku yang meminta. Ibu merawatku hanya sampai aku cukup usia tuk mampu berjuang sendiri. Karena masih ada adik-adik yang harus diurusi. Read more

,

Dibully Kaos Kaki

cerpen dibully kaos kaki

Panik... panik... panik... jarum pendek jam di dinding sudah hampir sejajar di angka 7, tak bisa kuharapkan lagi. Hanya jarum panjang saja yang masih sudi memberiku harapan dengan masih menjaga jaraknya 5 angka dari angka 12.

Kaos kakiku masih belum kutemukan, tampaknya mereka sedang mengajakku bermain petak umpet dengan bersembunyi diantara gundukan pakaian bersih dan pakaian kotor, atau bersembunyi nyempil di antara deretan sepatu di rak. Read more

,

Sarung Tinju Tanpa Restu

sarung tinju tanpa restu

“Kiri!”
Seru Dito ketika angkot yang ditumpanginya sudah sampai di depan pertigaan menuju rumahnya. Bergegas Dito berjalan menuju rumah dengan perasaan bahagia, karena Dito punya kebahagiaan yang ingin dibagi dengan keluarga tersayang di rumah.

“Assalamu’alaykum…”
Tangan Dito segera menggerakkan gagang pintu dan membukanya, tampak Doni yang sedang asik bermain game di meja komputer, dia hanya menoleh pada abangnya sambil menjawab perlahan “Wa’alaykumsalam” Read more